AYOBANDUNG.ID — Di antara tiga unit usaha unggulan BUMDes Marga Makmur, satu di antaranya tidak menghasilkan buah atau daging. Tidak ada lahan yang perlu disiram seperti melon premium, tidak ada ternak yang perlu diberi pakan seperti ayam kampung. Akan tetapi unit inilah yang bekerja di momen krusial, melayani kebutuhan warga yang paling mendasar: akses terhadap layanan keuangan.
Berkat keberadaan BRILink BUMDes Marga Makmur, alhasil kantor Desa Margamukti, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, bukan sekadar tempat mengurus administrasi kependudukan. Tempat ini juga menjadi titik perputaran ekonomi bagi warganya, lebih juga dari transaksi keuangan.
Untuk memahami mengapa BRILink di Margamukti bekerja dengan cara yang berbeda, perlu dipahami dulu bagaimana BUMDes Marga Makmur membangun dirinya dari dalam.
Iman Romansyah, Kaur Tata Usaha dan Umum sekaligus Koordinator BUMDes Marga Makmur, menjelaskan bahwa rekrutmen karyawan BUMDes bukan perkara nepotisme atau kedekatan personal.
"BUMDes ini karyawan yang diambil berdasarkan desil, berdasarkan tingkatan ekonomi. Kecuali untuk jabatan strategis, kebanyakan karyawannya diambil secara level teknis berasal dari kategori sangat miskin, yang aktif, dan punya jiwa usaha, tetapi dia belum punya akses permodalan. Jadi tidak serta hanya karena kenal atau saudara jadi pegawai di sini, itu tidak terjadi," buka Iman kepada Ayobandung.id, (22/5/2026).
Sistem rekrutmen ini bukan tanpa perhitungan. Ada KPI desa yang menjadi landasan keputusan tersebut.
"Pertimbangan merekrut karyawan berdasarkan desil itu salah satu tujuannya untuk KPI desa, terkhusus Indeks Desa Membangun. Otomatis kami harus mengurangi taraf hidup masyarakat, harus mengurangi jumlah masyarakat tidak mampu, misal dari yang sebelumnya sangat miskin, setelah bekerja, menjadi naik ke level di atasnya. Karena mereka jadi punya penghasilan yang nyata," sambungnya.
Dan hasilnya bukan sekadar klaim. Berkat metode perekrutan yang brilian itu, Desa Margamukti mendapatkan pengakuan dari pemerintah.
"Keberhasilan kami meningkatkan kesejahteraan masyarakat ini sudah terbukti selama tiga tahun dan dibuktikan dengan mendapatkan penghargaan SAKIP empat kali berturut-turut. SAKIP ini merupakan penghargaan yang penilaiannya kompleks dengan berbagai penilaian yang nyata dan bukan sekadar seremoni sesaat. Lelahnya memang lebih terasa untuk mendapatkan penghargaan ini, tetapi semua itu terbayar karena kesejahteraan masyarakat juga memang mengalami peningkatan," kata Iman.
Konteks SAKIP di Kabupaten Sumedang memang bukan penghargaan ringan. Implementasi SAKIP Desa yang dilakukan secara elektronik memacu pengelolaan anggaran desa menjadi berbasis kinerja dan berorientasi hasil, diberlakukan di seluruh 270 desa se-Kabupaten Sumedang, dengan tiga indikator utama: penurunan angka kemiskinan, penurunan stunting, dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Meraihnya empat kali berturut-turut bukan hal yang mudah.
BRILink, Syarat yang Menjadi Berkah
Menjadi Agen BRILink adalah salah satu kewajiban administratif dalam program Desa BRILiaN. Di Margamukti pun demikian.
"Untuk BRILink ada di bawah naungan BUMDes, tempatnya pun ada di kantor desa. Karena Margamukti merupakan Desa BRILiaN, keberadaan BRILink pun menjadi syarat bagi kami," jelas Iman.
Hal itu sesuai ketentuan resmi program. Salah satu syarat wajib untuk mengikuti Program Desa BRILiaN adalah BUMDesa dan/atau Koperasi Desa Merah Putih memiliki unit usaha yang aktif dan produktif serta bersedia menjadi Agen BRILink.
Namun yang membedakan Margamukti adalah kesadaran bahwa BUMDes tidak boleh mematikan ruang hidup warganya sendiri. Inilah yang membuat eksistensi BRILink jadi punya perbedaan, ada peran yang saling melengkapi antara kantor desa dan warga.
