Bagi sebagian penulis Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kitab suci. Tebalnya mengintimidasi, bahasanya berwibawa, dan kehadirannya sering kali membuat kursor berkedip lebih lama dari yang seharusnya.
Ia duduk manis di rak atau tab browser, seolah berbisik, “Apakah kamu yakin kata itu benar?”
Sejak kapan menulis – yang seharusnya jadi aktus membebaskan berubah menjadi ujian benar-salah?
Jadi, pertanyaan mendasar dari saya, seorang penulis yang tak pernah membuka KBBI, cetak maupun online, memulai menulis dulu atau memilih taat pada definisi kata dulu? Btw, katanya udah nggak bisa diakses KBBI online teh nyak.
Alhamdulillah penyerapan kata dari bahasa lokal masih bisa hadir kapan saja dia mau tanpa nunggu rilis dari KBBI dong. Selain penyerapan kata, penulisan kata pun. Misalnya, Thailand akan bebas ditulis Thailand atau Tailan.
Bahasa Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, dll bakalan deras diserap oleh bahasa Indonesia, hingga ia kaya raya dengan kata.
Bukan Penulis, Tapi Penakut
Saya pernah punya teman semasa kuliah—sebut saja namanya A—yang hafal isi KBBI seperti hafal jadwal KRL. Sinonim, lema, kelas kata, bahkan etimologi, ia telan dengan ketelitian seorang arsiparis.
Ironisnya, A tak pernah benar-benar menulis. Setiap hendak memulai, ia berhenti di kata pertama. Lalu kedua. Lalu kembali ke KBBI. Bukan untuk mencari makna, melainkan untuk memastikan niatnya sesuai dengan maksud kata.
Menulis baginya bukan proses, melainkan sidang akademik tanpa palu hakim.
A takut. Bukan takut salah ketik, tapi takut salah makna. Takut jika rangkaian kata yang ia susun tak sepenuhnya patuh pada definisi resmi. Akibatnya, gagasan yang seharusnya lincah justru lumpuh oleh ketertiban. KBBI, yang mestinya menjadi alat bantu, menjelma pagar listrik.
Di sisi lain, saya menulis dengan cara yang lebih berantakan. Kata-kata datang tanpa izin. Kalimat meloncat-loncat. Paragraf kadang tersandung logika. Lebih banyak lateral tinimbang linear. Tapi saya tetap menulis. Tanpa rasa bersalah pada KBBI. Tanpa takut dimarahi lema atau ditegur kelas kata.
Isi kepala saya tumpah dulu; urusan rapi belakangan. Anehnya, dari ketidakteraturan itu, tulisan lahir—utuh, bernapas, dan punya nyawa.
Di sinilah saya mulai curiga: jangan-jangan KBBI bukan penghalang menulis, melainkan ketakutan kita sendiri yang menyamar sebagai disiplin. Kita terlalu cepat ingin benar, padahal belum sempat selesai.
Terlalu sibuk membincangkan tulisan—dengan diri sendiri, dengan kamus, dengan bayangan editor—alih-alih duduk dan menuliskannya.
Guru menulis saya, Budhiana Kartawijaya, jurnalis senior HU Pikiran Rakyat pernah berkata dengan santai tapi kejam, “Cara menyelesaikan artikel itu sederhana: duduk cantik dan tulis. Bukan membincangkannya.”
Kalimat itu menampar saya dengan elegan. Menulis bukan soal menang debat dengan kamus, melainkan menyelesaikan satu halaman penuh kejujuran. KBBI akan selalu ada untuk merapikan. Tapi ia tak pernah dimaksudkan untuk mematikan keberanian dan kebebasan.
Maka saya belajar berdamai: menulis dulu, benar kemudian. Biarkan KBBI menjadi sahabat di tahap akhir, bukan satpam di pintu masuk. Sebab tulisan yang hidup lahir dari keberanian untuk salah—dan kesediaan untuk selesai.

Inilah 3 Tips Menulis
Menulis dulu, diedit belakangan. Berpikir lateral, bukan legal.
1. Tulis dengan Otak Kotor Dulu, Bukan Otak Hakim
Saat mulai menulis, jangan bawa mental editor. Editor itu seperti jaksa: tugasnya mencari kesalahan. Kalau ia dihadirkan terlalu awal, tulisanmu akan mati sebelum lahir.
- Biarkan kalimat berantakan
- Abaikan ejaan, diksi, dan struktur
- Fokus satu hal saja: isi kepala keluar semua
Menulis tahap awal bukan soal benar, tapi selesai. Kerapian adalah urusan sesi berikutnya.
2. Berpikir Lateral, Bukan Linear
Menulis esai tidak harus rapi dari A ke Z. Otak manusia jarang berpikir lurus; ia melompat, memutar, dan menyimpang. Ikuti itu.
- Mulai dari tengah jika perlu
- Lompat ke contoh, lalu kembali ke gagasan
- Gunakan asosiasi, pengalaman, dan analogi liar
Esai yang hidup sering lahir dari jalur menyamping, bukan dari kerangka kaku.
3. Duduk dan Tulis, Jangan Diskusikan di Kepala
Semakin lama esai dibicarakan di kepala, semakin kecil kemungkinan ia selesai. Pikiran suka merasa produktif, padahal itu hanya berisik.
- Tetapkan waktu duduk
- Tulis tanpa berhenti
- Jangan membuka kamus, catatan, atau teori
Seperti kata guru menulis saya yang tadi disebutkan: artikel selesai bukan karena pintar berpikir, tapi karena mau duduk dan menuliskannya. Menulis itu kerja fisik: jari bergerak, kata muncul, titik ditaruh. Jangan lupa squat ya per 30 menit agar tubuhmu tetap bugar.
Urusan bagus atau jelek? Itu kerja editor—nanti.
Jangan jadikan KBBI sebagai dewa. Ia bukan pemilik makna, apalagi penentu sah atau tidaknya pikiran kita. KBBI hanyalah peta—berguna ketika kita sudah berjalan, bukan alasan untuk tak pernah melangkah.
Menyembahnya sejak kalimat pertama justru membuat menulis berubah menjadi ritual ketakutan: takut salah, takut melenceng, takut tidak “resmi, de-es-be weh”.
Menulis seharusnya kerja keberanian, bukan kepatuhan buta. Pikiran manusia bergerak liar, lateral, penuh asosiasi, sementara KBBI datang belakangan untuk merapikan jejak. Jika sejak awal kita sibuk menengok kamus, yang lahir bukan esai, melainkan keraguan yang tersusun rapi.
Baca Juga: Bukan di Studio Mahal: Pengantin dan Wisudawan Pilih Jalan ABC buat Pamer Cinta dan Gelar
Gunakan KBBI sebagai alat, bukan hakim. Sebagai teman diskusi di tahap akhir, bukan satpam di pintu masuk. Karena tulisan yang hidup lahir dari keberanian menuangkan isi kepala apa adanya—baru kemudian disisir, dibersihkan, dan dipoles.
Menulis dulu. Benar mah belakangan.
Jika harus memilih di awal: pilihlah menulis berantakan. KBBI tidak ke mana-mana. Tapi ide—kalau terlalu lama ditertibkan—bisa keburu menghilang.(*)