Pagi itu, selepas ngaji subuh di Komunitas Belajar Musi, Aa Akil (11 tahun) tidak langsung pulang. Justru menghampiriku dengan langkah tergesa-gesa, meminta izin untuk pergi ke kampus bersama teman-temannya.
“Bah, boleh menbal sambil ngabeubeurang?” tanyanya.
Kujawab singkat, “Muhun.”
Tak lama bocah kelas 5 itu menoleh lagi, seolah memastikan restu itu benar-benar utuh. “Bah jalan-jalan ke UIN, kan? Hayu barengan.”
Mentari terasa lebih hangat dari biasanya. Dalam langkah sederhana Aa bersama kawan-kawan menuju kampus sambil nyanyi riang gembira. Ada semangat, ikhtiar kecil yang sesungguhnya besar untuk terus merawat ilmu, pertemanan, dan kepercayaan.
Memang setiap daerah (wilayah) memiliki cara tersendiri dalam menyambut Ramadan. Di tanah Sunda, bulan puasa bukan hanya tentang ibadah, tetapi tentang bahasa dan kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat. Sejumlah kosakata khas muncul dan digunakan lintas generasi, membentuk lanskap kultural yang unik dan menarik.
Salah satunya ngabeubeurang. Istilah ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan cermin struktur sosial, kebiasaan kolektif, bahkan dinamika ekonomi musiman.

Merawat Ngabeubeurang
Jika ngabuburit identik dengan sore hari, maka ngabeubeurang merujuk pada aktivitas di waktu siang. Berasal dari kata beurang (siang), istilah ini menggambarkan kegiatan sejak pagi hingga menjelang sore selama berpuasa.
Dalam kultur Sunda, istilah ini menunjukkan kesadaran akan ritme waktu. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana mengelola energi sepanjang hari.
Dari perspektif sosial, ngabeubeurang memperlihatkan strategi adaptasi masyarakat terhadap perubahan pola konsumsi dan aktivitas selama Ramadan. Produktivitas di beberapa sektor formal bisa menurun, tetapi sektor informal, terutama persiapan kuliner untuk berbuka, justru mulai bergerak sejak siang hari sampai waktunya berbuka puasa. (Ayo Bandung, 15 Feb 2026, 15:22 WIB)
Berikut lima aktivitas ngabeubeurang yang kerap mewarnai Ramadan, baik di perkotaan maupun pedesaan:

1. Ngadeureus dan Ngaji di Masjid
Sejak salat subuh hingga siang hari diisi dengan ngadeureus (mengaji bersama) yang dipimpin ajengan di masjid (Darussalam, Al-Hidayah, Al-Amanah, Ar Rohman), musala. Ibu-ibu biasanya memulai dengan membaca Surah Al-Fatihah, dilanjutkan tilawah dengan target khatam 30 juz selama Ramadan.
Anak-anak belajar mengaji bersama guru ngaji (Rumah Belajar Musi), ada yang masih di tahap Iqra, mengeja “alif ba ta tsa”, ada pula yang sudah mulai membaca Alquran dengan tartil. Suasana ini menghadirkan nuansa religius yang asyik, hangat dan menyenangkan.
Membaca Alquran menghadirkan beragam manfaat bagi kehidupan seorang Muslim.
Pertama, manfaat spiritual yang bersifat transendental dalam meningkatkan keimanan. Bagi Muslim, tidak ada keraguan terhadap Alquran. Tadabur terhadap ayat-ayatnya akan mendekatkan kita kepada Allah dan memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai aspek kehidupan, sehingga iman semakin kokoh.
Di dalam Alquran terdapat banyak ajaran luhur dan kisah umat terdahulu yang dapat menjadi pedoman dalam bertindak secara kontekstual di masa kini. Misalnya, Alquran yang diperjelas dengan berbagai hadis melarang praktik ekonomi monopolistik (QS Al-Hajj: 25) dan kecurangan dalam transaksi (QS Al-Mutaffifin: 2–3).
Kedua, manfaat rekreasional dalam arti luas, termasuk memberikan ketenangan dan relaksasi. Berbagai bukti ilmiah mendukung hal ini. Sebagai contoh, studi di Iran oleh Mahjoob et al. (2016) yang dipublikasikan dalam Journal of Religion and Health menemukan bahwa mendengarkan bacaan Alquran secara tartil, bahkan tanpa nada, dapat meningkatkan kesehatan mental dan ketenangan.
Studi lain oleh Magomaeva et al. (2019) merekam gelombang alfa menggunakan electroencephalograph (EEG) saat partisipan membaca dan mendengarkan bacaan Alquran. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Neurological Sciences ini menemukan aktivitas ini meningkatkan tingkat relaksasi dan berkontribusi pada optimalisasi fungsi sistem saraf pusat.
Ketiga, manfaat intelektual. Banyak ayat Alquran yang mengajak manusia untuk berpikir, bertafakur, dan merefleksikan berbagai fenomena empiris. Ini menunjukkan pentingnya membaca ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam).
Sebagai contoh, Alquran mengajak manusia untuk merenungkan langit yang ditinggikan, bumi yang dihamparkan, gunung yang ditegakkan, dan hujan yang diturunkan. Pada ayat-ayat lain, dijelaskan pula tentang penciptaan alam semesta dan, yang tidak kalah penting, penciptaan manusia. Semua itu menjadi dorongan bagi manusia untuk berpikir kritis sekaligus menyadari kebesaran Allah SWT. (Fathul Wahid, 2023:3-4)

2. Jalan Santai Mengelilingi Lingkungan
Sebagian ibu dan bapak memanfaatkan waktu menjelang siang untuk berjalan santai di sekitar lapangan (voli, basket, tugu kujang), kampus (1 Cibiru, 2 Cimencrang, Tritan, Lados Cipadung) perkantoran (pusat pemerintahan, Alun-alun). Aktivitas ini menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran tanpa menguras energi secara berlebihan.
Hasil penelitian menunjukkan berjalan kaki dengan intensitas ringan dapat menurunkan risiko kematian dan penyakit jantung. Jika diresepkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat, joging sebaiknya dilakukan dengan kecepatan minimal 2–3 km/jam selama total 100 menit per minggu (setara 200–300 MET/menit).
Bila dihitung, durasi itu setara dengan berjalan sekitar 10–15 menit setiap hari dalam satu minggu. Regimen ini sangat direkomendasikan untuk lansia karena durasi dan intensitasnya yang ringan dan relatif aman.
Bandingkan dengan usia yang lebih muda, durasi berjalan kaki dapat ditingkatkan hingga 150 menit per minggu agar memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal. Berbagai studi telah membuktikan bahwa berjalan kaki secara rutin dapat menurunkan angka kematian pada lansia dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali.
Dengan membiasakan berjalan kaki memberikan efek positif bagi individu dengan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes melitus. Semakin tinggi intensitas (tetap dalam batas aman), semakin besar pula manfaat kesehatan yang dapat diperoleh.
Jalan kaki merupakan olahraga intensitas rendah yang aman dan efektif dilakukan selama bulan Ramadan. Aktivitas ini membantu menjaga kebugaran, meningkatkan kesehatan kardiometabolik, mengontrol kadar gula darah. Tentunya, berjalan kaki sangat dianjurkan bagi lansia maupun pemula.
Dengan melakukan jalan kaki selama 15–30 menit efektif membantu menstabilkan gula darah. Meningkatkan fungsi kognitif dan membantu menjaga berat badan.
Waktu yang direkomendasikan sekitar 60–90 menit sebelum berbuka puasa, setelah salat Isya atau tarawih.
Meskipun puasa dapat menyebabkan penurunan aktivitas fisik, menjaga intensitas jalan kaki pada tingkat ringan, hingga sedang sangat dianjurkan untuk mencegah penurunan kebugaran dan menghindari risiko dehidrasi berat.
Berjalan kaki adalah aktivitas sederhana, murah, dan mudah dilakukan, namun memiliki manfaat besar bagi kesehatan. Pokoknya tidak ada alasan untuk menunda, mari mulai berjalan kaki demi hidup yang lebih sehat. (www.kemenkes.go.id)

