Selamat datang di era di mana harga sembako naik sekencang larinya menteri yang ketahuan korupsi, sementara kenaikan gaji jalannya selambat siput encok. Ya, itulah Inflasi. Kondisi di mana nilai uang kita makin hari makin gak ada harga dirinya. Dulu uang Rp100 ribu bisa buat traktir gebetan, sekarang cuma cukup buat beli seblak dan bayar parkir.
Nah, di tengah situasi yang bikin dompet menangis ini, Anda mendadak punya ide brilian: Mau buka bisnis produktif. Mantap! Anda ingin jadi pahlawan ekonomi, minimal buat diri sendiri.
Tapi di kepala Anda langsung muncul perdebatan sengit: “Mending gua nabung dulu sampai modalnya ngumpul, atau langsung gas ngutang ke bank/pinjol (legal ya!) biar bisnisnya cepat jalan?”
Mari kita bedah dilema ini biar otak Anda gak ikut inflasi!
Setia pada Prinsip, tapi Digilas Waktu
Bagi sekte "Anti Utang-Utang Club", menabung adalah jalan ninjanya. Prinsipnya mulia: memulai bisnis dengan uang sendiri itu tenang, tidur nyenyak tanpa diteror penagih utang.
Tapi masalahnya, sekarang lagi inflasi, Malih!
Menabung di saat inflasi tinggi itu ibarat Anda balapan lari melawan cheetah. Uang yang Anda simpan di tabungan nilainya terus digerogoti oleh inflasi.
Jadi, menabung saat inflasi untuk modal bisnis? Siap-siap aja capek hati karena target modalnya bakal lari terus ke depan.
Nekat tapi Masuk Akal (Asal Punya Otak)
Nah, sekarang kita bahas opsi kedua: Berutang. Mendengar kata utang, biasanya emak kita langsung jantungan. Tapi tunggu dulu, ini namanya Utang Produktif, bukan utang konsumtif buat beli iPhone boba demi eksposur Instagram.
Dalam ilmu ekonomi (dan ini agak mind-blowing), inflasi itu sebenarnya adalah sahabatnya para peminjam uang (debitur) dan musuh besarnya para pemberi pinjaman (kreditur).
Kenapa bisa begitu?
Bayangkan Anda pinjam uang Rp50 juta hari ini untuk modal bisnis keripik. Nilai Rp50 juta hari ini sangat besar dan bisa dibelikan banyak alat operasional. Dua tahun lagi, saat inflasi makin parah, nilai riil dari uang Rp50 juta itu sebenarnya sudah menyusut. Tapi, nominal utang Anda ke bank tetap Rp50 juta! Ditambah lagi, kalau bisnis produktif Anda berjalan lancar, Anda bisa menaikkan harga keripik Anda mengikuti arus inflasi, sehingga keuntungan Anda otomatis bertambah besar.
Dengan kata lain: Anda membeli aset produktif dengan nilai uang masa kini yang tinggi, lalu mencicil utangnya di masa depan dengan nilai uang yang sudah "murah" akibat inflasi. Cerdik, bukan?
Tapi Ingat, Ada Tapinya!
Meskipun berutang terdengar sangat seksi saat inflasi, ada satu jebakan batman yang harus Anda waspadai: Suku Bunga.
Saat inflasi tinggi, Bank Sentral biasanya akan menaikkan suku bunga demi mengerem peredaran uang. Jadi, kalau Anda mau ngutang untuk bisnis, pastikan:
- Cari bunga yang flat (tetap), jangan yang floating (mengambang). Kalau bunganya mengambang, cicilan Anda bisa ikutan meroket seiring inflasi.
- Bisnisnya harus benar-benar produktif dan terukur. Kalau utangnya dipakai buat bisnis yang Anda sendiri belum paham cara kerjanya, itu namanya bukan investasi, tapi cari penyakit.

Di masa inflasi, memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut. Sementara memanfaatkan leverage (daya ungkit) dari utang produktif jauh lebih disarankan oleh para ahli keuangan.
Jadi jawabannya: Lebih baik berutang (secara bijak) untuk langsung mengeksekusi bisnis produktif Anda.
Biarkan utang itu berputar menghasilkan mesin uang baru yang bisa mengalahkan kecepatan inflasi. Menabunglah secukupnya untuk dana darurat, tapi untuk urusan bisnis di kala inflasi, jadilah pemberani yang kalkulatif. Ingat, orang kaya rata-rata punya utang, bedanya utang mereka menghasilkan duit, sedangkan utang kita seringnya menghasilkan pusing. Selamat berbisnis dan tetap waras! (*)