Kawasan Lembang yang kita kenal sekarang adalah sebagai destinasi wisata di utara Bandung yang cukup terkenal. Sebut saja berbagai tempat wisata kekinian, cafe–cafe nuansa hutan yang eksotis hingga wisata kuliner yang menggiurkan.
Namun, selain itu juga pembangunan wisata akan terus menerus menjamur di Lembang setelah dimulai pembangunan wisata terpadu di lahan bekas Grand Hotel Lembang yang legendaris itu menjadi kawasan hiburan kekinian yang sudah pasti akan merubah kawasan Lembang menjadi kawasan yang semakin ramai saja.Imbasnya ya sudah pasti adalah kemacetan dan minimnya kawasan resapan yang mengakibatkan banjir di sejumlah titik apabila memasuki musim penghujan.
Tapi tahukah kalian semua, dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa yang nantinya di ekspor oleh VOC ke kawasan Eropa. Dalam sebuah jurnal yang berjudul An Early List of Villages, Village heads, Familie, Tribute and Earning in Priangan, West Java 1680 atau Daftar Awal Desa, Kepala Desa, Keluarga, Upeti dan Pendapatan di Priangan, Jawa Barat 1680, pada halaman 11 dikatakan bahwa pada tahun 1680, kawasan Lembang memiliki 5 rumah besar dan dikepalai oleh satu orang cutak atau kepala dusun yang bernama Singamarta, dan mereka memberikan upeti kepada VOC.
Upeti yang dimaksud bukan hal–hal yang dekat dengan Lembang masa sekarang, seperti hasil peternakannya dan hasil pertaniannya namun, upeti yang diberikan kepada VOC pada tahun 1680 dari Lembang adalah bunga pohon Kesumba Keling. Bunga kesumba keling dahulunya tumbuh sangat subur di utara Lembang. Bunganya mengandung pigmen karotenoid biksin yang dapat menghasilkan warna kuning, orange dan magenta secara alami. Bunga kesumba inilah yang diincar VOC untuk nantinya dikirim ke Eropa guna mewarnai kain – kain yang akan menjadi gaun – gaun wanita kelas atas Eropa.
Setelah saya meriset hal ini lebih dalam lagi, ditemukanlah bahwa kawasan utara Lembang tersebut adalah kawasan kampung Cilameta, tepatnya sekarang berada tidak jauh dari puncak Jayagiri, mungkin yang suka trekking ke puncak Jayagiri sudah tidak asing dengan kawasan ini. Dahulu di sana terdapat sebuah dusun yang cukup ramai.
Pada masa VOC ramai karena upeti khasnya, dan pada masa budi daya kina, ramai karena dijadikan tempat pemisahan batang dan kulit kina, hingga warga lokal sering menyebutnya sekarang dengan kawasan pabrik kulit, ternyata kulit yang dimaksud itu adalah kulit kina. Sayangnya desa Cilameta ini harus punah dan warganya kebanyakan menyebar ke arah selatan mendekati kawasan perekonomian dan alun – alun Lembang sebagai pusatnya.

Selain itu ditemukan fakta menarik lainnya dari Lembang yaitu tentang arti kata Lembang itu sendiri. Lagi-lagi datanya saya peroleh dari sebuah jurnal berbahasa Belanda yang berjudul Het Nederlandsche Java Instituut, Javaansche Geographische Namen Als Spiegel Van De Omgeving En De Denkwijkze Van Het Volk. Pada halaman 3 dijelaskan bahwa diberi nama Lembang adalah karena dikawasan Lembang dahulu banyak sekali ditemukan sejenis rumput yang disebut rumput Lembang.
Rumput Lembang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Bulrush atau Cattail, dan dalam bahasa Indonesia sering disebut tanaman Lidi Air. Nama ilmiah dari rumut ini adalah Typha Latifolia. Dahulu ketika masa kolonial jenis rumput ini banyak ditemukan di kawasan bukit Bosscha sekarang, kawasan Baru Ajak hingga sungai – sungai kecil yang bermuara hingga ke kawasan Situ Umar, yang sekarang berubah menjadi kawasan wisata kekinian Floating Market Lembang.
Dari kedua jenis tumbuhan di atas yaitu kesumba keling dan rumput Lembang dapat diambil kesimpulan bahwa, dahulu Lembang merupakan kawasan hijau dan menyimpan aneka macam tumbuhan alami dengan berbagai kisah yang nyaris dilupakan. Mirisnya, kedua jenis tumbuhan yang menyimpan kisah sejarah akan Lembang tempo dulu tersebut sekarang nyaris tidak ditemukan lagi di Lembang.
Pohon kesumba keling tidak dapat ditemukan lagi di hutan Jayagiri, karena eksploitasi kawasan yang semakin parah. Dan, sama pula dengan nasib rumput Lembang yang tidak ditemukan sama sekali di kawasan yang dahulu banyak ditemukan. Pernah sesekali saya melihat rumput Lembang tersebut di kawasan hutan Tangkuban Parahu, yaitu di kawasan menuju kawah upas, namun karena sekarang kawasan tersebut semakin viral oleh pendakian, saya belum sempat mengeceknya kembali.
Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa Lembang adalah kawasan yang telah banyak bersalin rupa. Lembang yang kita kenal sekarang adalah Lembang yang telah banyak melalui rangkaian kisah.
Baca Juga: Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda
Saya akan mulai memperkenalkannya kepada para pembaca semuanya masa lalu Lembang yang unik, dari mulai masuknya pengelolaan perkebunan teh, kopi dan kina di masa tanam paksa, masa masuknya orang–orang Afrika Selatan yang nantinya akan memberikan torehan sejarah tentang perkembangan pertanian sayuran dan peternakan; yang secara tidak langsung mengajarkan kita sejarah sayur mayur dan susu yang umum terdapat di meja makan kita hari ini adalah rangkaian kisah panjang yang dahulu dimulai di tanah Lembang, dan kisah menarik Lembang lainnya yang merupakan kawasan tempat menyerahnya Hindia Belanda kepada Jepang; yang apabila dalam buku sejarah di sekolah kita hanya diberi tau bahwa Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang, padahal itu adalah rangkaian kisah panjang dan berliku yang ada di tanah Lembang.
Semoga bermanfaat dan salam kenal untuk semua pembaca, salam sejarah dari Lembang! (*)