Ayo Biz

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Oleh: Aris Abdulsalam
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)

AYOBANDUNG.ID – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak selalu menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menghasilkan bahan pangan sendiri. Di RW 03, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, area terbatas di tengah permukiman dimanfaatkan menjadi kebun yang ditanami sayuran, buah-buahan, hingga tanaman herbal.

Kebun yang dikelola bersama masyarakat melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Buruan Sae Pajajaran Hegar tersebut menjadi salah satu lokasi pengembangan program BRI Bertani di Kota (BRInita) yang dijalankan BRI Peduli.

Pemanfaatan lahan ini menjadi contoh praktik pertanian perkotaan atau urban farming. Dengan mengoptimalkan ruang yang tersedia, warga tidak hanya memperoleh sumber pangan, tetapi juga membangun kegiatan produktif berbasis lingkungan tempat tinggal.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

Dalam kunjungan tersebut, para jurnalis turut mengikuti aktivitas berkebun bersama masyarakat. Mulai dari menyemai benih, menanam bibit, menyiram tanaman, hingga memanen hasil kebun.

Puluhan Jenis Tanaman di Lahan Terbatas

Kawasan Buruan Sae Pajajaran Hegar memanfaatkan area dengan panjang sekitar 60 meter dan lebar 5 meter. Meski berada di tengah permukiman, lahan tersebut mampu menampung beragam komoditas pertanian.

Setidaknya terdapat 14 jenis sayuran dan umbi yang dibudidayakan. Beberapa di antaranya terong, pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, sawi romaine, kacang merah, buncis kenya, paria, katuk, ubi jalar, dan ubi yakon.

Selain sayuran, warga juga menanam delapan jenis buah-buahan, yakni jeruk sambal, jeruk angka 8, jambu batu, jambu air, sawo, lengkeng, belimbing, dan pisang.

Adapun tanaman herbal dan rempah yang dikembangkan meliputi cengkeh, sirih, lidah buaya, pandan, daun salam, serai, kunyit, serta jahe.

Hasil panen dari kebun tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Sebagian hasilnya juga mendukung kegiatan sosial di lingkungan sekitar, termasuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita melalui Posyandu serta masyarakat lanjut usia.

Dengan pola pengelolaan bersama, kebun ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat bercocok tanam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya warga membangun ketersediaan pangan di tingkat komunitas.

Bantuan Sarana hingga Pengembangan Produk Olahan

Pengembangan kebun Buruan Sae Pajajaran Hegar mendapatkan dukungan sarana pertanian dari BRI Peduli secara bertahap sepanjang 2025–2026.

Pada 2025, terdapat 16 jenis bantuan yang disalurkan. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan infrastruktur kebun, media tanam, pupuk, bibit, pot tanaman, hingga peralatan berkebun.

Sejumlah perlengkapan yang diberikan antara lain 200 tanaman siap tanam, 250 pot tanaman, benih kangkung, pupuk, tandon air berkapasitas 500 liter, instalasi penyiraman tetes, serta berbagai peralatan kebun.

Pengembangan kebun vertikal atau vertical garden juga mendapat dukungan berupa 3.460 pot dan bibit tanaman beserta teralis pendukung.

Dukungan berlanjut pada 2026 dengan penyaluran 28 jenis barang dan perlengkapan. Di antaranya polybag, pot, tray semai, bibit sayuran, serta perlengkapan pemeliharaan tanaman dan pengelolaan sampah.

Untuk mendukung pertanian terpadu, bantuan juga mencakup bibit pakcoy, sawi, kangkung, perlengkapan budidaya ikan dalam ember (budikdamber), serta 200 bibit lele.

Pada sisi pengolahan hasil, dukungan diberikan dalam bentuk pengembangan kemasan produk. Beberapa produk olahan yang dikembangkan masyarakat di antaranya minuman bunga telang dan cheese stick pakcoy.

Tidak Hanya Bertani, Warga Juga Mendapat Pelatihan

Pengembangan urban farming di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan sarana dan perlengkapan. Peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola kebun juga menjadi bagian dari kegiatan pemberdayaan.

Melalui pendampingan dan pelatihan, warga memperoleh pengetahuan mengenai teknik budidaya tanaman serta perawatan lahan agar dapat dikelola secara mandiri. Edukasi mengenai budidaya buah-buahan turut diberikan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menghasilkan komoditas pertanian yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan panen raya juga menjadi salah satu bagian dari aktivitas bersama masyarakat. Selain menikmati hasil kebun, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat interaksi, gotong royong, dan kepedulian terhadap ketahanan pangan di lingkungan sekitar.

Pertanian Perkotaan dan Pengelolaan Sampah

Keberadaan kebun di tengah permukiman turut memberikan manfaat terhadap kondisi lingkungan. Tanaman yang dibudidayakan menambah ruang hijau sekaligus membuat kawasan tempat tinggal lebih asri.

Pengelolaan limbah organik juga menjadi bagian dari praktik pertanian yang dikembangkan dalam program BRInita. Di sejumlah lokasi pelaksanaan program, masyarakat mengolah limbah menjadi pupuk organik cair, eco enzyme, serta produk turunan pupuk.

Selain itu, terdapat pengembangan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu pendekatan pemanfaatan sampah organik rumah tangga.

Praktik tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pertanian perkotaan dan pengelolaan sampah. Limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang berguna bagi kegiatan budidaya.

Secara lebih luas, BRInita juga dikaitkan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Aspek yang didukung meliputi ketahanan pangan, kehidupan sehat dan sejahtera, pemberdayaan perempuan, pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.

Program tersebut juga sejalan dengan Asta Cita Pemerintah, terutama terkait kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan pengembangan ekonomi hijau berbasis pemberdayaan masyarakat.

Menjangkau 16 Provinsi, Hasil Panen Tembus Rp914,5 Juta

Sejak mulai dijalankan pada 2021, program BRInita telah berkembang di 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office dan 16 provinsi.

Berdasarkan data capaian program sepanjang 2021–2026, BRInita telah menjangkau 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung.

Dari kegiatan pertanian yang dijalankan, program ini menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayuran dan buah-buahan dengan nilai sekitar Rp914,5 juta. Sementara itu, hasil dari sektor perikanan tercatat mencapai 4,7 ton dengan nilai sekitar Rp56,5 juta.

Pengembangan kegiatan produktif juga terlihat dari hadirnya 70 produk olahan turunan. Pendapatan kelompok dari produk tersebut bahkan mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan.

Untuk memperkuat kemampuan masyarakat, tercatat sebanyak 62 sesi pelatihan telah diselenggarakan. Materinya mencakup urban farming, pengelolaan sampah organik, hingga pengembangan produk olahan.

Dari sisi lingkungan, BRInita telah menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan total luas sekitar 4.000 meter persegi. Program ini juga mencatat pengolahan 4,7 ton limbah organik yang menghasilkan lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair.

Adapun efisiensi emisi gas rumah kaca yang tercatat mencapai 792,63 kilogram CO2-eq. Di bidang kesehatan dan pemenuhan gizi, program tersebut turut mendukung penyediaan makanan sehat berbahan sayuran dan buah-buahan bagi 31 balita.

Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pertanian di tengah kota dapat dikembangkan melampaui aktivitas bercocok tanam. Pengelolaan lahan bersama masyarakat berpotensi menghubungkan kebutuhan pangan, kesehatan, lingkungan, dan kegiatan ekonomi dalam satu ekosistem komunitas. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam