Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865. Angka tersebut adalah rekor nilai tertinggi melemahnya rupiah terhadap dolar dalam beberapa tahun terakhir. “Rakyat desa tidak pake dolar” begitu ucapan Presiden Prabowo menanggapi rupiah melemah ketika pidato kemarin, namun Bahtra Banong Wakil Ketua Komisi II DPR RI menyebutkan bahwa yang dimaksud Prabowo itu ia berharap masyarakat tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat.
Masalahnya terletak pada bergantungnya bahan baku impor pada sektor produksi barang atau jasa di Indonesia. Badan Pusat Statistik menegaskan bahwa Indonesia mengimpor bahan baku dalam jumlah besar untuk membantu sektor perindustrian demi membantu majunya perekonomian Indonesia, 70% perusahaan lokal menggunakan barang bahan baku impor untuk memproduksi barang atau jasa berdasarkan Laporan Data Statistik (BPS). Otomatis ada kenaikan cost of production (biaya produksi) sehingga keuntungan perusahaan menipis akibat kenaikan biaya produksi.
Rupiah melemah bukan tanpa sebab, ada banyak faktor yang menimbulkan rupiah melemah hingga hari ini. Dilansir dari ajaib.co.id penyebab rupiah melemah adalah ketidakpastian konflik geopolitik, harga minyak global kian meninggi, pengeluaran anggaran yang lebih besar dibanding pendapatan negara, serta peninjauan ulang status pasar Indonesia, tingginya permintaan dolar US untuk membayar utang negara dan repatriasi dividen sehingga keuangan negara membengkak akibat ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran anggaran.
Keadaan-keadaan tersebut yang menjadi alasan mengapa kurs dolar menguat dari rupiah. Menurut Aliman Syahmi yang merupakan dosen Universitas Islam Negeri Batusangkar mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ini perlu ditangani dengan serius sebab isu rupiah melemah serta ketergantungan bahan baku impor bukan hal sepele yang akan menjadi bom waktu dalam jangka berkepanjangan. Walaupun kita merasakan hari hari biasa saja, namun sebenarnya perekonomian di negara kita rapuh terutama pada kelas menengah dan kelas pekerja.
Efek Domino dari Lesunya Rupiah terhadap Dolar
Ketergantungan impor pada bahan baku serta dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah ke dolar tidak sepele, sebab berdampak terhadap biaya hidup masyarakat terutama kelas menengah yang tergerus akibat lonjakan biaya kebutuhan sehari-hari. Walaupun sengaja pemerintah Indonesia mengendalikan harga jenis bahan bakar minyak (BBM) subsidi pertalite dan solar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar menjaga daya beli masyarakat sementara untuk nonsubsidi pertamax, pertamax green, pertamax turbo, dexlite naik.
Dilansir dari media Kompas bahwasanya dengan kenaikan BBM nonsubsidi para masyarakat berpindah ke BBM subsidi yaitu pertalite dan solar yang menyebabkan antrian panjang bahkan kelangkaan di sejumlah wilayah. Anggota Komisi VI DPR RI Budi S Kanang menegaskan bahwa kenaikan BBM dan lemahnya rupiah ini sangat berdampak kepada kelas menengah yang paling rentan karena tidak mendapatkan perlindungan. Sebab kelas menengah ke bawah masih memiliki perlindungan dari pemerintah seperti subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Namun kelas menengah tidak mendapatkan bantuan seperti kelas menengah kebawah sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah.
Harga bahan baku produksi sejumlah pangan mengalami kenaikan. Kedelai mengalami kenaikan pasca lesunya rupiah dari 8.700 rupiah menjadi 11.000 rupiah per kilogramnya. Akibatnya, para produsen tempe atau tahu terpaksa harus mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual. Harga pakan ternak pun terkena imbas juga, para petani kewalahan dengan keuntungan yang menipis sebab pangan ternak melambung tinggi, sedangkan biaya terbesar dalam peternakan adalah pakan ternak. Selain itu, efek dolar menguat menyebabkan perusahaan tercekik biaya operasional yang melambung tinggi.

