Lupakan adegan jatuh cinta di perpustakaan ala novel romance. Realita kuliah tahun 2026 bukan soal nemu jodoh karena buku terjatuh, tapi soal gimana caranya menjaga kewarasan saat melihat data pahit dari Higher Ed Dive: lebih dari 80% mahasiswa senior melaporkan mereka sedang berada di ambang burnout parah.
Bukan cuma sekadar capek fisik, kelelahan mental ini bikin kita kehilangan motivasi, sinis terhadap tugas, sampai merasa nggak berdaya menghadapi masa depan. Lantas, siapa saja sosok yang bisa jadi sandaran kita biar nggak gampang rungsing dan overthinking?
1. Inner Circle: Keluarga yang Berhenti Menuntut
Hal utama sebelum kita melangkah lebih jauh adalah restu dan dukungan keluarga. Namun, riset tahun 2025 menunjukkan banyak mahasiswa merasa harus selalu terlihat "kuat" di depan orang tua agar tidak dianggap sebagai beban, terutama bagi mereka yang sedang berjuang di tanah rantau. Padahal, yang kita butuhkan bukan hanya ditanya "Kapan skripsimu selesai?", tapi validasi bahwa mereka tetap ada meski jarak memisahkan.
Kalimat yang paling nendang itu bukan motivasi muluk-muluk, tapi perhatian tipikal orang tua yang realistis. Sesederhana tiba-tiba Video Call (VC) hanya karena ingin tahu kabar anaknya di perantauan, atau momen mengharukan saat orang tua diam-diam memajang foto kita di Story WhatsApp saat mau berangkat kuliah. Dukungan yang tidak "berisik" tapi penuh kasih sayang seperti inilah yang justru jadi bahan bakar utama buat kita lanjut berjuang.
2. Outer Circle: Cari yang Sa-Frekuensi, Bukan yang Saling Menjatuhkan
Selain dukungan dari rumah, lingkungan di kampus pun jadi penentu waras atau tidaknya kita. Memiliki sahabat yang sefrekuensi akan sangat mengurangi tingkat stres. Bagi sebagian orang, punya teman yang sama-sama ambisius dalam mengejar IPK justru jadi motivasi terbaik agar tidak malas. Namun, pastikan persaingan itu sehat—bukan kompetisi yang isinya saling menjatuhkan atau merasa paling unggul sendiri.
Kita butuh lingkaran pertemanan yang bisa diajak berjuang bareng. Teman yang suportif adalah mereka yang rela meminjamkan laptop saat punya kita error atau berbagi catatan saat kita buntu, bukan yang malah senang melihat kita tertinggal. Jika circle kamu sudah mulai bikin hati hareudang karena isinya hanya adu gengsi tanpa rasa empati, saat itulah kamu harus mulai menjaga jarak.
Baca Juga: Di Balik Mudahnya QRIS, Pedagang Kuliner Saparua Punya Cerita Lain
3. The Ultimate Support: Diri Sendiri dan Spiritualitas
Namun, dari semua dukungan eksternal, dukungan internal adalah yang paling krusial. Banyak orang rela kehilangan jati diri dibanding kehilangan pasangan atau sahabatnya. Padahal, se-toksik apa pun dunia luar, yang bakal menemani kamu sampai garis finish cuma diri kamu sendiri. Belajarlah untuk percaya pada kemampuan diri sendiri sebelum mengharap pengakuan orang lain.
Terakhir, semuanya akan terasa sulit dijalankan jika tidak ada "jangkar" yang kuat. Spiritualitas bukan pelarian dari revisi, tapi cara kita tetap tenang saat semua tekanan terasa tidak masuk akal. Menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta lewat doa dan ibadah yang konsisten adalah jalan pintas untuk mendapatkan kejernihan pikiran.
Prinsipnya sederhana: Urusan "langit" beres, urusan "bumi" niscaya lancar. Jika hubungan dengan-Nya sudah baik, badai skripsi dan tekanan masa depan niscaya akan terasa lebih tenang untuk dijalani. (*)