Dahulu kukira langit Bandung itu terus membiru. Ternyata angkasa di atas cekungan danau purba itu tidak berbeda dengan kota besar lainnya. Udara di sebagian besar sudut kota terasa panas. Udara yang terhisap ke paru-paru kita tidak lagi terasa segar. Bandung yang sejuk dan segar sudah menjadi cerita masa lalu.
Bahkan langit bisa dibilang tidak bersahabat lagi dengan wilayah yang pernah dijuluki Kota Kembang. Peristiwa hujan lebat yang disertai angin kencang yang menerjang Kota Bandung dan sekitarnya pada tanggal 3 April 2026 menyadarkan warga kota tentang misteri langit yang kian tidak bersahabat.
Dari langit kita bisa mengetahui tanda-tanda alam semesta. Hujan deras yang disertai angin kencang merobohkan pohon dan papan reklame. Bahkan telah memakan korban jiwa dan beberapa terluka. Kondisi langit pada musim hujan maupun kemarau mengandung petaka. Setelah diterjang banjir bertubi-tubi kini BMKG memperingatkan akan datangnya El Nino yang bisa mencekam langit jika tidak ada komitmen semua pihak untuk mencegah pencemaran udara diatas cekungan Bandung Raya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa saat ini kita semua sudah tidak lagi berada di era pemanasan global, melainkan telah memasuki era pendidihan global. Peningkatan temperatur global menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Waspada Awan Hitam Berbentuk Corong
Bulan April saat ini adalah musim pancaroba yang bisa menimbulkan hujan badai dan angin puting beliung sewaktu-waktu. Di bulan ini fenomena langit bisa berubah dengan cepat. Panas terik bisa berganti hujan lebat yang disertai dengan angin ribut.
Fenomena langit di atas rumah saya di minggu pertama bulan April ini sering tampak aliran angin yang membawa partikel dari arah barat menuju timur yang terlihat hitam pekat dengan kilatan petir. Sepertinya angin dari arah barat yang membawa aliran partikel itu “bertumbukan” dengan awan gelap di timur. Tampak dari kejauhan bidang awan yang berbentuk corong turun dari ketinggian.
Ini bisa terlihat karena rumah kami menghadap kearah timur, depan rumah kebetulan masih berupa sawah, jadi masih bisa melihat pemandangan langit yang luas. Sering terlihat awan gelap yang pekat di sebelah timur Rancaekek, khususnya di sepanjang Jalan Raya Cileunyi – Cicalengka – Garut yang di kiri kanan jalan tersebut adalah Kawasan industri, perdagangan dan perumahan.
Jika kita jeli akan terlihat awan hitam dan bentuk bidang corong tampak bergerak ke atas lalu menghilang dan langit menjadi terang Kembali. Tahun lalu, di perumahan Rancaekek sebelah timur, tidak jauh dari lokasi kejadian saat ini juga terjadi angin ribut yang sangat dahsyat. Menghancurkan genting, atap,kanopi di salah satu komplek perumahan dengan tingkat kerusakan yang parah. Sejak kami tinggal di Rancaekek, daerah ini memang tergolong daerah dengan hembusan angin yang kencang, meskipun musim kemarau. Selain itu intensitas sambaran petir juga cukup tinggi. Rancaekek adalah daerah aneka bencana, selain banjir yang terus melanda, kini juga lahir bencana bertajuk “Tornado Rancaekek”.
Kejadian puting beliung dahsyat yang mirip dengan “anak” badai Tornado di Amerika Serikat, membuat saya penasaran dan langsung teringat kepada salah satu pakar di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yakni Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, PRIMA-BRIN, Doktor Erma Yulihastin.

