Ayo Netizen

Sekolah Bengkel Akhlak?

Oleh: Disya Dwi Nurhidayah Kamis 29 Jan 2026, 20:03 WIB
Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah (Sumber: Disya Dwi Nurhidayah Tahun 2025 | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)

Mengawali di awal tahun kasus kriminalisasi guru saat ini terjadi kembali. Kasus Ibu Tri, seorang guru honorer di Jambi nyaris dipenjara karena mencukur rambut murid yang tidak sesuai dengan ketentuan sekolah. Rasa-rasanya saat ini guru semakin ditekan dengan berbagai aturan terhadap murid melalui berbagai surat edaran di setiap daerah "Guru Tidak Boleh Membentak" "Guru Tidak Boleh Memarahi Murid" dan lain sebagainya.

Saya tidak membenarkan jika ada guru yang menampar siswa. Saya pribadi menyadari bahwa lingkungan pendidikan harus nyaman dan tidak boleh ada tindak kekerasan. Kondisi tersebut sebetulnya sangat dilematis karena Guru tidak bisa memilih untuk mendidik. Ibarat dokter tidak bisa memilih penyakit pasien yang datang. Begitupun di sekolah, murid-murid dengan keunikan sikap dan wataknya yang berbeda. Akan tetapi, tidak jarang menemukan murid yang susah untuk diatur.

Perlu diketahui yang paling sulit menjadi Guru adalah "Mendidik". Disitulah sekolah menjadi ruang, namun terkadang sekolah akhir-akhir ini hanya menjadi "Bengkel Akhlak". Saya juga sebagai pendidik yang mengajar di wilayah kawasan industri, bahkan anak didik saya berasal dari latar belakang yang kurang perhatian orang tua karena sibuk kerja atau orang tua ada yang menjadi TKW, terkadang tak jarang banyak murid berperilaku liar karena orang tua sibuk bekerja menjadi buruh pabrik.

Namun, hal tersebut menjadi kebingungan tersendiri karena banyak orang tua yang tidak terima jika anaknya ditegur. Adakalanya terbawa suasana dalam amarah murid yang sulit diberi nasihat. Akan tetapi, saya mencoba untuk mensiasati semua itu dalam versi mendidik saya untuk bisa dicoba dan dilakukan oleh guru-guru dimanapun berada.

Saya biasa mengawali pembelajaran untuk mengecek kedisiplinan dari atas kepala sampai bawah kaki. Biasanya saya lakukan saat absensi, walaupun memakan waktu. Akan tetapi, kegiatan tersebut penting dilakukan karena secara tidak langsung kita punya kedekatan emosional dengan anak. Lebih hafal mengingat karakter anak.

Dampaknya juga akan dirasakan oleh kita sebagai Guru, lambat laun alur yang dilakukan setiap hari ini akan menempel dan membiasakan para murid, bahkan ketika murid tidak terbiasa memakai atribut lengkap, mereka akan meminta maaf tanpa diminta. Serta bisa lebih mudah terjaring murid-murid yang tidak disiplin supaya diberikan pembinaan lebih lanjut.

Berikutnya, terkadang masih banyak Guru yang "ngejudge" murid tidak bisa apa-apa. Perlu diingat, setiap anak punya karakter dan ciri khas bahkan kemampuan yang tidak bisa sama ratakan. Menjadi Guru kita tidak boleh terobsesi untuk menjadi murid pintar akan pelajaran yang kita ajarkan, melainkan sebagai guru kita perlu peka terhadap murid-murid bahwa dengan cara "Refleksi" tidak harus mengarah pada materi saja, tetapi berkaitan dengan personal diri anak supaya diarahkan, dilaporkan, dan dibina oleh sekolah untuk bisa kerjasama dengan komunitas sekitar yang berkaitan dengan minat bakat kreativitas anak.

