Setiap hari jutaan kendaraan bermotor memenuhi jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia. Di balik kemudahan mobilitas yang ditawarkan, aktivitas tersebut menghasilkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim sekaligus menurunkan kualitas udara perkotaan. Banjir yang semakin sering terjadi, suhu udara yang meningkat, serta cuaca yang semakin ekstrem menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi.
Dalam konteks itulah, Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diperingati setiap tanggal 5 Juni mengangkat tema global #NowForClimate. Tema ini mengandung pesan yang sederhana namun mendesak: aksi menghadapi perubahan iklim harus dilakukan sekarang. Setiap individu, komunitas, dan pemerintah memiliki peran untuk mengurangi jejak karbon melalui pilihan-pilihan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian adalah transportasi. Menurut International Energy Agency (IEA), sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dioksida global, dengan emisi mendekati 8 gigaton pada tahun 2022, meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, transformasi menuju sistem transportasi rendah karbon menjadi bagian penting dalam upaya menahan laju perubahan iklim.
Sepeda: Solusi Sederhana dengan Dampak Besar
Di antara berbagai pilihan transportasi berkelanjutan, sepeda menawarkan solusi yang murah, sehat, dan ramah lingkungan. Selama digunakan, sepeda hampir tidak menghasilkan emisi karbon, tidak membutuhkan bahan bakar fosil, serta tidak menimbulkan polusi udara. Selain itu, ruang jalan yang dibutuhkan jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan bermotor sehingga berpotensi mengurangi kepadatan lalu lintas.
Setiap perjalanan jarak pendek yang dialihkan dari mobil atau sepeda motor ke sepeda berarti mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Jika perubahan tersebut dilakukan oleh semakin banyak masyarakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh kualitas hidup perkotaan melalui udara yang lebih bersih dan jalan yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, bersepeda bukan sekadar aktivitas olahraga atau rekreasi, melainkan bagian dari strategi pembangunan transportasi rendah karbon yang sejalan dengan semangat #NowForClimate.
Indonesia Memiliki Peluang yang Besar
Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik untuk mengembangkan budaya bersepeda. Sebagian besar perjalanan harian di kawasan perkotaan berjarak relatif pendek sehingga dapat ditempuh dengan sepeda. Kondisi iklim tropis juga memungkinkan aktivitas bersepeda dilakukan hampir sepanjang tahun.
Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Di banyak kota, masyarakat masih menghadapi keterbatasan jalur sepeda yang aman dan saling terhubung. Akibatnya, kendaraan bermotor tetap menjadi pilihan utama meskipun jarak perjalanan sebenarnya memungkinkan ditempuh dengan sepeda.
Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya mengandalkan kampanye. Masyarakat akan lebih mudah beralih ke sepeda apabila lingkungan yang tersedia mendukung pilihan tersebut.
Infrastruktur Menentukan Keberhasilan
Keberhasilan budaya bersepeda sangat bergantung pada kualitas infrastruktur. Jalur sepeda tidak boleh dipandang sekadar pelengkap ruang jalan, tetapi sebagai bagian dari sistem transportasi yang memberikan hak mobilitas yang aman bagi semua pengguna jalan.
Merujuk pada CROW Design Manual for Bicycle Traffic (2017), infrastruktur bersepeda yang baik setidaknya memenuhi lima aspek utama, yaitu:
- Keselamatan, melalui perlindungan pesepeda dari konflik dengan kendaraan bermotor.
- Kenyamanan, dengan permukaan jalan yang baik dan bebas hambatan.
- Daya tarik, melalui lingkungan yang teduh, nyaman, dan mendukung pengalaman bersepeda.
- Kelangsungan rute, berarti menyediakan jalur yang langsung dan tidak terputus sehingga meminimalkan jalan memutar.
- Koherensi, yaitu keterhubungan jalur dengan kawasan permukiman, pusat aktivitas, dan simpul transportasi umum.
Kelima aspek tersebut menentukan apakah masyarakat akan menjadikan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari atau hanya sebagai sarana rekreasi pada akhir pekan.
Aksi Iklim Dimulai dari Perjalanan Sehari-hari
Sering kali perubahan iklim dianggap sebagai persoalan yang hanya dapat diselesaikan melalui kebijakan besar atau teknologi canggih. Padahal, perubahan juga dapat dimulai dari keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih bersepeda ke kantor, kampus, sekolah, atau tempat aktivitas lain untuk perjalanan jarak dekat merupakan salah satu bentuk aksi iklim yang nyata.
Selain membantu mengurangi emisi, penggunaan sepeda juga meningkatkan aktivitas fisik, menekan biaya transportasi, mengurangi kemacetan, dan memperbaiki kualitas udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa transportasi aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda memberikan manfaat sekaligus bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Ketika jutaan perjalanan harian beralih ke moda yang lebih ramah lingkungan, dampak kolektifnya akan jauh lebih besar daripada yang terlihat dari satu perjalanan individu.
Membangun Kota yang Ramah Sepeda dan Ramah Iklim
Tema #NowForClimate bukan sekadar ajakan untuk mengurangi emisi, tetapi juga seruan untuk mengubah cara kita merancang sistem transportasi dan membangun kota. Kota yang ramah sepeda adalah kota yang menyediakan ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh penggunanya, sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi karbon.

Karena itu, tanggung jawab mewujudkan mobilitas berkelanjutan tidak hanya berada di tangan masyarakat. Pemerintah perlu membangun jaringan jalur sepeda yang berkualitas dan terintegrasi dengan transportasi publik, dunia usaha dapat mendukung budaya mobilitas hijau, sementara akademisi dan komunitas berperan dalam menghasilkan inovasi dan edukasi berbasis bukti.
Perubahan iklim tidak akan diatasi oleh satu kebijakan atau satu teknologi semata. Ia diselesaikan melalui jutaan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Ketika pemerintah menghadirkan infrastruktur yang layak dan masyarakat memilih bersepeda untuk perjalanan yang memungkinkan, setiap kayuhan pedal menjadi investasi bagi udara yang lebih bersih, kota yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih hijau. (*)