Ayo Netizen

Ketika Pemuda Memilih Mengabdi untuk Desa

Oleh: Jajang Shofar khoerudin Kamis 22 Jan 2026, 16:51 WIB
Ketua Karang Taruna Campaka, Desa Buniara, Widi Hardika, berada di dalam kendaraan operasional saat bersiap menjalankan kegiatan sosial dan kepemudaan. (Sumber: Dokumentasi Karang Taruna Desa Buniara | Foto: Widi Hardika)

Pagi di Kampung Campaka selalu dimulai dengan kesibukan sederhana. Jalan kampung yang belum sepenuhnya mulus, suara motor warga yang berangkat bekerja, dan obrolan ringan di warung kopi menjadi latar keseharian. Di tengah rutinitas itu, nama Widi Hardika dikenal luas, bukan sebagai pejabat formal, melainkan sebagai sosok yang kerap hadir ketika pemuda desa butuh ruang bergerak.

Sebagai Ketua Karang Taruna Campaka, Desa Buniara,Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Widi menjalani perannya tanpa banyak sorotan. Aktivitasnya lebih sering terlihat di lapangan mempersiapkan kegiatan sosial, mendampingi pemuda yang ingin berkegiatan, hingga menjadi penghubung antara aspirasi anak muda dan pemerintah desa. Bagi Widi, Karang Taruna bukan sekadar organisasi, tetapi ruang belajar dan pengabdian.

“Pemuda desa itu sebenarnya punya potensi besar. Masalahnya bukan mau atau tidak mau bergerak, tapi kadang mereka tidak punya ruang dan kepercayaan,” ujar Widi.

Widi menyadari betul tantangan yang dihadapi generasi muda kampung saat ini. Banyak pemuda memilih merantau, sebagian lainnya terjebak pada rutinitas tanpa arah yang jelas. Karang Taruna, menurutnya, harus hadir sebagai wadah yang fleksibel, tidak kaku, dan dekat dengan realitas anak muda.

Di bawah kepemimpinannya, Karang Taruna Campaka aktif menginisiasi kegiatan sosial, kepemudaan, hingga kebudayaan. Mulai dari kerja bakti lingkungan, penggalangan dana kemanusiaan, peringatan hari besar nasional, hingga kegiatan olahraga dan kepemudaan yang melibatkan lintas usia. Semua dijalankan dengan prinsip kebersamaan.

“Kami tidak ingin Karang Taruna hanya hidup saat ada lomba atau acara seremonial. Kami ingin pemuda merasa ini rumah mereka,” kata Widi.

Bagi Widi, menjadi ketua bukan soal jabatan atau pengakuan. Ia justru melihatnya sebagai amanah sosial. Banyak keputusan diambil melalui musyawarah, mendengarkan pendapat anggota, bahkan kritik dari pemuda yang sebelumnya apatis terhadap organisasi desa.

Ia mengakui, menjaga semangat pemuda bukan perkara mudah. Keterbatasan dana, perbedaan karakter anggota, hingga rasa lelah menjadi tantangan yang kerap muncul. Namun, Widi memilih bertahan, percaya bahwa perubahan sosial memang membutuhkan proses panjang.

“Kadang capek, iya. Tapi kalau bukan kita yang mulai, mau siapa lagi? Kampung ini rumah kita sendiri,” tuturnya.

Widi juga menekankan pentingnya kolaborasi. Karang Taruna tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah desa dan masyarakat. Hubungan yang dibangun bersifat saling menguatkan, bukan saling menunggu.

Baca Juga: Dilan 1997: Kisah tentang Kuba, ITB-Unpad, Cika-Lia, dan Reformasi

Di tengah derasnya arus digital dan perubahan gaya hidup, Widi berupaya agar Karang Taruna tetap relevan. Media sosial dimanfaatkan untuk komunikasi dan publikasi kegiatan, sekaligus sebagai cara mendekatkan organisasi dengan generasi muda yang akrab dengan dunia digital.

“Kita tidak bisa memaksa pemuda mengikuti cara lama terus. Karang Taruna juga harus belajar menyesuaikan zaman,” ujarnya.

Di Campaka, Widi Hardika mungkin bukan tokoh besar di tingkat kabupaten atau nasional. Namun, langkah-langkah kecilnya bersama Karang Taruna telah menyalakan harapan bahwa pemuda kampung bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang mampu menggerakkan perubahan dari akar rumput.

Di balik kesederhanaannya, Widi menunjukkan satu hal penting bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari panggung besar, tetapi sering tumbuh dari kampung, dari orang-orang yang memilih untuk tetap peduli dan bertahan. (*)

Reporter Jajang Shofar khoerudin
Editor Aris Abdulsalam