Pepatah mengatakan “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, rasanya mulai menemukan makna bagi saya saat mengobrol santai dengan salah seorang teman perantauan di kampus. Untuk menghilangkan rasa tegang sebelum try out OSCE dimulai saya mencoba menjalin kedekatan karena kami hanya berkuliah secara offline selama satu bulan dan sisanya dilakukan dengan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker).
Bermula dari pertanyaan ”Apa sih yang membuat kamu memilih Bandung sebagai tempat kuliah” tak disangka bisa menjadi sebuah obrolan yang asyik dan menambah Khazanah baru bagi saya selaku masyarakat kelahiran Bandung.
Bandung memang selalu tampak menakjubkan bagi orang asing yang baru saja singgah, baik untuk berwisata, study tour, meeting kantor, bekerja juga kalangan mahasiswa yang ingin menuntut ilmu. Sebagian masyarakat di luar kota Bandung tampak mengagumi Braga sebagai arsitektur estetik untuk mengabadikan foto bersama keluarga. Lembang sebagai hutan sejuk yang bisa menghilangkan kepenatan dari hirup-pikuk perkotaan. Pangalengan dengan hamparan kebun teh yang mengingatkan kisah cinta remaja antara Rachel dan Farel dalam film My Heart. Ciwidey dengan kemegahan kawah putih yang identik dengan tempat penuh romansa. Juga Dago dengan segala ke moderan dan kelestarian alam yang masih bisa menyatu.
Sementara sisi lain kota Bandung yang gelap-sesak-durjana jarang tampak di permukaan. Di balik keeksotisan yang sering dibicarakan—banyak pula yang masih menjadi pr bagi Kota Bandung yang mesti diperbaiki. Banjir yang semakin parah dan meluas kemana-mana. Beberapa titik di kabupaten seperti Dayeuh Kolot, Banjaran, Baleendah tak luput dari air lumpur coklat yang meluap dari Sungai citarum. Sementara beberapa minggu terakhir derasnya air hujan menyebabkan banjir yang hampir memutus kegiatan masyarakat sekitar.
Kini banjir tak hanya merendam daerah kabupaten bandung tapi sudah merambah ke area perkotaan seperti Cibaduyut, Kopo, Gedebage. Drainase yang buruk juga pola hidup masyarakat yang belum memiliki kesadaran akan pengelolaan sampah- membuat Kota Bandung sangat rentan mengalami banjir ketika hujan deras datang melanda. Tak hanya itu Bandung yang dikagumi dengan vibes estetik yang hadir berdasarkan quote justru tak seindah kelihatannya. Misalnya sejumlah jalanan di Kota Bandung masih memiliki penerangan yang cukup buruk. Entah kurangnya fasilitas dari pemerintahan setempat juga akibat para oknum pencuri fasilitas umum.
Bandung yang sering dianggap perantau bisa menjadi jalan untuk memperbaiki hidup—faktanya masyarakat Bandung sendiri masih banyak yang menjadi pengangguran, masih banyak yang memiliki upah jauh di bawah UMR. Bandung yang dikenal dengan segala ketenangannya pun sebetulnya berbanding terbalik dengan tingkat kriminalitas yang kian tinggi seperti kasus pelecehan, kekerasan seksual, pembegalan hingga kasus pembunuhan.
Kembali kepada cerita seorang teman dari Sumatera yang sangat mengagumi kota bandung. Tak hanya dia bahkan kehadirannya di Kota Bandung sebagai mahasiswa sangat menjadi hal yang Istimewa bagi mayoritas masyarakat sebrang pulau Sumatera.
“Entah kenapa ya teh, pokonya kemaren pas kita pulang, tetangga pada bilang “ Ih keren ya kuliah di Bandung, hebat ya sudah jadi mahasiswa di Bandung, gimana kondisi disana ? pasti seru ya?”
Sejumlah teman saya yang berasal dari luar pulau jawa pun mengungkapkan hal yang sama tentang hal tersebut. Mereka senang sekaligus kaget karena berita yang menurut mereka biasa saja justru menjadi sebuah antusias bagi masyarakat di luar pulau jawa. Bagi mayoritas masyarakat Kota Bandung punya keistimewaan tersendiri dalam hati mereka tanpa mereka tahu penyebabnya. Mungkin istilah ini bisa kita analogikan seperti orang yang sedang jatuh cinta- sesuatu yang mengalir begitu saja kadang tanpa tahu alasannya apa.
Satu minggu liburan menjelang hari raya beberapa orang kembali ke kampung halamannya. Begitu juga dengan teman-teman saya yang merantau. Mereka mengatakan layaknya menjadi artis ibu kota yang baru saja pulang ke rumahnya. Begitu disambut dengan baik, dipuja-puji karena berhasil menjadi mahasiswa di Kota Bandung, pokonya saat lebaran mereka bisa menjadi pusat perhatian keluarga yang masyarakat sekitar.
Saya pun semakin penasaran apa yang membuat mereka begitu takjub dengan kota Bandung tapi mereka susah mengungkapkannya. Namun setelah mengobrol lebih jauh layaknya seorang detektif yang ingi menggali informasi lebih dalam—saya mencoba mengajukan beberapa pertanyaan lain yang akhirnya bisa mengumpulkan menjadi sebuah kesimpulan.
Pertama, bagi mereka Bandung memiliki udara yang sejuk dan suasana yang nyaman. Berbeda dengan pulau Sumatera yang setiap harinya teman-teman saya tidak bisa lepas dari kipas angin kini justru teman saya sangat bersahabat dengan selimut. Bahkan salah satu teman saya lainnya mengungkapkan banyak sweater yang awalnya hanya tinggal di lemari tapi setelah di Bandung pakaian tersebut jadi bermanfaat. Kedua, Bandung memiliki reputasi kampus yang sangat baik. Beberapa teman saya sangat kagum dengan berita-berita baik dari kampus ternama ITB, UNPAD dan Telkom University. Ketiga, Bandung adalah surga kuliner. Beberapa teman saya baru mengetahui tukang tahu bulat setelah kos satu bulan di Cibiru. Mereka banyak mencoba cita rasa dan varian makanan yang belum pernah mereka temukan di Sumatera. Hanya saja kekurangan makanan di Kota Bandung menurut mereka adalah tingkat rasa pedas yang kurang nendang dan dominan banyak makanan yang rasanya manis—khususnya bagi masakan yang tersedia di warteg.
“Aneh ya di Bandung tuh, ko sayur asam rasanya manis, harusnya kan asam ya”.

Begitulah sedikit protes mereka tentang kuliner sayur asam dan yang paling mencengangkan menurut mereka seblak di Bandung masih kalah rasanya dengan seblak di Sumatera. Seketika saya tertawa sekaligus penasaran dan ingin mencoba langsung seblak versi Sumatera ketika punya kesempatan ketika berkunjung kesana.
Terakhir yang membuat mereka senang kuliah di Bandung adalah banyaknya destinasi wisata yang bisa di eksplor sehingga bagi mereka ini menjadi asupan nutrisi ketika lelah dengan tugas perkuliahan. Bahkan hal pertama setelah mereka datang ke Bandung adalah pergi ke Braga, Dago, Pangalengan dan beberapa tempat wisata populer yang ada di Kota Bandung.
Begitulah kiranya bercerita dengan teman perantauan di kampus. Saya selalu mengira kalau orang sebrang itu keras dan nada bicaranya itu seperti marah-marah. Ternyata setelah berbicara lebih jauh bagi mereka hal itu adalah lumrah. Mereka bukan marah justru itu bahasa cinta dari rumah tempat mereka tinggal. Berbicara dengan mereka membuat saya makin memahami makna “ Bhinneka Tunggal Ika”.