Di era yang serba modern, manusia sering lupa akan kisah tentang bagaimana nenek moyang mewariskan tradisi penuh makna untuk dikenang. Namun di Bandung, masih ada orang-orang yang berdedikasi menjaga warisan budaya, salah satunya adalah tradisi ngabedahkeun yang kaya akan filosofi dan kebersamaan.
Tradisi syukuran dengan tumpeng ini selalu punya sisi unik dan indah, terutama bagi mereka yang merayakan momen penuh rasa syukur seperti kelahiran bayi, pernikahan, khitanan, hingga pindah rumah.
Neli Suherneli pelestari budaya Sunda yang kerap melayani acara ngabedahkeun di kawasan Bandung, telah lama berkecimpung dalam tradisi ini. Di balik keindahan dan kehangatan acara-acara tersebut, para pelestari tradisi seperti Neli bukan hanya berkarya, tapi juga bercerita dan berbagi pengalaman bersama keluarga, tetangga, hingga siapapun yang ingin tahu ceritanya.
Menurut Neli, tradisi ngabedahkeun memiliki keunikan yang berbeda dari perayaan modern karena penuh makna filosofis dan nilai kebersamaan.
Bentuk tumpeng yang kerucut melambangkan agar manusia selalu ingat kepada Tuhan, sementara cara memotong dari puncak mengajarkan bahwa segala sesuatu dimulai dari yang tertinggi. Prinsip "silih asah, silih asih, silih asuh" juga tercermin dalam pembagian tumpeng yang merata kepada semua tamu tanpa pandang bulu.
Ini membuat tradisi ngabedahkeun memiliki sisi historis dan budaya yang kental. Karena itulah banyak keluarga yang masih mempertahankan tradisi ini untuk acara-acara penting mereka, meski harus mempersiapkan dengan lebih teliti.
Neli sering bertemu dengan banyak keluarga yang memiliki beragam alasan memilih tradisi ini, seperti ingin mengajarkan anak tentang budaya, menghormati orang tua, atau memang masih percaya dengan makna filosofisnya. Neli juga sering diminta memberikan penjelasan tentang makna-makna dalam ngabedahkeun kepada generasi muda yang mulai tertarik dengan warisan budaya leluhur.
Proses membuat tumpeng membutuhkan waktu dan kesabaran karena nasi harus dimasak dengan takaran yang pas, lauk pauk harus lengkap dan segar, dan bentuk tumpeng harus rapi dan bagus.
Tidak sembarangan dan perlu ketelitian tinggi dalam melaksanakan ngabedahkeun seperti persiapan bahan, cara membentuk tumpeng, dan tata cara pemotongan yang benar. Tradisi ngabedahkeun juga biasa hadir dengan prosesi tertentu untuk mempermanis acara syukuran, seperti doa bersama dan pembagian yang penuh keakraban.
Prosesi ini menambah nilai budaya ngabedahkeun dan membuat acara makin sakral dan mengesankan bagi keluarga dan para tamu.
Para tamu sering terkesan dengan indahnya tradisi ngabedahkeun dan mengagumi kebersamaan serta kehangatan yang luar biasa dari acara yang diselenggarakan. Kebersamaan yang ditunjukkan mampu menyentuh hati para tamu dan biasanya membuat mereka ikut merasakan makna syukur dan berbagi yang terkandung dalam tradisi tersebut.
Baca Juga: Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan
Dedikasi para pelestari budaya seperti Neli adalah kunci yang menjaga nyala tradisi dalam setiap potong tumpeng.
Tradisi ngabedahkeun, dengan segala keunikan maknanya, pilihan lauk pauk yang kaya filosofi, hingga prosesi yang penuh kebersamaan, bukan sekadar acara syukuran biasa tetapi media cerita. Tradisi ini membawa serta kisah leluhur, filosofi hidup yang bermakna, dan nilai-nilai kebersamaan yang disajikan dengan keindahan dan kesederhanaan.
Meskipun tren modern sering menuntut kepraktisan dan kemudahan, makna sakral dan nilai budaya dari tradisi ngabedahkeun tetap menjadi inti yang memperkaya kehidupan masyarakat Sunda. (*)