Sebagai pengguna layanan DAMRI sejak 2016-- tentu secara pribadi saya punya kenangan tersendiri dengan armada yang menjadi ikon penting bagi sejarah transportasi khususnya di Kota Bandung. Bagi saya DAMRI bukan sekedar transportasi yang mempermudah mobilitas saya sebagai warga Kota Bandung tapi lebih dari itu.
DAMRI adalah armada yang ramah terhadap semua kalangan--cukup dengan Rp.4000—Rp.5000 saja sudah bisa mengakses lokasi yang terbilang cukup jauh. Tak hanya hemat, DAMRI juga memberikan kenyamanan dari panas terik matahari di siang hari dan dari Bandung saat musim hujan.
Sekitar tahun 2016 saya pernah mengikuti salah satu diklat yang diselenggarakan oleh Yayasan Darut Tauhid, di mana kegiatan itu dilaksanakan pada akhir pekan. Setelah lelah berkegiatan DAMRI memang armada yang tepat untuk meregangkan tubuh yang sedikit kaku. Dengan jumlah kursi yang banyak juga tersedia ac yang menyejukkan badan setelah berlumuran keringat. Di bandingkan dengan naik angkot yang harus turun-naik beberapa kali untuk menuju leuwipanjang. DAMRI memang pernah jadi idola pada masanya.
Tanpa kita sadari DAMRI selalu setia menemani setiap langkah mimpi dari para mahasiswa di Kota Bandung yang memperjuangkan pendidikannya. Membersamai langkah para pedagang kecil yang berjuang untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Merangkul para kaum marjinal untuk sedikit mencari pundi-pundi kehidupan. Begitu banyak cerita, begitu banyak realita sosial di depan mata--yang bahkan jarang terlihat oleh mata-mata pemilik kebijakan.
Damri dengan rute Leuwipanjang--Ledeng memiliki rute yang cukup jauh dan melewati beberapa lokasi penting seperti UPI, Pesantren Darut Tauhid, Rumah Mode, Cihampelas, Paskal dan Pasar Baru. DAMRI rute ini juga membantu warga Bandung yang berniat berwisata ke arah Lembang tapi tidak memiliki kendaraan pribadi. Selain mengurangi kemacetan tentu penggunaan DAMRI juga membantu meminimalisir budget liburan. Misalnya untuk menuju wisata terdekat yaitu Farm House bisa diakases menggunakan DAMRI lalu dilanjutkan dengan angkot Lembang-Stasiun Hall.
Dulu DAMRI rute ini beroperasi dari jam 06.00 hingga 17.00 dengan jumlah armada yang cukup banyak karena bisa menyediakan keberangkatan setiap 15-30 menit. Namun hari ini rasanya DAMRI seperti kehilangan kejayaannya. Kemajuan zaman dan makin menjamurnya kendaraan pribadi tentu banyak menggerus berbagai macam bisnis atau armada transportasi umum.
Dilansir dari detikfinance.com pada tahun 2021 DAMRI sempat memberhentikan operasionalnya karena kerugian finansial akibat kesulitan memenuhi kebutuhan operasional karena jumlah penumpang yang makin menurun. Kita sadari bahwa efek pandemi Covid-19 pada tahun 2020 memang banyak meluluh-lantahkan hampir semua sektor kehidupan, khususnya sektor perekonomian. Banyak perusahaan merumahkan para karyawannya karena aturan sosial distancing. Perputaran operasional beberapa sektor industri melambat karena permintaan pasar menurun. Banyak masyarakat yang kekurangan sehingga mengesampingkan kebutuhan sekunder.
Tahun-tahun setelahnya juga tidak mudah bagi masyarakat dan pemilik usaha untuk bangkit. Bahkan hingga akhir tahun 2025 makin menjamur pengangguran karena lapangan pekerjaan yang tidak bertumbuh.
Pada tahun 2025 DAMRI Leuwipanjang--Ledeng sempat berhenti sementara selama satu pekan untuk antisipasi unjuk rasa dan keamanan atau optimalisasi armada. Kemudian beroperasi kembali 8 september 2025. Namun saat 9 Desember 2025 saya kembali menggunakan DAMRI rute ini jumlah armada yang ada hanya satu di terminal Leuwipanjang. Jauh berbeda dari kondisi di tahun 2016. Bahkan kini jam operasionalnya memendek dari pukul 17.00 menjadi 15.30 menurut postingan instagram @transportforbandung. Namun dengan penasaran saya mengonfirmasi secara langsung kepada supir, menurut pernyataannya perkiraan DAMRI terakhir dari Ledeng menuju Leuwipanjang yaitu pukul 14.00-14.30.

Di tahun 2026 saya rasa kita semua sebagai warga Kota Bandung wajib mendukung DAMRI atau transportasi bus serupa sebagai pilihan utama mobilitas untuk tumbuh kembali sebagai solusi kemacetan di Kota Bandung. Jika hanya mementingkan keinginan pribadi untuk terus-menerus memperbanyak kendaraan motor maka di masa depan tidak ada cara lain untuk berdamai dengan kemacetan itu sendiri.
Namun saya pribadi selalu punya harapan besar untuk kota Bandung bisa keluar dari masalah kemacetan. Saya selalu memiliki optimisme bahwa transportasi umum seperti DAMRI atau Metro Jabar Trans bisa kembali merebut kejayaannya demi Bandung yang tenang dari hingar-bingar kemacetan dan dari polusi udara yang menyesakkan dada.
Baca Juga: Benteng Kritis Mahasiswa UNPAR dalam Menangkal Hoaks dengan Literasi Digital
Menurut saya tidak ada cara lain untuk menciptakan perubahan selain bersama-sama memupuk hal kecil demi menyelesaikan permasalah kemacetan yaitu dari kesadaran kita sebagai warga Kota Bandung itu sendiri. Cobalah untuk berjalan kaki jika tujuan kita tidak lebih dari 1 km. Biasakan jalan kaki jika untuk sekedar membeli bahan masakan di warung yang hanya berselang 10 rumah. Biasakan tidak memberikan motor kepada anak di bawah 17 tahun untuk pergi ke sekolah. Cukuplah motor tersebut digunakan untuk kepentingan kerja yang membutuhkan jarak belasan hingga puluhan kilo meter.
Dari kesadaran kolektif yang kita buat bersama-sama-- saya memiliki keyakinan besar pada pemilik kebijakan untuk selaras mendukung hal ini dengan cara memperjelas rute transportasi umum yang bisa menjangkau daerah terpencil di Kota Bandung. Membenahi rute yang selama ini semrawut menjadi lebih tertata dan berkesinambungan. Tidak ada cara menuju perubahan selain saling bersinergi--antara kita sebagai warga kota bandung dan para pemangku kebijakan setempat.
Sebagai pengguna DAMRI -- jujur saya sangat senang karena di zaman digitalisasi DAMRI masih menyediakan pembayaran secara tunai yang mempermudah pengguna lansia yang tidak memiliki m-banking atau Qris. Namun DAMRI juga tetap harus mengikuti perkembangan zaman dengan menyiapkan pembayaran secara Qris atau tap kartu e-money. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita hari ini lebih suka dengan pembayaran digital dibandingkan uang secara tunai. (*)