Ayo Netizen

Tren Rambut Lady Diana

Oleh: bram herdiana Jumat 10 Apr 2026, 08:30 WIB
Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)

Pada dekade tahun 1980-an, Kota Bandung mengalami geliat gaya hidup yang begitu dinamis. Selain dikenal sebagai Kota mode, Bandung juga menjadi pusat tren kecantikan, terutama dalam hal penataan rambut. Salah satu fenomena yang paling mencolok saat itu adalah menjamurnya gaya rambut ala Lady Diana yang begitu digandrungi oleh para wanita, mulai dari remaja hingga ibu rumah tangga.

Gaya rambut Lady Diana dikenal dengan potongan pendek berlapis atau layered, berponi ke samping kanan dan terlihat anggun, simpel meski sederhana. Model ini memberikan kesan elegan sekaligus modern, sangat cocok dengan semangat perempuan urban pada masa itu. Tidak heran jika foto-foto Lady Diana sering dijadikan referensi utama di salon-salon kecantikan di Bandung.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Lady Diana atau Lady Di sendiri. Diana Frances Spencer, yang kemudian dikenal sebagai Princess of Wales, setelah menikah dengan Pangeran Charles dari kerajaan Inggris adalah ikon global yang tidak hanya terkenal sebagai bangsawan, tetapi juga karena kepribadiannya yang hangat dan gaya busana yang memikat. Ia sering tampil dengan gaya yang relatable, tidak terlalu kaku seperti citra kerajaan pada umumnya. Hal ini membuat banyak wanita di seluruh dunia, termasuk Indonesia, merasa terhubung dengannya.

Termasuk juga di Bandung, tren rambut ala Lady Diana menjadi simbol modernitas. Salon-salon kecantikan yang sedang tumbuh pesat di berbagai sudut kota, seperti terlihat di kawasan Gatsu, Kiaracondong, Cicadas, Ciateul, Burangrang dan Riau banyak menerima gawean. Para pemilik salon berlomba-lomba menawarkan layanan potong rambut 'Diana style' dengan harga yang bervariasi, tergantung fasilitas dan reputasi salon tersebut.

Para wanita Kota Bandung pada masa itupun sangat antusias mengikuti tren ini. Bagi mereka, memiliki gaya rambut seperti Lady Diana bukan sekadar mengikuti mode, tetapi juga bentuk ekspresi diri. Rambut pendek yang sebelumnya dianggap kurang feminin, justru menjadi simbol kepercayaan diri dan kemandirian perempuan kota. Ini juga sejalan dengan meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan pendidikan di era tersebut.

Putri Diana. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: John MacIntyre)

Selain itu, perkembangan media massa juga turut mempercepat penyebaran tren ini. baik koran-koran atau majalah-majalah wanita seperti Femina dan Kartini sering menampilkan gaya rambut dan busana Lady Diana. Siaran televisi yang mulai berkembang juga menayangkan liputan tentang keluarga kerajaan Inggris, sehingga masyarakat Indonesia semakin mengenal sosoknya.

Puncak euforia terhadap Lady Diana di Indonesia terjadi ketika ia melakukan kunjungan resmi pada November tahun 1989. Dalam kunjungan tersebut, Lady Diana bersama Pangeran Charles disambut hangat oleh masyarakat Indonesia. Mereka mengunjungi beberapa tempat penting, termasuk Jakarta dan Yogyakarta. Kunjungan ini menjadi peristiwa besar yang diliput luas oleh media nasional dan internasional.

Bagi masyarakat Bandung, meskipun tidak secara langsung dikunjungi, kehadiran Lady Diana di Indonesia tetap memberikan dampak besar. Banyak wanita yang semakin terinspirasi untuk meniru gaya rambutnya. Salon-salon bahkan mengalami lonjakan pelanggan setelah kunjungan tersebut, karena permintaan terhadap potongan Diana meningkat drastis.

Menariknya, tren ini juga melahirkan kreativitas lokal. Para penata rambut di Bandung tidak hanya meniru, tetapi juga memodifikasi gaya Lady Diana agar sesuai dengan bentuk wajah dan karakter rambut wanita Indonesia. Hasilnya adalah variasi gaya yang tetap memiliki ciri khas Lady Di, namun lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal.

Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana getaran globalisasi budaya terasa waktu tahun 1980-an. Tanpa adanya media sosial seperti sekarang, tren dari luar negeri tetap bisa masuk dan mempengaruhi gaya hidup masyarakat lokal.

Lady Diana yang meninggal dunia pada 31 Agustus 1997 di usia 36 tahun akibat kecelakaan mobil tragis di terowongan Pont de l'Alma, Paris, Prancis, dapat dijadikan salah satu contoh nyata bagaimana seorang publik figur dapat membentuk selera estetika di berbagai belahan dunia.

Namun, tren ini berubah saat memasuki tahun 1990-an, gaya rambut mulai berubah mengikuti perkembangan zaman berikutnya. Rambut panjang lurus dan gaya layering yang berbeda mulai menggantikan dominasi potongan ala Lady Diana. Meski demikian, jejak tren rambut Lay Di tetap membekas dalam sejarah fashion dan kecantikan di Bandung.

Secara keseluruhan, tren rambut ala Lady Diana di Bandung pada tahun 1980-an bukan hanya soal gaya, tetapi juga cerminan perubahan sosial dan budaya. Dari menjamurnya salon hingga meningkatnya kesadaran akan penampilan, semua itu menjadi bagian dari perjalanan masyarakat kota dalam menyambut modernitas. Lady Diana, dengan pesonanya yang khas, telah menjadi bagian dari cerita tersebut sebuah ikon yang tidak hanya hidup dalam sejarah dunia, tetapi juga dalam kenangan banyak wanita Indonesia. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam