Ayo Netizen

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Oleh: Kin Sanubary Minggu 12 Apr 2026, 08:52 WIB
Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Bandung, bagi banyak orang mungkin hanyalah kota di dataran tinggi yang dikenal dengan kesejukan udara dan geliat warganya. Namun bagi mereka yang pernah menjalaninya pada era 1990-an terlebih sebagai anak kost, Bandung adalah lembar hidup yang penuh cerita, sederhana namun membekas. Di sanalah, di antara gang sempit, warung kopi murah, dan deru angkot yang tak pernah benar-benar sunyi, tumbuh kenangan-kenangan kecil yang justru terasa paling utuh hingga hari ini.

Berbicara tentang Bandung pada era 1990-an, ingatan saya seketika melayang jauh ke masa itu, sebuah masa ketika hidup terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kehangatannya. Sebagai seseorang yang lahir pada dekade 1970-an dan pernah tinggal di Bandung pada tahun-tahun tersebut, ada banyak serpihan kenangan yang masih tersimpan rapi, seperti kaset lama yang tak pernah benar-benar usang.

Bandung pada masa itu bukan sekadar kota. Ia adalah ruang perasaan. Tempat di mana dingin udara pagi menyusup sampai ke tulang, namun selalu berhasil dihangatkan oleh secangkir kopi murah di warung pinggir jalan, atau obrolan panjang tanpa arah bersama kawan-kawan senasib para anak kost yang hidup dari kiriman bulanan yang pas-pasan.

Sebagai anak kost, hidup kami di Bandung 90-an penuh dengan irama yang khas. Bangun pagi seringkali bukan karena alarm, melainkan suara ketukan pintu teman sebelah kamar yang mengajak sarapan atau sekadar numpang mandi karena air di kosannya mati. Sarapannya tentu saja bukan perkara mewah. Bubur ayam di pinggir jalan, nasi kuning yang dibungkus kertas minyak, atau sekadar roti dan teh manis sudah cukup untuk mengawali hari.

Transportasi saat itu pun punya romantismenya sendiri. Angkot dengan musik keras dari radio atau kaset bajakan menjadi "ruang publik” yang akrab. Kami terbiasa dengan trayek yang tetap, hafal mobil dan sopirnya, bahkan kadang hafal lagu-lagu yang diputar berulang-ulang. Duduk berdesakan tak jadi soal, karena justru di sanalah cerita-cerita kecil kota ini berdenyut.

Bermain musik jadi teman sunyi anak kost, pengusir rasa sepi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Siang hari, Bandung terasa hidup dengan hiruk-pikuk mahasiswa, pedagang kaki lima, dan lalu-lalang kendaraan yang belum sepadat sekarang. Kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, jatuh cinta, hingga merancang mimpi-mimpi besar yang seringkali terasa begitu dekat untuk diraih.

Menjelang sore, suasana berubah menjadi lebih syahdu. Udara mulai dingin, langit Bandung perlahan meredup, dan kami kembali ke kamar kost dengan langkah santai. Kadang berhenti di warung untuk sekadar membeli bubur kacang, mie instan, telur, atau kopi sachet bekal untuk bertahan di malam hari.

Dan bila malam hari tiba, Bandung pada era itu punya cerita yang lain lagi. Bagi anak kost, malam adalah waktu paling jujur. Di bawah lampu kamar yang temaram, kami menulis, membaca, mengetik, mendengarkan radio, atau berbincang panjang tentang masa depan yang masih samar. Sesekali, suara lagu dari radio, entah itu pop Indonesia atau lagu Barat yang sedang hits mengalun pelan, menjadi latar dari segala kegelisahan dan harapan.

Tak ada gadget, jaringan internet dan tak ada media sosial. Tapi justru karena itu, hubungan terasa lebih nyata. Kami bertemu langsung, tertawa bersama, bertukar cerita tanpa perantara layar. Persahabatan terjalin bukan dari notifikasi, melainkan dari kebersamaan yang sungguh-sungguh.

Kini, ketika Bandung telah berubah dengan segala modernitasnya, kenangan itu tetap tinggal, utuh, hangat, dan kadang datang tiba-tiba tanpa diundang. Aroma hujan, suara angkot, atau bahkan sekadar dingin udara pagi bisa menjadi pemantik yang membawa saya kembali ke masa itu.

Masa ketika hidup mungkin tidak mudah, tapi terasa begitu penuh.

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Waktu boleh berjalan jauh, mengubah wajah kota dan cara hidup penghuninya. Namun Bandung era 1990-an akan selalu punya ruang tersendiri di hati mereka yang pernah singgah dan bertahan di dalamnya. Ia bukan sekadar masa lalu, melainkan semacam penanda, bahwa pernah ada waktu ketika kebersamaan terasa begitu dekat, hidup berjalan apa adanya, dan kebahagiaan hadir tanpa banyak syarat. Dan dari sanalah, setiap kenangan itu terus hidup, diam-diam, namun tak pernah benar-benar pergi. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam