Selepas mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila di Taman Kujang, Gedung Anwar Musaddad UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (1/6/2026), seorang kawan lama menyapa dengan pertanyaan sederhana yang tanpa basa-basi.
“Kemarin Hari Waisak, ya? Masih suka menulis, kan?”
“Muhun,” jawabku singkat.
Laki laki agak gemuk itu tersenyum lalu berceletuk, “Kirain sudah tidak menulis lagi. Soalnya belum lihat tulisan atau unggahan apa pun di media sosial.”
Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Lahir Pancasila dan gema perayaan Waisak yang baru saja berlalu, justru teringat pada masa kuliah era tahun 2000-an, dosen pengampu mata kuliah Budha pernah berkata, "nilai-nilai besar tidak selalu lahir dari pidato, ceramah, khutbah yang lantang, melainkan dari kesediaan diri manusia untuk menghadirkan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari yang dimulai dari yang kecil, diri sendiri."

Bukan Sekadar Perayaan Tri Suci
Untuk puncak Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E. di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026 menghadirkan pesan yang melampaui batas-batas ritual keagamaan. Dari altar suci Borobudur mengalir seruan tentang perdamaian, persatuan, dan cinta kasih bagi dunia yang sedang menghadapi berbagai kegelisahan.
Dalam suasana yang khidmat itu, umat diajak untuk tidak berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai energi yang hidup dalam ruang publik.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, mengingatkan keberagamaan sejatinya adalah proses transformasi diri. Kesalehan bukan sekadar hubungan vertikal dengan Tuhan, melainkan kemampuan menghadirkan kebaikan yang dapat dirasakan oleh sesama.
Kedamaian yang lahir dari altar peribadatan harus menemukan jalannya menuju masyarakat yang majemuk, tempat berbagai perbedaan bertemu dan berdialog.
Sungguh pesan ini terasa semakin relevan ketika dunia saat ini masih dibayangi konflik, polarisasi, dan ketidakpastian. Dalam Kitab Dhammapada disebutkan kebahagiaan sejati hadir ketika manusia mampu hidup tanpa permusuhan di tengah mereka yang saling bermusuhan.
Ajaran yang sederhana, tetapi justru sangat sulit diwujudkan. Pasalnya, manusia sering kali tergoda untuk membalas kegaduhan dengan keributan, kebencian dengan dendam membara, dan amarah dengan angkara murka.
Padahal, kedamaian tidak pernah lahir dari kemenangan atas orang lain. Kedamaian lahir dari kemenangan atas diri sendiri. Dari kemampuan menahan ego, mengelola prasangka, dan merawat ruang batin agar tetap teduh di tengah derasnya arus perbedaan.
Ingat, ketika seseorang berhasil berdamai dengan dirinya, kehadirannya akan menjadi sumber ketenteraman bagi lingkungan di sekitarnya.
Pesan ini terus disuarakan Waisak tahun ini, “Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebajikan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia”. Di tengah ancaman perang, krisis ekonomi, dan berbagai ketidakpastian global, dunia sesungguhnya tidak kekurangan teknologi, kekuatan, atau sumber daya. Yang sering kali kurang adalah cinta kasih dan kemampuan untuk melihat sesama manusia sebagai saudara. (www.kemenag.go.id).