3. Olahraga Ringan Anak-anak dan Remaja
Anak laki-laki kerap maenbal di lapangan sepak bola, futsal, voli, basket. Kendati, untuk di beberapa wilayah perkotaan, bahkan ada yang memanfaatkan ruas jalan dengan pengawasan warga sekitar.
Anak perempuan biasanya bermain badminton di GOR, halaman rumah, depan perkantoran yang relatif sepi saat siang hari Ramadan.
Dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Aspetar Orthopaedic and Sports Medicine Hospital, dibahas tema mengenai Ramadan dan sepak bola.
Dr. Yacine Zerguini, ahli ortopedi asal Aljazair, menyampaikan persoalan pemain sepak bola yang menjalani puasa merupakan hal yang kompleks dan tidak mudah dijelaskan.
Pengalaman Frédéric Kanouté menunjukkan dengan kepercayaan (keyakinan) yang kuat, puasa tidak selalu berdampak negatif pada permainan, justru shaum membuatnya semakin kuat saat bertanding. (www.sport.detik.com)

4. Permainan Tradisional
Di pedesaan, permainan tradisional seperti ucing-ucingan, petak umpet, bola sarung, engkle, egrang, congklak, kaleci (kelereng), boy-boyan, masih sering terdengar dan dilakukan anak-anak pada saat puasa. Permainan ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi berusaha mempererat kebersamaan dan menjaga tradisi permainan lokal agar tetap hidup di tengah arus digitalisasi.
Ada Komunitas Hong, yang mencoba melestarikan permainan tradisional Indonesia, khususnya kaulinan (permainan) yang dikenal di Tatar Sunda. “Sekarang jumlah yang sudah kami kumpulkan sudah ada 890 jenis,” kata pendiri Komunitas Hong, M. Zaini Alif.
Terutama yang terkait dengan daya kreatif, inovatif, jiwa sosial, kehidupan berbudaya, berbudi, dan beriman.(www.ciburial.desa.id)

5. Bersepeda dan Motor-motoran
Sebagian anak memilih bersepeda keliling kampung, kompleks perumahan. Ada pula yang bermain “motor-motoran” (mengendarai sepeda motor jarak dekat dengan pengawasan orang tua), ya sekadar berkeliling untuk mengisi waktu sebelum sore tiba.
Hasil riset menunjukkan bersepeda saat puasa dapat dilakukan dengan jarak dekat agar tidak terlalu melelahkan. Ini dapat membantu membakar lemak, kalori, yang bermanfaat untuk menyehatkan jantung dan mengencangkan otot.
Bersepeda termasuk jenis olahraga kardio yang berfungsi menjaga kesehatan jantung, paru-paru, melancarkan sirkulasi darah. Jika dilakukan secara rutin, bersepeda dapat membantu menurunkan kadar lemak dalam darah, sehingga memberikan efek positif bagi penderita tekanan darah tinggi.(www.dinkes.gorontaloprov.go.id)

Pada akhirnya ngabeubeurang bukan hanya aktivitas menunggu waktu siang hingga berbuka. Justru menjadi potret bersama bagaimana masyarakat Sunda merawat waktu siang Ramadan dengan ritme yang khas produktif, religius, dan dilakukan secara bersama-sama (berjemaah).
Dengan demikian, ngabeubeurang sejatinya menjadi madrasah kecil tentang manajemen diri untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, kebersamaan, dan keseimbangan. Siang hari yang panjang bukan untuk dikeluhkan, tetapi dimaknai dengan cara diisi aktivitas produktif, bermanfaat dan bernuansa religius.
Walhasil, berbagai tradisi Sunda, bahasa menjadi jembatan nilai, moral. Dengan melakukan aktivitas ngabeubeurang, kita belajar ihwal puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan bersama yang membentuk karakter dan menjaga keimanan yang kokoh. (*)