Bukan Sekadar Kebiasaan Tutur, Asal-usul Sulitnya Pelafalan F dan V Orang Sunda

2 menit baca
Adellia Ramadhani
Ditulis oleh Adellia Ramadhani diterbitkan Senin 24 Nov 2025, 11:08 WIB
Beberapa mahasiswa melakukan percakapan yang mencerminkan kehangatan dan kekhasan tutur masyarakat Sunda di area kampus Telkom University, Kabupaten Bandung, Selasa (11/11/2025). (Foto: Adellia Ramadhani)

Beberapa mahasiswa melakukan percakapan yang mencerminkan kehangatan dan kekhasan tutur masyarakat Sunda di area kampus Telkom University, Kabupaten Bandung, Selasa (11/11/2025). (Foto: Adellia Ramadhani)

“Poto”, “Pideo”, dan “Paporit” alih-alih “Foto”, “Video”, dan “Favorit”, begitu bunyi khas pelafalan masyarakat Sunda. Kawasan Metropolitan Bandung Raya tetap berdialog akan pelafalan ‘P’ membuat berangan-angan perihal asal-usul sulitnya pelafalan F dan V. Rupanya fenomena ini bukan sekadar kebiasaan tutur, melainkan berakar dari sejarah Sunda selama berabad-abad.

Hal ini disampaikan oleh Arifadillah, mahasiswa Program Studi Sastra Sunda, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (3/11/2025). Ia mengatakan bahwa dalam aksara Sunda kuno yang disebut aksara Sunda Kaganga, huruf F dan V memang tidak ada sehingga tidak dikenal.

“Masyarakat Sunda zaman dahulu secara alami menggantinya dengan huruf ‘P’ yang lebih umum sehingga membentuk kebiasaan tutur turun-temurun. Kini, aksara Sunda modern telah melakukan penyempurnaan dengan menambahkan huruf FA dan VA,” ujarnya.

Arifad juga menambahkan bahwa pelafalan khas ini berakar dari aspek filologi dan linguistik masyarakat Sunda. Berdasarkan naskah-naskah Sunda kuno seperti Sewaka Darma dan Siksa Kandang Karesian, memang tidak ditemukan huruf F dan V di dalamnya.

Kedua naskah itu dijadikan acuan kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Sunda zaman dahulu sehingga membuat masyarakat Sunda pada masa itu tidak mengenal bunyi tersebut dan terbawa hingga kini. Bukan karena tabu, tetapi memang tidak muncul.

Dari sudut pandang linguistik, masyarakat Sunda terbiasa menggunakan bunyi-bunyi bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menghubungkan bibir atas dan bibir bawah, yaitu seperti bunyi M (mamah), P (pantun).

Sedangkan huruf F dan V tidak termasuk bilabial karena tidak mempertemukan kedua bibir. Pada dasarnya, orang Sunda terbiasa menggunakan bunyi bilabial, karenanya pelafalan F dan V terasa kurang akrab.

Namun, pelafalan khas ini bukan termasuk kekeliruan, kesalahan fatal ataupun stereotip yang perlu dipermasalahkan, melainkan hal sederhana yang menjadi bagian dari cerminan identitas budaya Sunda.

Seiring waktu berjalan, pengaruh bahasa asing, globalisasi, dan kebutuhan zaman membuat pelafalan F dan V bukan lagi suatu hal yang asing bagi masyarakat Sunda terutama generasi muda. Misalnya kata effort tentu tidak mungkin diucapkan menjdi eport. Hal ini membuat masyarakat Sunda lebih fasih melafalkan kedua huruf tersebut dalam pelafalan baku.

Sebagai penutup, Arifad mengutip sebuah peribahasa Sunda, “Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman.” Artinya, mengikuti waktu, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Jadi, meskipun banyak kata yang diadaptasi dari bahasa asing, kalau memang menggunakan huruf F dan V, ya gunakanlah sebagaimana mestinya,” ujarnya.