Roda Perdamaian
Bagi Christopher S. Queen, menguraikan tradisi agama Buddha sering kali dipuji karena ajaran perdamaian dan rekor menentang kekerasan yang lar biasa dalam masyarakat Buddhis. Dengan memberikan warisan berharga dalam usahanya untuk menciptakan perdamaian dan menumbuhkembangkan sikap antikekerasan.
Salah satu diantara manifesto dasarnya, empat kebenaran mulia yang menawarkan pembebasan sebab-sebab penderitaan manusia; kaidah (perintah) moralnya yang pokok adalah menjauhi tindakan menyakiti makhluk hidup (ahimsa); praktek-praktek kelemah lembutan belas kasih, kegembiraan yang penuh simpati dan ketenangan hati (brahmaviharas); ajaran-ajaran tentang perilaku yang menjauhi sikap egoisme (anatta), ketergantungan satu sama lain (paticcasamuppada) dan sikap nondualisme (sunyata); paradigma makhluk yang mengalami pencerahan (bodhisattavas) yang mempergunakan upaya-upaya mahir untuk membebaskan orang lain dari penderitaan; citra "pemutar roda” (cakravartin) yang hebat serta pemimpin moral (dhammaraja) yang menaklukkan hati dan budi, bukan musuh dan daerah dengan kebijaksanaan dan kebaikan hati mereka yang luar biasa.
Ajaran-ajaran ini melahirkan pemimpin yang penuh semangat di setiap kebudayaan yang disentuh oleh dharma Buddhis, terutama yang berasal dari India, Sri Lanka, Cina, Tibet, Korea dan Jepang. Dalam dunia modern dewasa ini, perjuangan menentang kekerasan untuk menegakkan hak-hak asasi manusia dan keadilan social melahirkan pendukung-pendukung Buddhis di Asia dan di Barat, dengan melahirkan keterlibatan baru aktivisme Buddhis.
O.H. Wijesekera, seorang cendekiawan Sri Lanka, menjelaskan “Mempelajari sastra Buddhis kuno menyingkap fakta, konsep perdamaian muncul sebagai inti pokok dalam sistem etika sosial agama Buddha”
Ketika Buddha memutar Roda dharma setelah menerima pencerahan di bawah pohon Bodhi, Ia menerangkan Empat Kebenaran Mulia; seluruh kehidupan diganggu oleh perasaan-perasaan tidak puas dan menderita (dukkha); timbulnya (samudaya) penyakit ini disebabkan oleh ketidaktahuan akan sifat kehidupan yang tidak tetap dan senantiasa menginginkan kenyamanan dan keamanan; tidak mustahil mencapai musuhnya (nirodha) faktor-faktor mental itu dan menemukan kedamaian nirvana; jalan rangkap delapan (magga) untuk mencapai tujuan itu mencakup pandangan, cita-cita, tindakan, penuturan, penghidupan, usaha, kepedulian dan pemusatan perhatian yang benar.
Di mata Donald K. Swearer, tradisi roda perdamaian ditekankan sebagai aliran utama ideologi kerajaan—agama sipil yang kuat dan merasuk. Sesuai dengan pemerintahan paradigmatis Asoka Maurya: “Perlindungan raja atas tarekat hidup membiara Buddhis ditanggapi dengan kesetiaan lembagawi dan pembangunan kosmologi dan mitologi keagamaan yang menjunjung tinggai raja sebagai penyebar agama Buddha (sasana) dan sebagai kunci untuk mewujudkan keselarasan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.” (Daniel L. Smith-Chistopher Editor, 2005:41-42, 46 dan 56-57).
Sudah saatnya kita belajar untuk mengendalikan, mengatasi segala bentuk keinginan, nafsu untuk tidak melakukan balas dendam, mencaci-maki, melakukan tindakan pengrusakan rumah Ibadah atas tragedi kemanusiaan yang menimpa Gaza, dengan terus merawat cinta kasih dan menebar perdamaian sebagai cara melenyapkan penderitaan.
Mari kita renungkan petuah Buddha Gotama ini hanya keinginan yang berdasarkan pada kesadaran, kearifan, kebijaksanaan yang akan menjadi sumber kebahagiaan dan kedamaian bagi semua kehidupan ini.

Rupanya lagu Selamat Hari Waisak karya Joky harus kita peraktikkan, “Selamat Hari Suci Waisak/ Selamat slamat berbahagia/Pancarkan cinta bagi semua/Dalam kasih mulia Sang Buddha/Selamat Hari Suci Waisak/Selamat slamat berbahagia/Suka cita bagi semua/Damai Waisak bagi dunia/Selamat Hari Suci Waisak/Salam damai dan sejahtera/Berkah Waisak bagi dunia/Semoga semua berbahagia”
Dengan demikian, Waisak 2570 BE ini tidak hanya penting untuk diperingati dan direfleksikan secara bersama-sama, tetapi harus dijadikan momentum yang tetap untuk menciptakan arti pentingnya perdamaian di dunia ini dengan cara memberikan teladan yang menginspirasi supaya terus melakukan perbuatan baik dan menyebarluaskan ajaran agama yang melarang umatnya melakukan tindakan kekerasan dalam setiap menyelesaikan segala persoalan. Semoga. (*)