Selanjutnya menangani anak yang jarang masuk jam pelajaran. Hal ini terkadang menjadi masalah massal. Akan tetapi, kita perlu tahu penyebabnya. Bahkan saya pernah menemukan murid jarang sekali masuk jam pelajaran saya. Terkadang kita lupa, bahkan hanya langsung memakinya. Akan tetapi, cobalah kita untuk membicarakan dengan anak didik secara perlahan-lahan dengan terbuka. Barangkali ada suatu hal yang disembunyikan. Bisa saja karena takut salah satu pelajaran tertentu di sekolahnya.

Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)

Lalu, memberikan hukuman juga penting. Terkadang di era saat ini, hukuman tidak memberikan efek jera, melainkan mengubah mindset anak menjadi kebiasaan manja. Contoh saja, ketika saya pernah memberikan hukuman mendidik kepada murid yang tidak mengerjakan tugas, hukumannya adalah memungut sampah di lingkungan sekolah. Saat ini hukuman tersebut tidak memberikan efek jera, malahan menjadi perubahan pola pikir murid, seperti "Tidak apa-apa mengerjakan tugas, toh akan disuruh membersihkan lingkungan sekitar". Hal itu malah menjadi solusi alternatif instan untuk murid bahkan menjadi zona aman.

Sebaiknya, guru saat ini perlu menjadi guru misterius, sulit ditebak oleh murid karena itu manjadi bahan kewaspadaan murid melakukan suatu tindakan. Bukan berarti tidak boleh untuk memberikan hukuman membersihkan lingkungan. Boleh saja, tetapi alurnya perlu diubah, ketika ada murid mendapat peringatan, boleh sesekali mendapat hukuman membersihkan lingkungan. Akan tetapi, jika ada murid melanggar di kemudian hari, ubahlah kembali hukuman mendidiknya, misalnya ada murid yang terlambat masuk kelas karena main futsal bukan di jam pelajarannya, saya malah menyuruh anak untuk mempraktikan gerakan menggiring bola depan kelas berulang kali sampai lelah.

Baca Juga: Kenapa Huruf ‘E’ Tak Mau Pergi: Putra vs. Putera, Sumatra vs. Sumatera

Ketika ada murid yang menjadi hama untuk mengganggu rekannya saat kegiatan belajar mengajar, saya mempersilakan anak tersebut berdiri untuk menjelaskan materi yang telah saya sampaikan sampai waktu jam pelajaran selesai. Hal tersebut dilakukan memberikan penyadaran bahwa setiap yang dilakukan ada waktu dan tempat, lalu setiap tindakan ada konsekuensi yang didapatkan.

Terakhir yang paling penting adalah kunjungan ke rumah murid yang sedang dalam binaan, entah atas prestasinya atau masalah pribadinya. Terkadang guru malas untuk kunjungan ke rumah murid. Padahal bukan hanya tugas wali kelas, melainkan seluruh guru mata pelajaran. Hal tersebut saya lakukan ketika menemukan salah satu murid yang sering tidak masuk dan tidak mengerjakan tugas saat jam pelajaran yang saya ajarkan. Melalui kunjungan ke rumah murid akan lebih mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi agar bisa meminta izin menjadi siswa binaan inklusif di sekolah supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam mendidik anak di sekolah.

Dengan demikian, cara-cara tersebut adalah versi yang pernah saya lakukan dan bisa menjadi alternatif Guru-Guru hebat kita dimanapun berada. Sebagaimana memberikan hukuman berat untuk sebuah bantahan itu jangan dilakukan. Hukuman berat hanya boleh diberikan ketika perilaku yang sudah benar-benar merusak dan membahayakan orang lain. Tidak ada yang membenarkan jika hukuman itu dapat membuat murid untuk bersikap hormat, bahkan yang terjadi hanya rasa takut yang diajarkan melalui hukuman, bukan rasa hormat. (*)

Reporter Disya Dwi Nurhidayah
Editor Aris Abdulsalam