“Karena masyarakat Sunda yang baik adalah masyarakat yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Peribahasanya sendiri pun berasal dari masyarakat Sunda, jadi salah satunya buktikan dengan cara sederhana seperti pelafalan huruf F dan V ini.”

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Adellia Ramadhani
Telkom University, Bandung. Digital Public Relations 2024

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Jun 2026, 18:48

Potret Federico Barba: Pemain Persib yang Pure Profesional Tanpa Ikatan Emosional

Dalam kultur sepakbola Bandung, ada sebuah prinsip tak tertulis "Pemain yang bermain tanpa sepenuh hati, lebih baik pergi".

Foto Federico Barba ACL 2. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 17:23

Komunikasi Perubahan Pasca Haji dan Umrah

Secara spiritual pun orang yang sudah berhaji dan umrah adalah orang yang sudah memiliki level tinggi dalam ibadah.

Puncak Arafah di Makkah, Arab Saudi. (Sumber: Unsplash | Foto: ekrem osmanoglu)
Wisata & Kuliner 01 Jun 2026, 16:35

Kuliner Pindang Gunung, Sup Ikan Khas Pangandaran dengan Wangi Honje yang Kuat

Kuah kuning segar, aroma honje, dan ikan laut segar menjadikan pindang gunung sebagai salah satu kuliner tradisional paling khas di Pangandaran.

Kuliner Pindnang Gunung khas Pangandaran. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 15:28

Koperasi Merah Putih: Pemborosan Atau Strategi Tingkatkan Nilai Tawar Ekonomi Rakyat

Koperasi Merah Putih memunculkan banyak pro-kontra bagi masyarakat.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 12:55

Adventure Tourism Berbasis Kendaraan: Antara Daya Tarik dan Risiko Kecelakaan

Adventure tourism berbasis kendaraan menawarkan pengalaman perjalanan yang unik. Di balik daya tariknya, keselamatan kendaraan, pengemudi, dan wisatawan perlu menjadi prioritas bersama.

Lava Tour Merapi, wisata jeep Jogja paling populer. (Sumber: labirutour.com)
Ikon 01 Jun 2026, 11:24

Pasar Malam, Hiburan Rakyat yang Membuat Waktu Seolah Berputar Mundur

Pasar malam tetap menjadi pilihan masyarakat karena murah, meriah, dan mampu membangkitkan memori masa lalu.

Pasar Malam di Desa Cigintung, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:53

Psikologi di Balik Viralnya “Mas Bahlil Ganteng”

Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Sumber: BMPI Sekretariat Presiden)
Ayo Netizen 01 Jun 2026, 10:05

Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

Koran dan bapak loper sama-sama berjuang di dunia yang semakin dinamis. Yang satu untuk literasi dan satunya bertahan hidup.

Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 18:21

Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung

Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.

Hari Raya Waisak mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang serba cepat, melainkan dari kesabaran dalam menjalani setiap proses kehidupan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 15:42

Empat Single D'Renced Menjadi Napas Pergerakan

Mereka tidak menjanjikan apapun, meraka hanya memastikan suara-suara ini tak pernah mati.

Band lokal D'Renced. (Foto: Sinan)
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 12:28

Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

Terlalu banyak lahan basah yang bisa disalahgunakan dalam dunia kesehatan.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Wisata & Kuliner 31 Mei 2026, 10:27

5 Pilihan Restoran dan Kafe Bandung Favorit Wisatawan Luar Daerah

Bandung punya banyak kafe baru, tapi lima tempat ini tetap jadi favorit wisatawan karena suasana nyaman, makanan enak, dan lokasi strategis.

Lebak Caring, Dago. Salah satu restoran favorit di Bandung.
Ayo Netizen 31 Mei 2026, 09:54

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Literasi toponimi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya adalah toponimi dengan nama spesifik "wangi" di sepanjang zona Sesar Lembang.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)