Mengenang Kota Bandung di era masa lalu memang selalu menyenangkan. Sebagai anak dari kedua orang tua yang memiliki budaya dan suku yang berbeda—aku cukup senang bisa terlahir di Kota Bandung. Menurut cerita yang sering disenandungkan oleh Ibu tentang kelahiranku juga tentang Kota Bandung tempoe doloe—selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku.
Menurut ibu dulu aku lahir di paraji (dukun beranak) bernama Mak Euis- bukan di bidan atau Rumah Sakit seperti yang sering anak-anak sekarang alami. Menariknya nama asli aku saat ini tertulis karena sebuah kesalahan dan kurang telitinya Mak Euis. Dulu ibu bilang kalau namaku adalah Diaz Azhari tapi karena faktor kesalahan paraji berubahlah menjadi Dias Ashari. Sebetulnya aku sangat suka jika namaku tertulis di surat lahir dengan Diaz Azhari—rasanya lebih keren dan sedikit kebarat-baratan. Namun menjelang dewasa aku menyadari bahwa nama adalah sebuah doa—meski ada sedikit kesalahan tapi namaku masih memilki arti yang tidak kalah baik.
Ibu sering menceritakan bahwa dulu sebelum krisis moneter melanda Indonesia, harga barang-barang terlampau murah. Ibu menceritakan bahwa dengan upah kerja sebagai pembantu rumah tangga bisa mengumpulkan emas beberapa gram sebagai akseroris juga barang investasi untuk masa depan. Harga bahan pokok untuk masak pun terasa tidak terlalu membebankan kondisi rumah tangga yang baru seumur jagung. Menariknya selain harga murah juga kualitas barang sudah teruji oleh waktu. Di rumah ibu ada lemari kayu jati yang masih kokoh berdiri padahal sudah mengalami beberapa kali pindahan selama ibu mengontrak.
Aku sering mendengar cerita Bandung di masa lalu dari ibu. Kata Ibu, cuaca Bandung saat itu sangat romantis. Di pagi hari dengan suhu udara yang sangat dingin juga diselimuti oleh kabut yang membuat suasana semakin syahdu. Menurut ibu yang berasal dari suku Jawa—cuaca Bandung itu sangat magical. Pagi hari bisa mendadak hujan gerimis—menjelang pukul 09:00 berubah menjadi hangat dengan sinar mentari yang muncul dengan malu-malu—mendadak pukul 12:00 hujan rintik muncul kembali dengan udara yang sejuk dan syahdu.
Dibandingkan dengan eraku saat ini—rasanya sangat sulit menemukan kondisi ini kecuali di Bandung Selatan seperti Ciwidey atau tempat-tempat lainnya di Kota Bandung yang masih memiliki vegetasi hutan yang sangat baik.
Terlepas dari lebih dan kurangnya kota ini – Bandung tetap menjadi rumah yang paling hangat ketika aku masih kecil. Bermain di pematangan sawah sembari menangkap impun (ikan dengan ukuran kecil) bahkan beberapa anak laki-laki sering ngurek belut (memancing belut) yang hasil tangkapannya dimasak lalu dimakan bersama di saung (gubug). Kenangan itu tak lama karena sawah cepat berganti dengan bangunan tinggi pabrik yang membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Seingatku juga waktu kecil aku jarang menemukan gunungan sampah sebanyak hari ini. Bandung dengan julukan kota kembangnya pun sedikit mulai bergeser dengan julukan kota sampah—terlebih setelah julukan “The City of Pig” dilontarkan oleh warga negara Bulgaria, Inna Savova.
Menurutku lonjakan sampah di kota Bandun memang akumulasi jumlah sampai yang sulit terurai dari zaman dahulu hingga sekarang. Mungkin saja sampah yang pernah aku buang saat kecil ke tempat sampah masih memiliki struktur yang utuh hingga hari ini. Melonjaknya pertumbuhan penduduk juga menjadi salah satu faktor kenapa Bandung makin penuh dengan sampah. Ditambah sebagai kota wisata—lonjakan sampah juga dipicu dari sumbangan pengujung yang datang ke kota Bandung.
Tak dipungkiri gaya hidup konsumtif dari masyarakat era kini meningkatkan produksi sampah plastik untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar. Dan tidak kalah penting yang menjadi masalah krusial adalah keterbatasan infrastruktur pengeloaan sampah itu sendiri. Banyak dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tak sanggup lagi menerima kiriman sampah karena kapasitas daya tampungnya yang semakin terus menyusut. Sehingga sampah banyak menumpuk di pinggir trotoar, di sekitar pasar tradisional, di sepanjang aliran Sungai dan lingkungan masyarakat.
Seminggu yang lalu ketika saya melewati TPS Batununggal rasanya ruas jalan sebelah kiri ini portalnya masih bisa dilalui kendaraan motor atau mobil. Namun berselang sepekan sedikit kaget karena portal tertutup dan setelah mengambil jalur kanan ternyata terdapat tumpukan sampah yang menggunung menutupi sejumlah ruas jalan. Sampah-sampah itu hanya ditutupi dengan terpal untuk sedikit menutupi aroma bau yang sebetulnya masih tercium dengan aroma yang menyengat. Sepertinya penutupan ini juga sebagai upaya jika hujan turun sampah tidak akan mudah hanyut oleh air.
Menurut saya pengelolaan sampah di Bandung belum terintegrasi dan dikelola dengan baik. Tentu hal tersebut banyak faktor penyebabnya. Namun berdasarkan pengamatan saya sampah di kota Bandung tidak bisa dijadikan hal sepele karena mungkin dampak buruknya akan segera terasa. Masalah kecil tapi utama sebetulnya ada di pola hidup dan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah. Namun berbicara soal merubah hidup banyak orang memang bukan hal yang mudah. Perlu waktu yang lama jika kesadaran tidak tumbuh dari dalam diri sendiri.

Saya pribadi pernah membayangkan jika petugas di TPS atau TPA bisa diperbanyak jumlahnya untuk mengelola pemilihan sampah. Misalnya sampah organic bisa dikelola dan diproduksi untuk bisa menghasilkan sampah pupuk organik yang kemudian bisa dijual ke Pangalengan atau Lembang yang membutuhkan untuk keperluan Perkebunan. Mungkin saja produk pupuk juga bisa digunakan untuk suplay ke kota lain. Sementara sampah anorganik bisa kembali didaur ulang dan menjadi produk yang lebih bermanfaat. Tentu pekerjaan berat yang dilakukan oleh petugas kebersihan bisa diapresiasi dengan gaji yang layak dan pemantauan kualitas kesehatannya dengan pemenuhan makanan yang kaya gizi.
Cara yang paling rasional adalah mengendalikan manusia atau masyarakat dalam jumlah kecil yaitu petugas pengelolaan sampah. Sembari terus berupaya mendisiplinkan pengelolaan sampah—edukasi atau bahkan konseling juga bisa terus digaungkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan sampah.
Kota ini (Bandung) tak lagi sampah tanpamu. Yah mungkin kota Bandung tidak akan terus memproduksi sampah jika masyarakatnya tidak ada. Namun hal ini tentu mustahil. Maka langkah terkecil yang bisa kita lakukan di rumah setidaknya bisa mengurangi beban dari Kota Bandung. Mari terus menjaga kota Bandung sebagai tempat yang hangat untuk pulang ataupun menetap. Mari terus berupaya menjaga kebersihan kota Bandung dari diri kita masing-masing. Seperti halnya “Keburukan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir” begitu pun dengan kesadaran terhadap masalah sampah. (*)