“Manusia, meskipun harus mati, tidak dilahirkan untuk mati tetapi untuk memulai.” — Hannah Arendt
Di Bandung hari ini, gagasan tentang “memulai” terasa seperti sesuatu yang semakin asing. Manusia, kata Hannah Arendt , lahir untuk memulai—untuk mencipta, untuk mengubah arah kehidupannya sendiri. Tetapi di kota ini, banyak hal yang justru terasa menggantung. Tidak benar-benar selesai, namun juga tidak pernah benar-benar dimulai.
Barangkali, itulah yang saya sebut sebagai Renjana .
Renjana bukan sekedar judul lagu yang pernah saya tulis. Ia adalah cara saya membaca Bandung hari ini—sebuah kota yang dipenuhi oleh hasrat yang tertunda. Ingin hidup lebih layak, untuk memiliki waktu yang utuh, untuk didengar, untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar bertahan—semuanya ada, tapi seperti berhenti di tengah jalan.
Di jalanan yang padat, orang-orang belajar bersabar tanpa pernah benar-benar memilihnya. Waktu habis di kemacetan, energi terkuras sebelum hari benar-benar dimulai. Kesabaran, yang seharusnya menjadi kebajikan, perlahan berubah menjadi kewajiban. Ia bukan lagi sikap, melainkan kondisi yang dipaksakan.
Melalui Renjana , saya melihat kesabaran itu bukan sebagai kekuatan, melainkan sebagai tanda dari sesuatu yang tertahan. Seolah-olah ada kehidupan yang ingin bergerak lebih jauh, tetapi terus-menerus ditarik kembali oleh keadaan.
Hal yang sama terjadi pada kerja. Di Bandung, bekerja tidak selalu berarti mendekati kehidupan yang diinginkan. Banyak orang yang bekerja keras, namun tetap merasa jauh dari kata “cukup”. Kota ini menyerap tenaga, waktu, dan perhatian—tetapi tidak selalu mengembalikan dalam bentuk yang setara.
Sebagai musisi balada, saya merasakannya dengan cara yang berbeda—dan mungkin lebih sunyi. Musik yang lahir dari cerita, dari jeda, dari perenungan, kini berhadapan dengan arus yang serba cepat dan instan. Bukan berarti kehilangan makna yang populer, tetapi ruang untuk sesuatu yang pelan-pelan semakin menyempit.
Renjana menjadi cara saya memahami kegelisahan itu. Ia adalah gema dari sesuatu yang tidak sempat diucapkan. Lagu-lagu seperti itu tidak diciptakan untuk berlomba dengan waktu, melainkan untuk menahan jeda. Namun di kota yang terus bergerak tanpa henti, siapa yang masih punya waktu untuk berhenti?
Di titik itulah bekerja berubah menjadi bentuk bertahan. Menjadi musisi balada bukan hanya soal berkarya, tapi juga soal mempertahankan keyakinan. Ketika panggung semakin sempit, ketika apresiasi semakin terfragmentasi, dan ketika perhatian publik terus berpindah dengan cepat—bertahan menjadi pilihan yang tidak selalu rasional, tetapi sulit ditinggalkan.

Dan mungkin, pengorbanan terbesar tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: waktu yang tidak kembali, kesempatan yang terlewat, dan keyakinan yang diuji secara perlahan. Dalam diam, banyak orang di kota ini menyumbangkan sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari telah hilang.
Melalui Renjana , semua itu terasa seperti satu kesatuan: hidup yang berjalan, namun tidak pernah benar-benar sampai. Orang-orang terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju sesuatu. Mereka bertahan, tapi perlahan menjauh dari apa yang dulu ingin mereka mulai.
Pada akhirnya, mungkin yang paling menguji bukanlah kerasnya kota ini, melainkan ketidakjelasan arah yang ditinggalkannya. Kita bersabar, tapi tidak tahu sampai kapan. Kita bekerja, tapi tidak selalu tahu apa. Kita berkorban, tapi jarang sempat bertanya: apakah semua ini benar-benar membawa kita ke suatu tempat?
Dan jika manusia benar-benar lahir untuk memulai, seperti yang diyakini Hannah Arendt , maka pertanyaannya menjadi semakin sederhana sekaligus mendesak: di tengah segala renjana yang menggantung ini, apakah Bandung masih memberi ruang untuk memulai—atau hanya mengajarkan kita untuk terus bertahan dalam sesuatu yang tak pernah selesai? (*)