Suasana pertunjukan silat dengan warga lokal di Kasepuhan Bunisari yang menjadi salah satu bagian adat istiadat di desa tersebut, 08 November 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis) (Foto: Rinjani Kalila Syarief)

Ayo Netizen

Desa di Cilengkrang yang Hidup dari Napas Adat dan Kearifan Leluhur

Rabu 26 Nov 2025, 11:51 WIB

Di kaki perbukitan Cilengkrang, menyimpan jejak budaya dan kehangatan tradisi dengan dimanjakan kesejukan alam. Menghadirkan napas tradisi Sunda di pedesaan, dengan dihadirkan antusiasme masyarakat di Desa Kasepuhan Bunisari, Kampung Bunisari RT 01 / RW 10, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Dahulu, kegiatan adat di desa ini sederhana. Masyarakat dahulu membuat upacara adat dan tumpengan di setiap bulan purnama dengan warga Desa Girimekar. Doa bersama juga dilakukan sebagai wujud syukur atas panen dan rezeki yang datang.

Dari yang hanya kumpul melakukan tumpengan dengan warga desa, perlahan menjadi kegiatan yang dikenal sebagai Nyawang Bulan. Sebuah adat dan perayaan budaya masyarakat Desa Girimekar yang menggabungkan pasar tradisional dan kesenian tradisional.

Rahmat Uyep, salah satu Ketua RT di Desa Girimekar, mengatakan bahwa Nyawang Bulan sendiri awalnya dibentuk sebagai tradisi di desa saja, tidak terpikirkan nya untuk membawa ke media sosial atau masyarakat luar.

“Karena sudah berkembang di dunia modern jadilah dibuat Nyawang Bulan ini. Ga cuma warga desa sini saja yang bisa hadir, tetapi masyarakat luar pun bisa menyaksikan tradisi kami” ujarnya. Sabtu (08/10/25).

Nyawang Bulan ini merupakan tradisi adat dengan berkonsep budaya di desa Girimekar yang dipadukan pertunjukan tradisional dengan pasar tradisional.

“Nyawang bulan sendiri itu kalo di bahasa sunda diartikan sebagai Menyambut Bulan Baru. Jadi di desa ini setiap bulan nya ada tradisi Nyawang Bulan, karna menyambut bulan purnama” ujarnya.

Dengan adanya konsep pasar tradisional, sangat membantu ekonomi warga-warga lokal di desa sana. Uniknya, mereka mempunyai alat tukar khusus di pasar tersebut yaitu Koin Kayu yang bisa dibeli memakai uang tunai.

Selain Nyawang Bulan, setiap minggunya warga juga aktif dalam kliwonan dan gotong royong, memperkuat semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial yang menjadi ciri khas adat masyarakat desa Girimekar.

Nyawang Bulan sendiri ada pada tahun 1970-an dengan acara kecil kecilan yaitu tumpengan bersama masyarakat desa setempat. Lalu, pada tahun 2022 mulailah berkembang.

“Acara disini dibangun dari nol, yang mengelola juga pihak warga setempat” ujar Rahmat Uyep selaku ketua RT desa setempat.

Melalui inisiatif warga setempat tanpa campur tangan pihak luar atau dinas pemerintah. Tradisi adat seperti Nyawang Bulan menjadi bentuk nyata bagaimana masyarakat menjaga identitasnya melalui kegiatan kolektif.

Kini, Nyawang Bulan bukan sekadar acara adat, melainkan simbol hidupnya kemandirian dan persatuan masyarakat Desa Girimekar. Melalui gotong royong dan pelestarian budaya, warga membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan seiring dengan kemajuan zaman serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu. (*)

Tags:
tradisi leluhurNyawang BulanDesa Kasepuhan Bunisari

Rinjani kalila Syarief

Reporter

Aris Abdulsalam

Editor