Ayo Netizen

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Oleh: Muhammad Mufti Sulthanan Nasira Kamis 28 Mei 2026, 12:03 WIB
Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)

Pernikahan selalu menjadi momen yang membahagiakan sekaligus bersejarah dalam hidup manusia. Dua orang dipertemukan dalam satu ikatan, membawa harapan panjang tentang rumah tangga yang tenang, romantis, dan penuh cinta. Tidak heran jika dalam budaya masyarakat kita, ucapan yang paling sering terdengar kepada pengantin baru adalah: “Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.”

Namun menariknya, jika diperhatikan lebih dalam, tujuan utama pernikahan dalam Islam sejatinya bukan mawaddah ataupun rahmah. Tujuan utamanya adalah sakinah, ketenteraman hati.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Surah Ar-Rum:

Allah menggunakan kalimat litaskunuu ilaiha, agar kalian merasa tenteram kepadanya. Allah tidak menggunakan lafazh litaskunuu li mawaddah wa rahmah. Sehingga, tujuan besar dalam rumah tangga itu adalah sakinah, ketenangan jiwa.

Lalu bagaimana cara mencapai ketenteraman itu?

Barulah Allah menjelaskan jalannya: dengan mawaddah dan rahmah. Mawaddah adalah rasa cinta. Rahmah adalah kasih sayang. Keduanya merupakan modal untuk mencapai ketenteraman dalam rumah tangga.

Masalahnya, banyak orang memasuki pernikahan hanya dengan membawa mawaddah, tetapi lupa mempersiapkan rahmah. Akibatnya, ketika rasa cinta mulai naik turun, rumah tangga ikut goyah.

Padahal hidup, termasuk kehidupan rumah tangga, tidak pernah berjalan lurus terus menerus sesuai keinginan manusia.

Ada kalanya senang, ada kalanya susah. Kadang seseorang tertawa hari ini, lalu menangis esok hari. Kadang pasangan terasa sangat cocok, lalu beberapa waktu kemudian justru terasa asing.

Dalam bahasa Al-Qur'an, dua keadaan ini dapat dipahami sebagai hasanah dan sayyiah.

Hasanah adalah maa tasytahi biha nafsu, sesuatu yang sesuai dengan keinginan jiwa manusia. Sedangkan sayyiah adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.

Karena itu, sehat belum tentu menjadi hasanah. Jika kesehatan adalah sesuatu yang diinginkan seseorang, maka itu menjadi hasanah baginya. Tetapi jika keadaan sehat justru menghalangi keinginannya, maka ia bisa memandangnya sebagai sesuatu yang buruk.

Begitu pula sakit. Secara umum sakit dianggap jelek. Tetapi anak kecil yang tidak ingin pergi sekolah rela pura-pura sakit demi tetap tinggal di rumah. Mengapa? Karena dalam kondisi tertentu, sakit justru sesuai dengan keinginannya.

Artinya, bukan sehat yang otomatis baik, bukan sakit yang otomatis buruk. Yang menentukan adalah bagaimana manusia memandang keadaan tersebut.

Begitu pula dalam rumah tangga.

Di awal pernikahan, terutama tiga sampai enam bulan pertama, banyak pasangan masih hidup dalam fase romantisasi. Masakan yang terlalu asin tetap dipuji enak. Kopi pahit terasa manis. Kekurangan pasangan tertutupi oleh rasa cinta yang masih meluap-luap.

Tetapi waktu perlahan membuka kenyataan.

Rumah tangga ternyata bukan hanya tentang cinta, melainkan tentang menghadapi manusia lain dengan segala kekurangan dan perbedaannya. Ada masa ketika pasangan tidak lagi sesuai dengan ekspektasi yang kita bangun sendiri di kepala.

Dan ketika momen itu datang, sebagian orang mulai mengeluh:

“Kalau tahu begini, dulu saya tidak akan memilih dia.”
“Capek.”
“Bosan.”
“Menyesal.”

Padahal Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa hidup memang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia. Bahkan hidup ini bukan sepenuhnya pilihan kita.

Kalau hidup sepenuhnya pilihan manusia, tentu semua orang ingin kaya selamanya, sehat selamanya, bahagia selamanya, kuat selamanya. Tidak ada orang yang ingin gagal, kehilangan, atau bersedih.

Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Karena itu Allah berfirman dalam surat Surah Al-Hadid ayat 22:

Ayat ini bukan mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha. Ayat ini sedang mengajari manusia agar tidak hancur oleh ekspektasinya sendiri. Sebab banyak depresi lahir bukan semata karena hidupnya sulit, tetapi karena manusia terlalu yakin bahwa hidup harus berjalan sesuai skenario yang ia buat di kepalanya.

Sepasang kekasih halal (Sumber: Pixeabay | Foto: pastelila_id)

Dalam kehidupan modern, manusia sering diajarkan bahwa semua hasil sepenuhnya bergantung pada usaha. “Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” begitu kata banyak orang. Kalimat itu memang terdengar memotivasi. Tetapi hidup ternyata tidak sesederhana rumus matematika.

Ada orang membuka usaha restoran dengan modal besar, rasa makanan yang enak, lokasi strategis, promosi maksimal, lalu sukses besar. Logika kita menerima itu sebagai sesuatu yang wajar. Ada pula orang membuka usaha asal-asalan, modal kecil, rasa makanan buruk, tanpa promosi, lalu gagal total. Itu pun logika kita anggap wajar.

Namun kehidupan sering menghadirkan kasus ketiga: seseorang yang sudah berusaha sangat serius, modal besar, rasa makanan luar biasa, tempat strategis, promosi di mana-mana, tetapi tetap gagal.

Di sinilah logika manusia menemukan batasnya.

Ternyata tidak semua hal dapat dijelaskan hanya dengan kerja keras dan kecerdasan. Ada campur tangan Allah yang bekerja di luar jangkauan akal manusia.

Sebagian orang kemudian jatuh pada pemikiran yang terlalu mengagungkan logika dan tenaga manusia. Ketika gagal, mereka mulai menyalahkan keadaan, lingkungan, bahkan mencari jawaban kepada hal-hal mistis.

Tetapi di sisi lain, ada pula orang yang salah memahami takdir. Mereka merasa karena rezeki sudah diatur Allah, maka usaha tidak lagi penting. Akhirnya akal menjadi malas, tidak kreatif, dan menjadikan agama sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan dua ekstrem itu.

Islam hadir sebagai ummatan wasathan, agama penengah.

Manusia diperintahkan untuk berusaha, tetapi juga diajarkan bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah. Karena itu Allah berfirman dalam surat Surah Al-Anbiya ayat 35:

Ternyata sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, memiliki anak ataupun belum memiliki anak, semuanya sama di hadapan Allah: ujian.

Lalu apa yang diuji?

Jika seseorang ditimpa hasanah, Nabi mengajarkan dua kemungkinan: aasykuru am akfuru apakah ia mau bersyukur atau kufur?

Dan jika seseorang ditimpa sayyiah: ashbiru am aqnuth, apakah ia mau bersabar atau putus asa?

Di sinilah letak kedewasaan seorang Muslim. Bukan pada seberapa sempurna hidupnya, tetapi bagaimana ia bersikap terhadap keadaan hidupnya.

Karena itu Islam memerintahkan manusia untuk berikhtiyar. Menariknya, kata ikhtiyar berasal dari akar kata khair, kebaikan. Artinya, usaha yang benar dalam Islam bukan sekadar bekerja keras, tetapi berusaha melalui jalan yang baik.

Menipu, mencuri, korupsi, memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi itu mungkin menghasilkan uang, tetapi bukan ikhtiyar dalam pandangan Islam karena hal tersebut merupakan usaha yang salah, atau juga disebut sebagai isytiror yang akar katanya dari syarrun.

Karena itulah Nabi bersabda:

Mengapa orang mukmin selalu berakhir dalam kebaikan?

Karena ketika ia diberi kebahagiaan, ia bersyukur tanpa menjadi sombong. Ketika memiliki tanah, ia tidak mengambil tanah milik orang lain. Ketika diberi rezeki, ia tidak lupa diri.

Dan ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar tanpa menjadi jahat. Seorang petani yang lapar sekalipun tidak akan mencangkul tanah milik orang lain walau hanya satu jengkal.

Di situlah keberadaan seorang mukmin selalu melahirkan kebaikan bagi sekitarnya.

Sebagaimana Nabi melanjutkan sabdanya:

Masalahnya, dalam budaya kita, syukur sering dipersempit hanya menjadi prosesi syukuran atau pesta makanan.

Padahal jika syukur dimaknai sekadar pesta, bagaimana memahami firman Allah dalam surat Surah Ibrahim: “Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepadamu.”