"Meskipun secara fungsi BRILink di BUMDes Marga Makmur ini punya fitur-fitur yang sama sebagaimana BRILink lain, tetapi kami menetapkan aturan yang jangan sampai menyaingi apalagi mematikan usaha warga. Oleh karena itu, BRILink di bawah naungan BUMDes ini berfokus pada transaksi besar dalam penyaluran dana sosial untuk warga, seperti PKH dan BPNT," lanjut Iman.
Pembagian peran itu diterapkan secara sadar dan konsisten, agar kantor desa punya peran saling melengkapi dengan warga.
"Karena warga di sini juga ada yang mengelola BRILink, nah untuk transaksi kecil harian biar jadi rezeki mereka. Sementara kami fokus pada transaksi besar, seperti program pemerintah, yang tidak mungkin dikelola oleh warga," imbuhnya.
Fokus BRILink BUMDes Marga Makmur pada penyaluran PKH dan BPNT bukan pilihan yang sembarangan. Di desa dengan populasi sekitar 216 jiwa ini, akses terhadap bantuan sosial adalah kebutuhan nyata; dan kehadiran agen di kantor desa memangkas jarak yang selama ini menjadi hambatan bagi kelompok paling rentan.
Berkat BRILink berada di kantor desa dan dikelola langsung oleh BUMDes, penyaluran bantuan sosial menjadi lebih terkontrol, tercatat, dan mudah diakses. Terutama bagi warga lansia dan keluarga prasejahtera yang menjadi penerima manfaat utama program PKH dan BPNT.

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung (Region 9), menggambarkan filosofi yang mendasari kehadiran BRILink di titik-titik seperti ini.
"Agen BRILink adalah garda terdepan inklusi keuangan BRI. Mereka hadir di titik-titik yang belum terjangkau kantor cabang konvensional, atau yang kerap kami sebut sebagai blank spot layanan perbankan. Kekuatan model ini terletak pada kedekatan: Agen BRILink umumnya adalah warga setempat yang dikenal komunitasnya, sehingga edukasi keuangan dapat berlangsung secara alami sebagai bagian dari interaksi sehari-hari," papar dewi dalam pernyataan resminya.
Sinergi Saling Menguatkan
Di balik keberhasilan yang sudah terukur, Iman tidak menyembunyikan harapannya untuk langkah yang lebih jauh, termasuk terhadap BRI.
"Program Desa BRILiaN ini bagus sekali sebetulnya, dengan syarat kami harus mengelola BRILink juga banyak manfaatnya bagi warga desa, seperti disebutkan tadi bersinergi dengan penyaluran bantuan sosial. Oleh karena itu kami berharap program-program ini bisa mengajak BRI untuk lebih aktif bekerja sama dengan kami, apalagi di masa efisiensi saat ini, kehadiran BUMN yang ada di atas BUMD dan BUMDes akan sangat berarti jika lebih sering memberikan aksi nyata secara berkelanjutan," harap Iman
Harapan itu sejatinya selaras dengan visi yang sudah dicanangkan BRI sendiri. Dewi Hestiningrum menegaskan bahwa keberlanjutan adalah inti dari program ini.
"Kunci keberlanjutan ada pada pendampingan yang konsisten. Kami menugaskan Mantri BRI sebagai pendamping yang secara rutin mendampingi desa dalam pengelolaan keuangan, akses pembiayaan, dan literasi perbankan. Selain itu, kami menyediakan pelatihan lanjutan, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta menghubungkan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik melalui pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI. Dengan begitu, Desa BRILian tidak berhenti pada level binaan, tetapi bertumbuh menjadi sentra ekonomi yang mandiri," sambung Dewi.
Pernyataan Dewi dan harapan Iman menunjuk ke arah yang sama: program yang baik membutuhkan kehadiran yang konsisten, bukan hanya pada saat kompetisi berlangsung.

***
BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan: tidak tamak, tidak kompetitif terhadap sesama warga, dan selalu mempertanyakan “siapa yang paling membutuhkan, dan bagaimana kita bisa melayaninya tanpa merugikan yang lain?”.
Melon dijual ke pasar modern. Ayam kampung diminati konsumen lokal hingga luar desa. Lantas BRILink? Memastikan uang bantuan pemerintah sampai ke tangan yang tepat, di tempat yang paling mudah dijangkau.
"Kami ingin desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang aktif, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat," pungkas Dewi.
Di Margamukti, kalimat tersebut bukanlah retorika. Programnya sedang dikerjakan. Bersinergi. (*)