Ayo Netizen

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Oleh: Muhammad Assegaf Minggu 19 Apr 2026, 03:31 WIB
Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)

Doa adalah hal abstrak yang tak wujud, ia bisa dilihat dengan pancaindra pada makhluk yang memanjatkan doa itu. Setiap mahkluk hidup memiliki caranya sendiri dalam memanjatkan doa, bahkan sesekali berdoa tentang sesuatu hal yang menakjubkan. Hal ini terjadi berawal dari sebuah konteks, bahwa doa bukanlah imajinasi yang mesti dirangkai dengan kata-kata, ia bersifat kompleks, memohon pada ilahi yang maha agung.

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan. Inilah yang harus dicegah bahwa doa bukanlah alat untuk balas dendam tapi untuk berbelas kasih, berdasarkan hati nurani yang tulus dan ikhlas. Tentu setiap aspek kita selalu belajar mengucapkan kata “Bismillah..” yang mampu membuat setiap insan yakin dan memantaskan diri dalam melakukan sesuatu. Sabda adalah kata, dan doa adalah permohonan, serta media yang paling ampuh secara sungguh dan yakin. Doa terkadang menjadi hal yang mustahil karena tak nampak, doa itu akan telihat nampak apabila doanya itu terkabulkan.

Konteks dari doa sendiri adalah sebuah rencana, dan keyakinan yang secara tidak langsung menjadi sesuatu hal yang tak “mungkin”, menjadi “mungkin”. Hal mungkin menjadikan sebuah doa itu adalah kesyukuran atas sebuah karunia Tuhan yang mungkin bahwa ucapan adalah sebuah doa. Terkadangan renungan-renungan manusia dianggap sebagai doa dari sebuah tanda ucapan yang telah didengar oleh Tuhan dengan khusyuk.

Segala nikmat di dunia ini adalah sebuah ujian dari yang maha agung, ia adalah yang membuat skenario paling dahsyat yang mengutamakan manusia sebagai pemeran utama, dan meminta agar setiap manusia yang hidup agar selalu memberi sebuah penghormatan. Maka doa ini sebenarnya adalah sebuah pengelabuan manusia bahwa dirinya adalah sosok yang lemah, dan kepada Tuhanlah ia bepaling pada sosoknya yang lemah lembut karena doa adalah sebuah kejadian.

Chairil Anwar, penyair yang intens itu dalam sajaknya, “Doa”.

_Betapa susah sungguh_

_Mengingat kau penuh seluruh_

Mengingat Goenawan Muhammad dalam buku _“Catatan Pinggir_ ” mengkritisi tentang sajak doa yang di tulis Chairil Anwar dengan sudut pandang karya sastra yang hebat, “Tuhan adalah sebuah ekspresi yang ganjil: Tuhan tak pernah diingat karena ia tak berada di masa lalu. Ia selalu ada dalam kini, dan ia hadir bukan sebagai kenangan”. Tapi mungkin karena sajak itu menyatakan betapa sukarnya “mengingat” dan “mengingat” memang tak bisa mewujudkan kembali seutuhnya, apa pun, apalagi Tuhan.

Lebih dari sebuah sekadar peristiwa, sebuah kejadian membawa sesuatu yang tak diduga, tak direncanakan, bahkan lebih dari sesuatu yang tak dialami sebagai rutin. Tiap salat yang sempurna bukan ulangan salat sebelumnya. Tiap doa yang khusyuk bukan kalimat hafalan. Ia hanya sebuah metamorfosis: di sana, sesuatu menjadi. Dalam doa, aku dan engkau bersentuhan, bersua, dan bertaut. Tapi pada saat yang sama berjarak, aku tetap dalam keterpesonaanku dan engkau dalam keajaiban engkau. Kita memperlakukan Tuhan sebagai konsep yang abstrak, hanya menjadi sebuah formula saja. Seseorang yang merasa memiliki formula tentang Tuhan tak akan lagi terkesima, gentar, dan merunduk. Sering, tanpa disadarinya, ia anggap status formula itu setara dengan Al-Wujud sendiri.

Doa adalah sebuah perjalanan dialog yang terus diperbaharui, tentang sebuah rencana yang ingin terus-menerus dicapai. Sebagai jembatan dari “keyakinan” bahwa dari setiap doa yang dipanjatkan pasti akan terwujud dikemudian hari karena “keyakinan” adalah penyelesaian. Ini adalah sebuah intisari bahwa setiap doa berawal dari sebuah rencana, lalu meyakininya dengan sangat bijaksana. Keyakinan adalah derajat paling tinggi dari sebuah rencana hingga menjadi doa alam semesta, seperti halnya Thomas Alfa Edison “dalam keingannya membuat cahaya buatan yang sering kita sebut lampu sebagai penerang di malam hari, tentu konteks Tuhannya berbeda, tapi dalam sebuah perbedaan sekali pun bahwa ia mempercayai satu Tuhan, dan dari sebuah keyakinannya itu yang terus di uji menjadi sebuah impian dari atas doa yang ia panjatkan bisa terlihat sangat nampak.

Bersyukur adalah merasa lega, agak kaget, bahwa Tuhan menyapa tiap kali. Dalam lega dan kaget itulah doa sebuah kejadian yang misterius. Karena ia datang tanpa direncakan, meski pun sumbernya dari rencana, tapi kita memiliki aba, serta rasa bahwa kejadian itu bisa dirasakan. (*)

Reporter Muhammad Assegaf
Editor Aris Abdulsalam