Berbicara mengenai kemacetan di kota Bandung memang tidak lepas dari topik hangat juga krusial yang justru sulit terselesaikan. Kian hari rasanya lonjakan penggunaan motor kian meningkat. Sebagai masyarakat Bandung yang harus melewati area Rancamanyar untuk bermobilisasi—saya merasakan betul bagaimana ledakan kendaraan bisa terlihat saat hujan terus mengguyur seluruh area di Kota Bandung.
Air yang meluap dari sungai Citarum menjadikan beberapa akses tertutup sehingga banyak masyarakat yang mencari jalan pintas dengan melewati jalan tikus. Masalahnya jalan alternatif yang bisa dilalui melalui perkampungan itu sangat terbatas lebarnya. Bahkan sesekali mobil yang keluar dari perumahan warga terhambat karena jalan dipenuhi oleh sejumlah pemotor yang hingar-bingar mengejar waktu untuk tidak telat masuk sekolah atau bekerja.
Kemacetan di Kawasan Rancamanyar rasanya seperti sudah menjadi gaya hidup yang mau tidak mau harus dijalani. Kemacetan tidak terjadi saat hujan datang melanda tapi pada setiap kesempatan dan hari-hari padat lainnya seperti senin-sabtu- minggu. 15 menit cukup berarti bagi masyarakat yang tinggal di daerah Rancamanyar—karena jia telat saja beberapa menit maka bisa saja terjebat kemacetan satu hingga 2 jam.
Beberapa tahun terakhir ketika kuliah di Kawasan Cibiru rasanya pergi kuliah adalah hukuman kecil yang harus dijalani setiap hari. Tidak hanya armada transportasi umum yang sulit—terbatasnya jumlah DAMRI pun bisa menjadi penybab terjebaknya macet di jam rawan.
Tidak pernah terbayang oleh saya jika kini harus mengalami lagi kemacetan dengan melintasi sepanjang jalan seokarno hatta. Setelah saya memutuskan kembali mengambil pendidikan profesi apoteker di salah satu kampus yang tidak jauh dari Kawasan Cibiru.
Ketika kuliah dimulai jam 08:00 maka saya harus berangkat pukul 05:30 dari Rancamanyar supaya tidak terdampak macet dan telat masuk perkuliahan. Selepas pulang kuliah dari kampus sekitar jam 14:30 maka saya bisa saja sampai rumah 2 jam setelahnya yaitu jam 16:30. Namun estimasi ini bisa saja meleset karena perkuliahan saya bersamaan dengan bulan Ramadhan. Saya bahkan pernah sampai rumah pukul 18:30 karena kemacetan yang melonjak dua kali lipat dari hari biasanya.
Jujur sih rasanya sedikit melelahkan harus menghabiskan waktu panjang di tengah kemacetan kota bandung. Rasanya hidup hanya bergumul di suara knalpot racing dan asap kendaraan. Unttuk menuju rumah, pertama saya harus menggunakan angkot Cicadas- Cibiru yang seringkali ngetem lama karena penumpangnya tidak begitu banyak. Jaraknya menuju samsat kurang lebih 8 kilo dengan estimasi 18 menit hingga 30 menit. Selanjutnya menggunakan angkot 08 menuju arah Cibaduyut dengan jarak 5.4 kilo tapi angkot ini menjadi rekor terlama untuk ngetem. 30 menit baru bisa dikatakan cepat karena biasanya 45-60 menit sambil sesekali terhenti oleh lampu merah. Selanjutnya kembali menggunakan angkot 08 tapi menuju jembatan rancamanyar sekitar 6.4 kilo dengan estimasi 30- 60 menit—belum ditambah kemacetan rutin yang sering terjadi di sepanjang Cibaduyut-Cangkuang-Rancamanyar. Titik terakhir biasanya menggunakan satu kali lagi angkot. Namun semenjak tahun 2020 angkot ini sudah bangkrut tidak lagi beroperasi. Jadi biasanya saya berjalan kaki kalau dirasa badan masih segar tapi kalau sudah cape biasanya saya mau tidak mau menggunakan gojek.
Bergumul dengan kemacetan memang tidak mudah—selain waktu banyak terbuang saya juga sering tertidur di transportasi umum. Saya selalu membayangkan jika transportasi umum di Bandung beranjak lebih baik. Saya selalu membayangkan jalananan kota Bandung seperti di luar negeri—terintegrasi dengan baik. Mengurangi kendaraan bermotor dan memaksimalkan bus untuk mobilitas yang jauh juga membiasakan jalan kaki untuk jarak yang dekat. Trotoar tidak lagi dijadikan lahan parkir liar, tempat berjualan, atau sesekali berubah menjadi jalan bagi para kendaraan roda dua ketika macet datang melanda.

Saya selalu membayangkan betapa indahnya trotoar lebar yang ramah dengan pejalan kaki, tidak lagi berlubang dan dipenuhi dengan gunungan sampah di sepanjang jalan. Mendapat sinar matahari yang cukup saat pagi dan mendapat penerangan cukup di saat malam hari.
Nyatanya mimpi itu terasa sangat sulit terwujud karena sebagian besar masyarakat sangat suka dengan hal-hal praktis dan salah satunya menggunakan motor untuk mobilisasi. Bahkan motor bukan hanya sebagai sebuah kebutuhan tapi sebagai ajang kompetisi untuk berlomba memiliki motor keluaran baru. Motor tidak hanya sebagai kendaran atau alat untuk menunjukkan eksistensi diri.
Bahkan satu-satunya harapan saya yaitu Damri Cibiru-Cibereum—kini akses dan jumlahnya semakin terbatas. Padahal dengan damri saya tidak pernah mempermasalahkan kemacetan kota bandung karena damri adalah salah satu transportasi yang nyaman untuk beristirahat sejenak. Lewat damri kadang saya menemukan banyak makna hidup bahwa setiap dari kita punya lelahnya masing-masing. Tapi karena kita saling melihat satu sama lain dan memahami makna perjuangan tiap orang tanpa harus mengungkapkan. Meski lelah kita tetap bisa istirahat sejenak dalam damri yang sejuk oleh ac. Dan secara magical kita telah saling menguatkan untuk bertahan dan melanjutkan hidup sebagaimana takdir menuntun kita semua.
Entah kapan kemacetan Bandung akan terselesaikan. Satu hal yang pasti ketenangan yang selalu digaungkan oleh masyarakat bandung dan mereka yang berasal dari luar kota yang selalu mengagung-agungkan kedamaian tentang kota bandung. Saya hanya ingin menyuarakan bahwa bandung tak lagi sama. Kemacetan sudah terlalu banyak merampas kedamaian dan ketenangan itu tidak akan didapat secara utuh selama kita tidak bersinergi dengan baik untuk menjaga kota bandung. (*)