Apakah artinya menjadi: “Jika kamu mengadakan pesta maka Aku tambah nikmatmu”? Tentu bukan.

Karena syukur dan sabar dalam Islam sejatinya adalah ibadah.

Allah berfirman:

Maka hakikat syukur dan sabar adalah istiqamah dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Tetap baik ketika bahagia. Tetap jujur ketika susah. Tetap menjaga iman ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Dan inilah yang sebenarnya dititipkan Nabi dalam doa pernikahan:

Dalam doa ini, Nabi menggunakan dua huruf yang sangat indah secara balaghah: laka dan ‘alaika.

Huruf lam pada kata laka sering digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang menyenangkan, ringan, dan menguntungkan. Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan menyertaimu saat kamu berada dalam kebahagiaan.”

Lalu Nabi melanjutkan dengan: wa baaraka ‘alaika.

Huruf ‘ala dalam bahasa Arab sering digunakan untuk sesuatu yang berat, sulit, dan penuh tanggung jawab. Seolah Nabi sedang berkata: “Semoga keberkahan juga menyertaimu saat kamu berada dalam kesulitan.”

Artinya, keberkahan rumah tangga bukan hanya ketika tertawa bersama, tetapi juga ketika mampu bersabar bersama.

Jika pasangan sudah terbiasa mampu bersyukur saat lapang dan bersabar saat sempit, maka jangan heran jika rumah tangga mereka akhirnya sampai pada doa penutup Nabi:

Betapa indahnya rumah tangga yang terus melahirkan kebaikan dalam setiap keadaan. Maka doa pernikahan yang pendek ini ternyata perjalanan dan perjuangannya sangat jauh dan luas, maka dalam Islam kita semua diajarkan meminta dengan cara berdo'a bukan dengan jampe.

Karena do'a lahir dari ucapan yang dipahami maknanya, permintaan yang yang harus diperjuangkan dalam ikhtiyar. Sedangkan jampe adalah ungkapan yang hanya sebatas diucapkan dilisan tanpa dipahami maknanya, dan permintaan yang tidak diiringi oleh usaha yang baik (ikhtiyar).

Namun ada satu hal terakhir yang perlu dipahami setiap pasangan: rasa bosan itu fitrah.

Sebagaimana seseorang lebih tertarik pada pakaian baru dibanding pakaian lama yang sering dilihat, demikian pula manusia terhadap pasangannya.

Karena itu rumah tangga membutuhkan kreativitas: memperindah diri, memperbaiki penampilan, menjaga sikap.

Tetapi ingat bahwa kreativitas fisik memiliki batas.

Kecantikan akan biasa. Ketampanan akan terbiasa. Apa pun yang lahir dari fisik akan dibatasi ruang dan waktu. Inilah yang disebut mawaddah, cinta yang lahir dari penglihatan.

Karena itu Allah tidak hanya memberi mawaddah, tetapi juga rahmah.

Rahmah lahir bukan dari mata, melainkan dari hati. Ia hadir dalam akhlak, perhatian, suara yang lembut, kesetiaan, pengorbanan, dan manfaat yang diberikan kepada pasangan.

Dan mungkin karena itulah Nabi Muhammad begitu sulit melupakan Khadijah binti Khuwailid setelah wafatnya beliau. Nabi tidak hanya mencintai kecantikannya, tetapi mengingat rahmah-nya: perjuangannya membantu dakwah, kesetiaannya, pengorbanannya, kasih sayangnya.

Dari sinilah kita memahami bahwa rahmah adalah salah satu modal terbesar dalam rumah tangga.

Sebab manusia pada hakikatnya selalu mencari manfaat dan ketenangan hati.

Karena itu, jika kita takut pasangan berpaling karena kecantikan orang lain atau kekayaan orang lain, barangkali yang perlu dibenahi bukan sekadar penampilan, tetapi apakah kita sudah menjadi rahmah bagi pasangan kita.

Apakah keberadaan kita benar-benar menghadirkan manfaat?
Apakah pasangan merasa tenang ketika bersama kita?
Apakah akhlak kita menyentuh hatinya?

Karena pada akhirnya, rumah tangga tidak akan bertahan hanya dengan cinta yang lahir dari mata.

Rumah tangga bertahan karena ada rahmah, kasih sayang yang lahir dari hati. (*)

Reporter Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Editor Aris Abdulsalam