Mutiara Syoba’ah sedang melakukan budaya sakral siraman sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, Jumat (14/01/2022) (Sumber: Dokumentasi Wedding Organizer | Foto: Ali Solehudin)

Ayo Netizen

Makna Budaya Siraman dalam Pernikahan Adat Sunda

Jumat 28 Nov 2025, 16:49 WIB

Dengan wajah tersenyum dan air yang mengalir lembut di wajahnya, seorang calon pengantin menjalani prosesi siraman pada Jumat (14/01/2022). Di tengah modernisasi dan kesederhanaan pesta pernikahan masa kini, prosesi adat siraman seperti ini mulai jarang dilakukan, padahal di balik percikan airnya tersimpan makna dan nilai yang tinggi untuk restu menuju kehidupan yang baru. Prosesi sakral ini berlangsung di Jl. Jamika Lama, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Tradisi siraman ini merupakan warisan suku sunda dan sudah menjadi budaya yang turun termurun yang dilakukan orang sunda sebelum prosesi pernikahan. Siraman ini bermakna cukup dalam, yang dimana siraman ini berarti menyucikan diri untuk memulai kehidupan yang baru. Sudah jarang sekali orang-orang di zaman sekarang menerapkan adat budaya dalam prosesi pernikahan mereka, terutama adat siraman dari budaya sunda ini. Zaman sekarang lebih cenderung mengadakan prosesi pernikahan yang modern. Namun tanpa disadari adat siraman sunda ini memiliki makna yang sangat amat dalam dan menyentuh hati pengantin maupun para tamu undangan.

Mutiara Syoba’ah, seorang pekerja Tenaga Kependidikan di Unisba adalah seorang calon pengantin yang melalukan budaya siraman ini sebelum melaksanakan prosesi pernikahan. Alasan mengapa ia menerapkan budaya siraman karena ia berkata ingin melestarikan budaya siraman ini agar tetap ada yang melestarikan nya.

Tradisi siraman ini memiliki bahan-bahan yang wajib digunakan, salah satunya adalah menggunakan air dari 7 sumber air yang berbeda, tidak ada keterangan yang mengharuskan dari mana saja air tersebut, hanya disebutkan harus 7 sumber air yang berbeda. 

“Memang ada tujuh air yang saya tahu,  tujuh air itu ada rupa-rupa airnya juga, saya kurang tahu itu ada air dari mana yang utama dan yang saya ambil dari ada air sumur, terus ada kembang melati, kembang yang lainnya juga ada, kurang lebih yang dibutuhkan sih seperti itu air nya,” Ujarnya.

Prosesi siraman tersebut dilakukan oleh para sesepuh keluarga secara bergantian. Dimulai dari kedua orang tua, kemudian paman, bibi, dan kakak laki-laki Mutiara. Setiap orang yang menyiram memberikan doa dan harapan baik untuk kehidupan rumah tangga yang akan dijalani sang mempelai.

Prosesi dalam siraman ini juga memiliki beberapa urutan tertentu, ada yang diawali oleh doa atau pembacaan ayat suci al-qur’an terlebih dahulu, ada juga yang di awali oleh Ayun Ambing terlebih dahulu, urutan prosesi ini tergantung kepada kepercayaan pihak keluarga calon pengantin yang ingin melaksanakan budaya siraman ini.

“Waktu itu teteh itu harus nurut sama suami, utamanya suami dulu dikasih betul-betul ke suami teteh gitu, siraman tuh kayak gitu teh, sampai pada akhirnya pas yang mengantarkan namanya, dan Ayun Ambing tapi diiringi dengan sholawat dan pembacaan ayat suci al-qur’an terlebih dahulu, lalu Ayun Ambing, lalu ada sungkeman, baru setelah itu mulai lah teteh mulai siraman nya,” Katanya sambil mengenang.

Budaya adat siraman ini sangat menyentuh hati karena betapa besar dan bermakna nya nilai-nilai di dalam nya. Mutiara mengakui bahwa ia tak kuat menahan tangis di saat pelaksanaan mengaji hingga prosesi siraman di lakukan. Akan tetapi di saat sungkeman lah yang membuat Mutiara sangat sedih dan terharu, yang dimana itu adalah momen sakral meminta restu kepada kedua orangtua. Sungkeman biasa dilakukan dengan cara yang sangat khusyuk. 

Mutiara bercerita bahwa dia harus mencuci kaki kedua orang tuanya dengan air dari tujuh sumber, mengelapnya dengan handuk, menyemprotkan wewangian, lalu kemudian mencium kaki kedua orangtua nya sambil mengucapkan permohonan izin dalam bahasa Sunda yang memiliki arti yang sangat dalam dan bermakna.

Di akhir wawancara, Mutiara mengatakan bahwa ia ingin terus mewariskan tradisi ini kepada anak cucu nya. "Kelak nanti anak saya atau cucu saya diusahakan ada siramannya. Karena prosesnya luar biasa terharu. Ini salah satu cara melestarikan budaya adat Sunda," Ucapnya dengan penuh harapan. (*)

Tags:
pelestarian budayapernikahan adat Sundabudaya siraman

Fatimah Waliya Matin

Reporter

Aris Abdulsalam

Editor