Sektor yang sangat terdampak adalah perusahaan yang bertransaksi menggunakan mata uang dolar: manufaktur, barang konsumsi (consumer goods), farmasi dan otomotif, penerbangan, properti dan konstruksi, emiten ritel. Namun ada beberapa sektor yang justru menguntungkan dalam posisi seperti ini contohnya komoditas eksportir. Posisi ketidakpastian perekonomian Indonesia saat ini perusahaan melakukan strategi agar tetap berjalan yaitu memotong biaya operasional seminimal mungkin untuk mengurangi tingginya biaya produksi baik itu memangkas fasilitas, memotong gaji karyawan, menghilangkan bonus, jika kondisi terparah perusahaan terpaksa mengurangi karyawan demi kelangsungan perusahaan.
Keadaan rupiah melemah sangat terpukul bagi masyarakat dengan upah begitu-begitu saja sehingga masyarakat mengurangi membeli barang atau jasa. Masyarakat menengah dan bawah mulai menggunakan tabungan mereka untuk menutupi biaya kehidupan yang tinggi mulai mahalnya bahan pokok seperti susu, telur, daging, tempe, tahu dan kebutuhan pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, pajak akibatnya terpaksa mengorbankan kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu bahkan kebutuhan pokok sekalipun, sebab sedikitnya lapangan pekerjaan yang berkualitas dengan tingginya biaya hidup sehingga daya beli masyarakat kini cenderung menurun.
Solusi dan Penutup
Penjelasan tentang efek domino yang berbahaya sebab pelemahan rupiah dan bergantungnya bahan baku impor ini, seharusnya menjadi pembelajaran dan segera mencari solusi daripada membiarkan kelas menengah dan pekerja menderita akibat bengkaknya biaya hidup. Solusinya adalah melakukan penguatan mata uang dengan cara Local Currency Transaction (LCT) yaitu melakukan perdagangan antar negara dengan mata uang masing-masing negara agar memperkuat nilai mata uang sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masing-masing negara ucap Kementerian Koordinator Perekonomian Ferry Irawan.
Selanjutnya yaitu mengganti barang bahan baku impor dengan memproduksi sendiri dengan petani lokal. Pemerintah wajib mendanai biaya riset selama pemgembangan hilirisasi komoditas lokal berjalan, hingga tercapainya target sehingga tidak bergantung pada produsen bahan baku impor. Contohnya orgum, dan singkong modifikasi untuk menggantikan spesifikasi terigu dengan begitu, produsen manufaktur makanan dapat menggantikan gandum impor dengan hasil produk hilirisasi lokal dan lebih murah.

Konsumsi produk lokal baik itu pangan, pakaian, rekreasi, penginapan hingga kebutuhan sehari-hari, agar membantu memajukan industri dan ekonomi Indonesia. Sementara pada sektor industri serta pengusaha menggunakan bahan baku lokal agar memajukan dan menguntungkan para pengusaha lokal. Mengurangi bahan bakar minyak berlebihan dan mengurangi polusi dengan pemerintah memberikan fasilitas umum yang mumpuni serta layak agar masyarakat antusias menggunakan transportasi umum.
Walaupun masyarakat desa tidak menggunakan rupiah dalam kehidupan sehari hari, tetapi mereka merasakan dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar. Menjadikan harga makan 1 piring, pakan ternak, pupuk dan biaya hidup sehari-hari jadi lebih mahal. Biaya operasional perusahaan yang ikut naik. Berdampak pada menipisnya keuntungan perusahaan yang menciptakan hilangnya bonus gaji, pengurangan gaji, jika biaya operasional terdesak terpaksa perusahaan melakukan PHK.
Sementara pekerja yang memiliki uang pas pasan,namun ketika biaya kebutuhan pokok, pendidikan anak, kesehatan melambung tinggi, maka ada kebutuhan yang harus dikorbankan demi kelangsungan kehidupan sehari hari. Sebab kaum menengah paling rentan bergeser ke garis kemiskinan karena tidak mendapatkan perlindungan seperti masyarakat menengah kebawah. Hal ini juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat terhadap barang atau jasa lokal. Sehingga dengan melemahnya rupiah ini keadaan kita sama sekali tidak baik baik saja. (*)