Di dataran tinggi Bajawa, kabut turun pelan setiap pagi. Di tengah kampung adat berdiri sepasang simbol tua: Ngadhu dan Bhaga — tiang leluhur laki-laki dan rumah rahim perempuan. Di sanalah nama keluarga diingat, doa dipanjatkan, dan sejarah diwariskan. Setiap tahun, saat musim Reba tiba, kampung-kampung seperti Bena, Tololela, Belaraghi kembali hidup. Gendang dipukul, tenun dibentang, cerita leluhur diulang dari mulut ke mulut. Bagi orang Ngada, adat bukan tontonan. Ia adalah napas.
Namun tahun ini, di tengah musim sakral itu, seorang pelestari budaya justru memilih lebih sering tinggal di rumah. Bukan karena tak cinta adat, melainkan karena tekanan yang terlalu berat. Program yang ia siapkan untuk menjaga warisan leluhur terhenti bahkan sebelum sempat berjalan.
Mimpi Besar dari Kampung Kecil
Program ini digagas oleh Varo (nama samaran), seorang pelaku budaya muda Ngada. Ia ingin budaya hadir dengan cara baru: anak-anak belajar lewat buku mewarnai rumah adat dan puzzle kampung, remaja lewat komik, TTS budaya, dan game edukasi, orang dewasa lewat majalah reflektif dan kamus digital. Sebuah website budaya terbuka disiapkan sebagai rumah arsip bersama. Bahkan sebuah game edukatif bertajuk GEU NUA (Menjaga Kampung) dikembangkan—game berbasis kampung asli Bajawa yang mengajarkan nilai adat melalui permainan. Budaya tak lagi terasa berat. Ia menyenangkan. Ia hidup.
Program ini dinyatakan lolos Dana Indonesiana 2025 yang dikelola LPDP dan Kementerian Kebudayaan. Pengumuman keluar sejak Agustus–September 2025 dan kegiatan semestinya segera dimulai. Namun sampai Januari 2026, pencairan dana tak kunjung terealisasi.
Masalahnya, budaya tak bisa menunggu. Musim Reba (Desember–Februari) adalah momen emas: para tetua lengkap, ritual berlangsung, cerita-cerita hidup. Inilah waktu terbaik untuk dokumentasi. “Kalau lewat, ya tunggu setahun lagi,” katanya. Tanpa dana, kamera belum terbeli, tim belum terbentuk, workshop batal. Momentum pelan-pelan hilang.
Dari Harapan Menjadi Kecurigaan
Di kota, orang paham ini soal administrasi. Di kampung, tidak sesederhana itu. Saat kabar kelulusan proposal menyebar, warga berharap besar. Namun bulan demi bulan berlalu tanpa realisasi. Bisik-bisik muncul. Tanya berubah jadi curiga. Ia mulai merasa tak nyaman keluar rumah.
Tekanan itu makin berat ketika ternaknya mati mendadak dan tanaman di ladangnya rusak. “Ayam, bebek, satu kandang habis. Tanaman dicabut. Saya tidak berani nuduh siapa-siapa… tapi mental saya jatuh sekali,” tuturnya. Kerugian materi bisa dihitung, tapi kepercayaan sosial sulit dipulihkan. Ia mengaku mulai menghindari pertemuan kampung, lebih banyak diam di rumah, cemas bertemu orang.
Lalu pada suatu malam, saat rasa lelah itu memuncak, ia mengirim pesan singkat kepada rekannya di kota. Bukan laporan, bukan kabar program, hanya curahan hati. “Kalau akhir Februari belum cair juga, saya benar-benar nggak kuat lagi, bang… berat sekali tekanan di kampung,” tulisnya. Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan keputusasaan yang dalam.
Namun ia juga menegaskan bahwa situasi tersebut bukan gambaran sikap warga Ngada secara umum. Tekanan yang ia rasakan diyakini hanya datang dari satu-dua oknum. Selebihnya, masyarakat kampung tetap percaya dan mendukung. Kecurigaan yang muncul pun lebih lahir dari keterbatasan informasi dan akses, bukan niat buruk. Dalam keseharian, warga Ngada dikenal menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, dan rasa satu leluhur—nilai yang justru menjadi alasan utama ia yakin program yang direncanakan akan diterima dan dijaga bersama.
Dana Indonesiana dirancang sebagai dukungan besar pemajuan kebudayaan nasional melalui Dana Abadi Kebudayaan. Namun di lapangan, keterlambatan pencairan berbulan-bulan berdampak nyata: kegiatan tertunda, kepercayaan warga menurun, pelaku budaya disalahpahami, tekanan psikologis meningkat. Bagi masyarakat adat, reputasi sosial sama pentingnya dengan uang. Sekali dicurigai, bebannya panjang.
Baca Juga: Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung
Meski tertekan, Varo belum menyerah. Ia masih membayangkan: anak-anak belajar budaya dengan gembira, remaja bermain game edukasi adat, guru mengakses materi digital, kampung-kampung menulis sejarahnya sendiri. “Mimpi saya sederhana,” katanya pelan. “Budaya kami jangan hilang. Cuma itu.”
Di bawah Ngadhu dan Bhaga, ia masih percaya: leluhur akan menjaga mereka yang menjaga adat. Tapi ia juga berharap satu hal: agar dana yang dijanjikan benar-benar tiba. Karena budaya adalah milik kita bersama: kekayaan bumi Indonesia. Dan pelestari budaya tak seharusnya berjuang sendirian. (*)