Asap tipis mengepul, membawa aroma harum bakaran sate yang khas dengan bumbu kacang dan aroma daging bakar di atas bara api, mengunggah rasa lapar dan penasaran pada Sabtu (01/11/2025). Siapa saja yang mencium aromanya tergoda untuk membeli di kedai tenda Sate Jando Gasibu di Jalan Cilaki, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung
Muhammad Rehman Bukasiganda, selaku anak dari pemilik usaha Sate Jando Gasibu, menjelaskan asal-usul dan keunikan dari sate jando ini.
“Sate Jando itu makanan khas Bandung, jando itu payudara sapi, jadi bukan lemak ya, jadi teksturnya unik dan berbeda," ujarnya.
Usaha penjualan Sate Jando Gasibu ini telah berjalan hampir tiga tahun dengan berbagai varian produk yang disajikan, tidak hanya sate jando, tapi juga sate ayam dan sate sapi. Harga per porsi beragam, mulai dari sate jando Rp25.000 sudah termasuk dengan lontong, sate ayam Rp25.000 sudah termasuk dengan lontong, sate sapi Rp35.000 sudah termasuk dengan lontong dan tersedia paket campur tiga jenis sate dengan harga Rp30.000.
Kunci dalam mempertahankan pelanggan yaitu menjaga kualitas menjadi prioritas utama.
"Kami selalu menggunakan sate yang baru dan bumbu yang fresh. Bumbu kacang yang kami memilih harga yang tinggi dan berkualitas sehingga rasa sate lebih enak," kata pria berkaus hitam. Ia juga mengaku menggunakan impor bahan jando untuk memastikan kualitas terbaik.

Sate Jando Gasibu ini menjadi viral di berbagai media sosial seperti TikTok, Facebook, dan Instagram karena keunikan bahan dasarnya yang tak biasa. Sate Jando terbuat dari payudara sapi ini yang membuat berbeda dari sate yang lain, sehingga memberikan tekstur yang lumer berbeda dengan lemak dan tidak meninggalkan aftertaste aneh di lidah ketidak sudah selesai dimakan.
Popularitas dari Sate Jando Gasibu ini terbukti dari jumlah bahan baku yang dihabiskan sehari-hari bisa menghabiskan sekitar 15 hingga 20 kilogram payudara sapi impor berkualitas untuk memenuhi pesanan para pelanggan yang terus meningkat.
Selain melayani pembelian biasa, kedai Sate Jando Gasibu pernah menerima pesanan besar untuk event-event khusus sebanyak 2000 porsi untuk sebuah acara di Trans, ini membuktikan bahwa Sate Jando semakin diminati oleh kalangan luas.
Seperti usaha kuliner pinggir jalan lainnya, tantangan pun kerap dihadapi, terutama soal cuaca dan ketidakpastian jumlah pembeli.
“Tantangan terbesarnya kadang ramai yang beli pada saat weekend, kadang jarang ada yang beli pada saat weekday. Ketika sedang hujan, saya kasihan melihat pelanggan kebasahan karena kurang ada tempat untuk berteduh ketika sedang makan,” keluhnya.
Meski sudah cukup dikenal luas, usaha kedai Sate Jando Gasibu ini tidak berpuas diri pemilik usaha memiliki rencana pengembangan bisnis, termasuk membuka cabang baru. Lokasi cabang tersebut masih dalam tahap pencarian, namun semangat untuk mengembangkan usaha tetap tinggi sebagai bentuk komitmen menghadirkan kuliner khas Bandung kepada lebih banyak pelanggan. (*)