Seorang ekonom peraih hadiah nobel Milton Friedman pernah berkata “Tidak ada yang namanya makan siang gratis,” dan hal yang sama berlaku bagi media sosial yang sesungguhnya tidak gratis karena data para pengguna yang menjadi harganya. Para Pengguna memang dapat mengunduh ataupun menggunakan sosial media secara gratis, meskipun pada kenyataannya tidak demikian.
Ketika para pengguna pertama kali menggunakan sosial media, maka pengguna harus memasukkan data mereka kepada pihak perusahaan. Pengguna mungkin merasa tidak keberatan akan hal ini, sayangnya secara tak sadar data pengguna sudah dipajang sebagai bahan jualan oleh perusahaan sosial media. Dalam jangka pendek efeknya mungkin tak terasa secara langsung oleh pengguna, tetapi dia bisa menjadi bumerang yang berbahaya bagi pengguna.
Berbeda dengan media lainnya seperti televisi yang hanya ingin menayangkan konten berdasarkan selera pasar yang ada, media sosial justru bisa menyajikan konten yang dipersonalisasi sesuai preferensi setiap pengguna. Ketika pengguna memasuki laman sosial media pengguna akan menemukan beragam konten, dengan cara tersebut algoritma di sosial dapat lebih mengenal jenis konten yang disukai oleh pengguna.
Algoritma sosial media diciptakan bukanlah tanpa suatu tujuan, algoritma sosial media diciptakan agar pengguna dapat menghabiskan waktu yang lama dalam sosial media. Jika pengguna makin lama dan makin banyak menonton jenis konten yang sama, maka algoritma sosial media menjadi lebih mudah untuk merekomendasikan suatu tontonan kepada pengguna. Sebagai contoh seorang pengguna sangat menyukai konten tentang sepak bola, maka algoritma sosial media akan terus merekomendasikan pengguna konten lainnya mengenai sepak bola.
Rancangan algoritma inilah yang dapat menarik ratusan juta pengguna media sosial, dan dari data inilah yang kemudian dilihat sebagai peluang strategis oleh para politisi. Dari data yang diumumkan KPI terdapat 204,8 juta pemilih pada pemilihan umum tahun 2024 lalu, dari angka tersebut sekitar 114 hingga 115,6 juta di antaranya adalah pemilih generasi Z dengan rentang umur dari 17 hingga 28 tahun. Riset dari databoks menemukan bahwa sekiranya ada sekitar 191 juta pengguna sosial media, di mana jumlah pengguna sosial media didominasi oleh pengguna yang berumur 18 hingga 34 tahun.
Jika pada zaman sebelum sosial media politisi harus melakukan kampanye melalui media seperti televisi atau koran, maka kini politisi sosial media dapat melakukan kampanye melalui sosial media. Justru algoritma sosial media makin menguntungkan politisi, pengguna dapat terjebak dalam algoritma yang hanya memberitakan berita positif mengenai politisi tersebut atau bahkan membuat pengguna menjadi pendukung fanatik dari politisi tersebut.

Tak heran jika algoritma media sosial kini dianggap sebagai alat politik yang efektif untuk melanggengkan kekuasaan para politisi, sebagaimana terlihat jelas pada kampanye pemilihan umum 2024. Di mana di setiap konten yang diunggah pada sosial media, para tim sukses setiap calon pasangan presiden mempromosikan program calon presiden tersebut bahkan sampai ke fase menanggung-anggungkan calon presiden mereka sendiri. Pada satu sisi hal ini dapat memudahkan para calon pemilih dalam memilih manakah calon presiden yang sesuai dengan keinginan, tetapi ini pun dapat berdampak negatif di mana para calon pemilih justru dapat menjadi pendukung fanatik seorang calon presiden yang akan selalu membela sang calon presiden tersebut.
Sayangnya berbagai kampanye yang bertebaran di sosial media dapat menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia dapat dikatakan masih belum sehat, di mana banyak tersebar disinformasi di sosial media dengan tujuan untuk menyerang dan menjatuhkan calon presiden lainnya.
Dari riset yang dilakukan oleh Dimas Subekti dan kawan-kawannya menemukan bahwa selama masa kampanye pemilihan umum tahun 2024 terjadi lonjakan besar dalam jumlah konten disinformasi di sosial media yang juga ditemukan bahwa penyebaran ini terjadi secara sistematis, melalui data ini dapat disimpulkan bahwa para politisi tidak peduli akan nasib bangsa ini tetapi hanya memedulikan bagaimana caranya untuk melanggengkan kekuasaan mereka di pemerintahan.
Baca Juga: Menata Parkir Braga, Menata Masa Depan Pariwisata Bandung
Naif rasanya mengharapkan adanya perubahan apabila para politisi masih menikmati semua keuntungan dari algoritma sosial media yang ada, namun perubahan dapat terjadi dari diri pengguna yang memutuskan untuk lebih kritis. Pengguna harus selalu ingat bahwa tidak semua konten yang beredar adalah konten yang baik, sehingga para pengguna harus bisa lebih bijaksana dalam menikmati suatu konten.
Sosial media hanya akan selalu memberikan konten yang disukai oleh penggunanya, sehingga sosial media akan berhenti menyodorkan konten yang tidak pengguna tidak sukai. Jika politisi menjadikan algoritma sosial media sebagai senjata, maka pengguna dapat menggunakan senjata yang sama untuk melawan politisi. Algoritma sosial media dapat pengguna manfaatkan untuk mengedukasi pengguna lain agar tak mudah dipengaruhi oleh konten yang tersebar di sosial media, karena sekecil apa pun sebuah perlawanan dia tetaplah perlawanan yang dapat mengubah nasib bangsa ini. (*)
Daftar pustaka:
- Narayan, Arvind. 2023. Understanding Social Media Recommendation Algorithms. New York: Knight First Amendment Institute.
- Subekti, Dimas., dkk. 2025. Social media and Disinformation for Candidates: the Evidence in the 2024 Indonesian Presidential Election. Laussane: Frontiers.