Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan Sumatera Utara, khususnya wilayah Tapanuli dan sekitarnya, kembali dihadapkan pada bencana banjir yang berdampak luas.
Air yang meluap merendam pemukiman, memutus akses warga, dan memaksa banyak keluarga meninggalkan rumah mereka. Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Banjir di Tapanuli seolah menjadi pengingat bahwa persoalan kebencanaan di Indonesia belum sepenuhnya ditangani secara berkelanjutan. Setiap kali bencana datang, perhatian publik dan solidaritas nasional memang mengalir deras.
Namun, ketika air surut dan sorotan media mereda, sering kali upaya mitigasi dan perbaikan jangka panjang kembali terlupakan.
Baca Juga: Bunderan Cibiru dan Tumpukan Kendaraan
Di tengah kondisi tersebut, korban bencana tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga kehadiran negara dan masyarakat dalam bentuk kebijakan yang berpihak pada keselamatan lingkungan dan manusia.
Penguatan sistem peringatan dini, penataan ruang yang berkelanjutan, serta edukasi kebencanaan menjadi kebutuhan mendesak agar bencana serupa tidak terus berulang dengan dampak yang sama, bahkan lebih besar.
Bencana di Tapanuli seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Solidaritas kemanusiaan perlu terus dijaga, tetapi lebih dari itu, diperlukan komitmen kolektif untuk membangun kesadaran bahwa hidup berdampingan dengan alam menuntut tanggung jawab, bukan sekadar respons saat musibah terjadi. (*)