Mekanisme Cuaca Ekstrim
Saya mengikuti akun sosmed Dr.Erma yang sangat inten membahas perubahan cuaca ekstrim.
“Indonesia saat ini diancam oleh dua hal akibat dari cuaca ekstrim, yaitu kekeringan dan banjir karena hujan ekstrim. Keduanya adalah bentuk yang paling sederhana dari yang akan kita hadapi ketika suhu meningkat secara signifikan,” tutur Erma.
Dia menyampaikan perlunya inisiatif untuk membangun bangsa yang siaga terhadap cuaca, membangun kesadaran masyarakat agar siap dan tanggap pada cuaca. Perlunya pemerintah pusat dan daerah untuk membentuk komite cuaca ekstrim, untuk meminimalisir dampak buruk atau korban jiwa yang mungkin terjadi akibat dari cuaca ekstrim ini.
BRIN melakukan kajian perubahan iklim (2021-2050) khusus wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI). Kajian yang menggunakan teknik dynamic downscaling resolusi tinggi dari tim periset BRIN tersebut, menunjukkan kekeringan dan hujan ekstrem mengalami peningkatan signifikan.
Menurut Erma riset-riset yang dikaji oleh BRIN adalah untuk mengetahui lebih dalam mekanisme-mekanisme cuaca ekstrim yang ada di Indonesia ketika terjadi perubahan iklim.
Terkait dengan badai dahsyat yang pernah melanda Rancaekek tahun lalu, Erma menyatakan lewat akun sosmednya, bahwa angin puting beliung dahsyat muncul wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung dan sebagian wilayah Sumedang,itu adalah mirip badai Tornado. Merusak sejumlah bangunan, pohon tumbang, truk terguling dan sepeda motor terjatuh. Kejadian itu juga menyebabkan 29 orang mengalami luka-luka.
Erma Yulihastin telah menyalakan alarm kewaspadaan badai dahsyat yang berpotensi melanda pelosok negeri ini. Tahun lalu Erma pernah menjadi perhatian publik karena ia juga menyalakan alarm kewaspadaan terkait potensi bencana hidrometeorologi. Akibatnya gaduh menggemuruh di seantero negeri karena masih banyak pihak belum ngeh dengan kajian Wanita kelahiran Lamongan Jatim itu.
Bagi saya Erma adalah sang pembaca tanda-tanda langit yang hebat, jujur dan lugas. Wanita peneliti itu lahir dari pasangan Misnur Syamin dan Umi Kulsum. Lahir pada tanggal 4 Juli 1979 di Lamongan, Jawa Timur. Bungsu dari dua bersaudara ini menamatkan sekolah hingga SMA di Lamongan. Pelajaran sekolah yang digemari adalah Fisika dan Matematika. Penyuka soto Lamongan ini juga senang menulis karangan dan puisi sejak masih di bangku SD.
Pada tahun 1997 ia melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Semasa kuliah ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Keluarga Mahasiswa Islam ITB (Gamais ITB), Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), dan sebagai aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ketika menjadi mahasiswa, tulisan-tulisannya tersebar di Harian Umum Pikiran Rakyat dan media internal lainnya.
Sebagai periset klimatologi, konsentrasi studi yang Erma lakukan selama ini adalah mengenai perilaku hujan yang memicu extreme event dengan dampak meluas, seperti: banjir di Jakarta/Jabodetabek yang bisa dipicu oleh perilaku hujan ekstrem yang persisten (lebih dari 6 jam).
Menurut Erma, dirinya sering memakai istilah "badai dahsyat" untuk menggantikan istilah ilmiah dua jenis badai yang sedang intensif terjadi di Laut Jawa (badai MCC) dan Samudra Hindia (badai derecho/squall line) dan keduanya bergerak mendekati kawasan Jabodetabek. Langit sering kali menggambarkan suasana hati kita, juga suasana kebangsaan. Tengadahlah ke langit, agar komitmen untuk menjaga angkasa tetap ada.

Enigma Sepanjang Zaman
Selama ini kita sering menjadikan langit sumber tawakal dan ikon imajinasi yang luasnya tiada tanding. Alam memberi sinyal yang tergambar di langit kepada manusia jika akan terjadi hal-hal yang luar biasa. Baik yang menyangkut bencana maupun perubahan cuaca.
Hanya saja, sinyal tersebut belum semuanya dapat diterjemahkan oleh sensor buatan manusia. Meskipun teknologi sensor atau transduser dan teknologi big data pada saat ini sudah cukup canggih serta memiliki tingkat akurasi yang tinggi, namun masih banyak sinyal dari alam yang belum mampu diterjemahkan kedalam bahasa ilmu pengetahuan. Sehingga menjadi enigma atau teka-teki sepanjang zaman. Langit biru yang lestari tentunya menjadi Impian segenap warga kota. Sirnanya langit biru dan buruknya kualitas udara disebabkan beberapa faktor. Pertama, asap dari transportasi. Kedua, asap dan debu industri atau pabrik ikut berkontribusi. Ketiga, penggunaan energi batu bara, dan keempat bisa karena pembakaran hutan, ladang dan semak belukar.
Sebaiknya kita sering menengok langit. Karena langit adalah cermin yang tidak pernah dusta. Disana juga ada tanda-tanda yang seharusnya membuat para pemimpin bangsa dan segenap warga kota mawas diri. Salah satu tanda yang bisa disimak adalah betapa mengerikan bahaya pencemaran udara yang kian mencekam seisi kota . Apalagi beberapa kawasan di negeri ini, seperti misalnya Bandung Raya yang secara geografis seperti kaldera, karena dikelilingi oleh pegunungan kondisi lingkungannya semakin terdegradasi.

Belum lagi eksistensi Perda Pengendalian Pencemaran Udara (PPU) kurang memberikan arti dan krisis implementasi. Pada musim pancaroba berbagai fenomena difusi cahaya di langit akibat pekatnya kabut polusi akan sering muncul. Menjadi sinyal yang memberikan peringatan adanya pencemaran udara yang serius. Kesadaran ilmiah masyarakat mesti ditumbuhkan. Bencana pencemaran udara karena ulah manusia tidak kalah gawatnya dengan bencana gempa bumi. Kita tidak bisa mengingkari bahwa sampah kota yang beratnya mencapai ribuan ton tersebut sudah pindah ke udara akibat proses pembakaran.
Sekarang ini sumber pencemaran udara di beberapa kawasan sulit dikendalikan lagi. Diperlukan pemimpin yang memiliki tangan besi untuk menegakkan Perda PPU tanpa pandang bulu. Pentingnya komitmen yang kuat dari pemimpin daerah yang menyangkut hak rakyat untuk menghirup udara bersih. Rakyat juga harus selalu menuntut kepedulian Pemkot Bandung terhadap penanggulangan pencemaran udara. (*)