Pendidikan menjadi aset dan investasi jangka panjang. Bahkan tidak sedikit orang yang terangkat derajatnya karena melalui pengalaman pendidikan. Melalui pendidikan dapat membentuk pola pikir dan emosional seseorang yang lebih matang. Walaupun memang pendidikan dapat dilakukan secara formal dan non formal. Namun, semua itu pada dasarnya pendidikan sebagai usaha secara sadar untuk membentuk jiwa dan kepribadian supaya menjadi manusia yang humanis dan berdampak bagi lingkungannya.
Pergerakan Taman Siswa dahulu sebagai bentuk nyata dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan saat itu menjadi alat mobilisasi politik dan penyejahtera umat, menghasilkan kepemimpinan anak bangsa untuk memimpin rakyat, dan memperoleh pemerataaan pendidikan yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Saat itu Ki Hadjar Dewantara mendobrak pendidikan kolonial yang dianggap tidak sesuai dengan jiwa kepribadian Bangsa Indonesia karena menekankan pada matearilistik, individualistik, dan intelektualistik, sehingga diluruskan oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi humanis dan populis, serta memayu hayuning bawana (memelihara kedamaian dunia). Oleh karena itu, pendidikan bukan mengajarkan kepintaran (sekadar pengajaran), tetapi mengembangkan kecerdasan secara kodrati untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Pendidik adalah agen yang krusial dalam membangun murid-murid menjadi manusia humanis dan menuntun secara kodrati. Pola pikir yang dimiliki seorang Guru perlu menerapkan pola pikir bertumbuh agar menuntun para muridnya didalam pengalaman pembelajarannya menjadi peluang untuk belajar tumbuh dan berkembang. Sebagaimana patrap Guru atau tingkah laku guru yang selama ini kita kenal dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi landasan untuk para pendidik dalam membentuk pola pikir bertumbuh, yaitu "Ing Ngarsa Sung Tulada" (di muka memberikan contoh), "Ing Madya Mangunkarsa" (Di tengah membangun cita-cita), dan "Tut Wuri Handayani" (mengikuti dan mendukungnya). Darisanalah kita bisa memandang bahwa Guru menjadi titik krusial yang memengaruhi timbal balik murid agar memiliki pola pikir bertumbuh secara kodrat alam dan kemajuan berjalan secara kodrati. Maka dari itu, kita perlu sepakat bahwa setiap karakter murid memiliki perbedaan, sehingga guru hanya perlu menuntun untuk tumbuh atau hidup kekuatannya agar bisa memperbaiki lakunya (bukan dasarnya). Begitupun Guru dengan pola pikir bertumbuh menentukan timbal balik merespon tantangan agar memotivasi dan menginovasi untuk mencapai keberhasilan murid, serta guru-guru di belakang harus bisa memengaruhi dan memberikan jalan dengan menuntun tumbuh kembang potensi diri.

Alternatif penulis pernah lakukan dalam pendidikan yang berpusat pada murid, yakni Guru tidak harus terfokus pada penyampaian materi pembelajaran yang disampaikan, melainkan materi pembelajaran adalah alat untuk melihat potensi murid. Darisanalah Guru didalam proses pembelajaran sebagai ruang untuk "mencari bibit" (murid diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya). Hal tersebut memberikan ruang kebebasan positif dan pemikiran merdeka (Ngemong) untuk menumbuhkembangkan potensi diri yang selama ini belum terekspose.
Melalui kegiatan tersebut murid-murid akan merasa nyaman dalam mengikuti pembelajaran karena diarahkan sesuai dengan hobi relevan dengan individu masing-masing. Serta yang paling penting dalam keberhasilan kegiatan tersebut adalah keterbukaan guru, dalam artian mau memberikan bimbingan tambahan di luar jam pelajaran, terkadang guru mau memberikan ruang untuk menggali potensi diri murid, namun enggan memberikan fleksibelitas kepada murid untuk tumbuh dan berkembang di luar jam pelajaran, sehingga perlu dibekali dengan eksplorasi tambahan, namun tidak absolut mengikuti rutinitas guru tetapkan, melainkan guru hanya perlu menuntunnya bukan memaksa muridnya.

Pendalaman materi filosofi pendidikan dan pendidikan nilai mulai saya perkuat dalam kegiatan perkuliahan Pendidikan Profesi Guru (PPG), termasuk didalamya berupa pemikiran dan visi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, serta kepribadian Guru itu sangat diperlukan memiliki pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) yang menjadi timbal balik untuk para murid.
Keberhasilan murid didukung atas motivasi dan ruang positif untuk membangun cara belajar murid, serta fleksibelitas tanpa paksaan juga mendukung dalam mengeksplorasi minat dan bakatnya. Dengan demikian, perlu diketahui bahwa “murid tidak akan mau belajar dengan guru yang mereka tidak disukainya”. (*)
RUJUKAN
- Wiryopranoto,Suhartono. (2017). Ki Hadjar Dewantara Pemikiran dan Perjuangannya.Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Samho,Bartolomeus. (2013). Emong Among Pamong Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tantangan dan Relevansi.Yogyakarta: Kanisius.