Nama geografis Gandok ada di semua Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Dalam Kamus Basa Sunda karya R Satjadibrata, gandok, imah leutik nu ditangkodkeun kana imah nu leuwih gedѐ. Rumah kecil yang ditempelkan, digendongkan pada rumah yang lebih besar.
Sebenarnya gandok itu bukan hanya berlaku untuk bangunan atau rumah, tapi juga untuk ronabumi. Bila ada sebidang tanah yang terbentuk secara alami, seperti ditempelkan, digendongkan pada bagian lahan yang lebih luas, itulah gandok. Makna ditangkodkeun, ditempelkan, digendongkan, karena bagian dari rumah kecil itu, umumnya dapur, dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan ruang, setelah rumah besar jadi. Begitu pun gandok dalam bentukan alam.
Sangat mungkin, kejadiannya diawali dengan adanya longsor di tempat ini. Longsor terjadi ketika gaya dorong geser dari atas lebih kuat dari pada gaya tahan geser di bawah. Mengecilnya gaya tahan geser di bagian bawah karena adanya gangguan terhadap kestabilan lereng. Misalnya karena ada bagian dinding sungai yang terkikis sampai dalam oleh derasnya aliran sungai lalu ambruk. Karena ada bagian lereng yang ambruk, maka gaya tahan gesernya terus melemah, dan akan dengan kuat menarik bagian atas lereng, yang gaya dorong gesernya semakin menguat.
Longsor di bagian atas akan berhenti bergerak turun ketika gaya dorong gesernya sama dengan gaya tahan gesernya, sehingga terjadi kestabilan lereng. Namun, bila ada pemicu lain, seperti adanya material longsoran yang ambruk ke sungai, atau turun hujan yang menyebabkan tanah gembur hasil longsoran menjadi jenuh air kemudian meluncur ke lembah atau sungai, maka lereng menjadi tidak stabil, dan longsor akan terjadi kembali.
Longsor dapat terjadi karena lahan gembur di lereng bawah yang digarap menjadi kebun dan dibiarkan terbuka tak berpelindung pepohonan, tanah gembur yang subur itu akan berubah menjadi bubur yang meluncur ke lembah-lembah, bila air meteorik tercurah di sana. Longsor itu bisa juga terjadi ketika di bagian bawah lereng ada yang dipotong tegak lurus. Ketika lereng mencari keseimbangan baru itulah akan menarik lereng bagian atasnya.
Ketika longsor sudah berakhir, akan terlihat mahkota longsor di bagian atas yang melengkung dengan dindingnya yang curam. Di bawahnya, di jari kaki longsor, terdapat bagian tanah yang bertumpuk, membentuk gundukan yang menyerupai bukit kecil. Aliran sungai yang tertimbun material longsoran, akan terbendung lalu bobol kembali, atau alirannya bergeser menyesuaikan ke tempat yang lebih rendah di bawah jari kaki longsor.
Karena proses waktu, lahan bekas longsor kembali stabil, dan lerengnya kembali seimbang. Tanah longsoran yang tertimbun di bawah, di bekas jari kaki longsor sudah padat menguat. Bentuk gundukannya terlihat seperti bukit kecil yang ditempelkan, seperti digendongkan ke dinding yang lebih lebar. Sementara di lembahnya, aliran sungai melengkung melingkari jari kaki longsor.
Rona bumi seperti itu terdapat di Kampung Gandok yang berada di Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Yang paling nyata terlihat saat ini adalah aliran Ci Kapundung yang melengkung di jari kaki timbunan longsor masa lalu. Bila diukur, lebar jari kaki longsor (utara – selatan) sama dengan lebar bagian Ci Kapundung yang terbelokan, yaitu sekitar 200 m. Dan, bagian Ci Kapundung tertekan oleh material longsoran ke arah timur, bergeser sekitar 150 m – 200 m.
Nama geografis atau toponim, bila ditelusuri arti namanya, dapat direkonstruksi peristiwa alam apa yang pernah terjadi di sana, seperti toponim Gandok. Peristiwa alamnya bisa menyerupai itu, atau dengan sebab yang berbeda, namun menghasilkan rona bumi yang sama, ada bentukan yang seperti digendong. Seperti di Kabupaten Bandung Barat, Kampung Gandok terdapat di Desa Cikadu dan di Desa Cintakarya, Kecamatan Sindangkerta, dan Kampung Gandok di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang.
Di Kabupaten Bandung, toponim Gandok terdapat di Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, di Desa Bojongsalam, Kecamatan Rancaekek, dan Karanggandok di Desa Srirahayu, Kecamatan Cikancung. Di Kabupaten Garut Kampung Gandok terdapat di Desa Simpang, Kecamatan Cikajang, di Desa Karyajaya, Kecamatan Bayongbong, dan Sedagandok di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet. Di Kabupaten Tasikmalaya Kampung Gandok terdapat di Desa Margamulya, Kecamatan Sukaresik, di Desa Ancol, Kecamatan Cineam, di Desa Bungursari, Kecamatan Bungursari, dan di Desa Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari.
Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang
Di Kabupaten Ciamis terdapat Pasir Gandok di Desa Bunter, Kecamatan Sukadana, dan Dusun Gandok di Desa Sukadana. Di Kabupaten Majalengka terdapat di Desa Kertabasuki, Kecamatan Maja. Di Kabupaten Sukabumi terdapat di Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung. Di Kabupaten Bogor terdapat di Desa Rawakalong, Kecamatan Gunung Sindur, di Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Di Kabupaten Bekasi terdapat di Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukakarya. Di Kabupaten Karawang ada toponim Desa Kutagandok di Kecamatan Kutawaluya. Di Kabupaten Cirebon ada Blok Gandok di Desa Girinata, Kecamatan Dukupuntang. Di Kabupaten Kuningan terdapat di Desa Kertawangunan, Kecamatan Sindangagung. Di Kabupaten Kuningan ada Pemakaman Kebongandok di Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus. Dan di Kabupaten Indramayu, toponim Gandok terdapat di Desa Panyindangan Kulon, Kecamatan Sindang.
Nama geografis itu tidak sekedar nama tempat, tapi, di baliknya terdapat riwayat peristiwa alam dan budaya, bila mengetahui maknanya. Inilah nilai strategis toponim, dapat menjadi cermin, pembelajaran, dan upaya mitigasi bagi warganya. (*)