Kampung Inggris Pare seringkali digambarkan sebagai tempat penuh tawa dan diskusi panjang. Namun bagiku, Pare punya wajah lain; ia menjadi saksi bisu perjuangan meraih mimpi di tengah rasa sakit yang mendera. Ini bukan hanya kisah untuk dikasihani, tapi sebuah perjuangan.
Aku datang dengan ambisi besar, tanpa menyadari bahwa semesta sedang menyiapkan ujian kesabaran yang jauh lebih berat dari sekadar ujian tata bahasa.
Beberapa bulan lalu, beasiswa membawaku ke Pare. Aku masih ingat momen lambaian tangan Ibu di balik kaca jendela bus—perjalanan terjauh pertamaku sendirian. Aku siap bertempur, membiasakan telinga dengan audio percakapan bahasa Inggris sepanjang jalan.
Namun, setibanya di sana, cuaca dan proses adaptasi justru menjadi lawan tak kasat mata. Imun tubuhku drop drastis, memaksaku untuk menepi dari keriuhan kelas saat semangatku justru sedang berada di titik tertinggi.
Di Pare, sepeda adalah simbol produktivitas. Mendengar suara 'kring-kring' lonceng sepeda setiap pagi adalah siksaan mental tersendiri. Di luar sana, orang-orang mengayuh sepeda menembus angin pagi, sementara sepedaku hanya terparkir diam—sama sepertiku yang hanya bisa melihat jalanan dari balik jendela.
Meski harus meringkuk, aku menolak menyerah. Setiap malam, aku tetap mewajibkan diri menyalin catatan teman. Aku tak mau pulang dengan tangan hampa.
Pelajaran paling mahal yang aku dapatkan bukan soal grammar, melainkan soal batasan diri. Punya ambisi tinggi itu perlu, tapi kesehatan adalah fondasinya. Semangat yang membara bisa "membakar" dirimu sendiri jika kamu memaksa fisik melewati batasnya.
Aku belajar bahwa sukses bukan cuma soal seberapa keras kita berlari, tapi seberapa siap "kendaraan" kita untuk perjalanan jauh tersebut.
Baca Juga: Perilaku Gen Z, Sosial Media, dan Fokus yang Terganggu
Pada akhirnya, aku berhasil menyelesaikan berbagai ujian akhir meski dalam kondisi fisik yang tidak prima. Pare mungkin tidak memberikan kefasihan instan, tapi tempat ini memberiku resiliensi—daya tahan untuk tetap berdiri meski keadaan mencoba menjatuhkan.
Mungkin banyak di luar sana yang lagi berjuang di titik terendahnya juga, atau sedang bertarung dengan kesehatan di tengah ambisi yang besar. I feel you, and I’m so proud of us.
Aku pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat bahasa; aku membawa kekuatan baru bahwa seorang perempuan bisa tetap berdiri tegak, meski badai mencoba menjatuhkannya. (*)