Ayo Netizen

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Oleh: Vito Prasetyo Minggu 14 Jun 2026, 19:00 WIB
Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)

Tanpa kita sadari, di era digital ini, kita mulai terjebak dengan situasi yang diistilahkan sebagai alone together. Kita merasa nyaman dengan interaksi sosial di ruang maya. Tapi, kita mulai kehilangan rasa empati terhadap sesama manusia.

Tentu, kita tidak bisa menampik kemajuan teknologi informasi yang tumbuh secara pesat dan tumbuh bagai jamur. Ini sebuah revolusi industri serta logika, yang kurang lebih dianggap sebagai bagian dari perubahan zaman menuju posmodernis. Dampaknya, dalam sebuah revolusi pasti ada kaum yang termarjinalkan.

Apakah revolusi logika telah membawa kita kepada situasi yang lebih nyaman? Atau memang kita dipaksakan menerima peradaban yang serba abstrak? Jika kita kilas balik sejarah masa lalu, Revolusi Perancis menjadi kebangkitan pemikiran moderat yang akhirnya meminggirkan kaum buruh yang termarjinalkan. Tumbuhnya mesin kapitalis secara besar-besaran.

Pemikiran-pemikiran kuno yang masih terpengaruh oleh konsep mitologi, dianggap rendah dan tidak mampu bersaing dengan konsep hidup yang berorientasi pada kemajuan zaman. Budaya lama yang sarat dengan kemurnian tradisi lokal, dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Indonesia sendiri mengalami lompatan budaya setelah kemerdekaan.

Sebagaimana sejarah yang kita baca, sebelum kemerdekaan Indonesia, budaya lokal yang mempertahankan nilai-nilai tradisional, yang cara penyebaran informasinya dilakukan secara lisan menjadikan sebagian besar masyarakat merasa tertinggal dengan perubahan zaman yang semakin modern. Sementara lebih dari sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam taraf buta huruf.

Kita dipaksakan menerima zaman modern, tanpa sempat melewati fase demi fase dalam menyeimbangkan kultur nenek moyang dengan kultur modern yang sudah dibungkus oleh gerakan kapitalisme.

Munculnya stigma modern, telah mengubah cara dan karakteristik masyarakat. Cara-cara konvensional yang bertransformasi ke sistem digital, telah mengubah perilaku manusia yang lebih cenderung kepada budaya konsumtif. Ruang publik semakin mudah dijangkau lewat ruang maya (siber), tanpa keharusan kita harus melewati pendidikan khusus. Siapa saja bisa menjangkaunya.

Kenapa akhirnya kita terjebak dalam situasi alone together? Teknologi telah mengubah kita berinteraksi dan menghubungkan diri dengan orang lain. Media sosial sering membuat kita lebih nyaman berinteraksi dengan teknologi dari pada manusia sesungguhnya.

Hal ini mengurangi interaksi tatap muka; menurunkan empati dan menghambat kemampuan kita untuk membantu hubungan yang bermakna. Kita menjadi lebih terhubung dengan bahasa-bahasa simbol yang digunakan secara umum pada media sosial (jejaring sosial), yang mungkin kita sendiri tidak paham maknanya (makna denotatif). Kita terbiasa dengan kebiasaan copy paste, karena ruang siber selalu bersifat universal.

Fenomena alone together (sendiri namun bersama) menggambarkan keadaan ketika seseorang secara fisik berada di tengah banyak orang atau terhubung dengan banyak orang melalui media sosial, tetapi secara emosional merasa kesepian, terasing, atau tidak memiliki hubungan yang mendalam. Istilah ini dipopulerkan oleh Sherry Turkle dalam bukunya “Alone Together”.

Hal tersebut menjadikan kita masuk dalam situasi “alone together”. Silang pendapat ini mengacu pada situasi dimana kita merasa terhubung dengan orang lain melalui teknologi. Namun, pada saat yang sama merasa kesepian dan kurangnya pendekatan emosional yang sebenarnya.

Kita, perlu untuk merenungkan dampak teknologi pada kehidupan sosial kita dan mencari keseimbangan antara koneksitas digital dan kebutuhan akan hubungan manusia yang nyata. Apakah kita masuk dalam situasi “alone together”?

Mengapa kita sering terjebak dalam situasi “Alone Together”?

Menurut Sherry Turkle, teknologi digital menawarkan kemudahan untuk selalu terhubung, tetapi sering kali mengurangi kualitas percakapan yang mendalam. Kita memiliki banyak kontak, tetapi sedikit hubungan yang benar-benar intim.

“Kita mengharapkan lebih banyak dari teknologi dan lebih sedikit dari sesama manusia.”

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)

Media sosial membuat interaksi menjadi cepat, singkat, dan instan. Akibatnya, hubungan sosial cenderung dangkal dan kurang memberikan dukungan emosional yang nyata (koneksi menggantikan relasi).

Pemikir sosiologi Erving Goffman menjelaskan bahwa manusia cenderung menampilkan “panggung depan” dalam kehidupan sosial. Di media sosial, kecenderungan ini semakin kuat. Orang lebih banyak menampilkan versi terbaik dirinya daripada realitas yang sebenarnya.

Akibatnya, banyak pengguna merasa: harus selalu terlihat bahagia; Takut menunjukkan kelemahan; Sulit membangun hubungan yang autentik. Ini yang diistilahkan sebagai budaya pencitraan diri.

Teori perbandingan sosial dari Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Di media sosial, kita melihat: kesuksesan orang lain; liburan orang lain; prestasi orang lain. Namun jarang melihat perjuangan di baliknya. Hal ini dapat memicu perasaan kurang berharga dan kesepian (perbandingan sosial yang berlebihan).

Menurut penelitian yang sering dikutip dalam kajian komunikasi digital, kehadiran telepon genggam saat percakapan berlangsung dapat menurunkan kualitas kedekatan emosional karena perhatian terbagi.

Seseorang bisa duduk bersama keluarga atau teman, tetapi pikirannya berada di ruang digital lain. Secara fisik hadir, secara psikologis tidak sepenuhnya hadir (interaksi digital mengurangi kehadiran nyata).

Media sosial sering mendorong relasi menjadi Aku-Itu: orang dipandang sebagai profil, angka pengikut, atau sumber validasi, bukan sebagai pribadi yang utuh.

Dampak fenomena alone together: meningkatnya rasa kesepian meskipun memiliki banyak teman daring; menurunnya kualitas komunikasi tatap muka; kecemasan sosial dan ketergantungan pada validasi digital; berkurangnya empati dan kemampuan mendengarkan; menurunnya kesehatan mental pada sebagian pengguna.

Ada beberapa solusi yang ditawarkan para ahli, antara lain:

Sherry Turkle menekankan pentingnya percakapan langsung (face-to-face conversation). Percakapan mendalam melatih empati, kesabaran, dan kemampuan memahami orang lain. Teori ini untuk mengembalikan budaya percakapan.

Fokuslah pada kualitas hubungan, bukan jumlah pengikut atau teman. Beberapa sahabat yang benar-benar memahami kita sering lebih bermakna daripada ratusan koneksi digital. Secara umum bermakna membangun relasi yang autentik.

Gunakan teknologi secara sadar: batasi waktu media sosial; hindari penggunaan gawai saat makan bersama keluarga; tetapkan waktu bebas layar setiap hari. Ini adalah konsep digital mindfulness.

Bergabung dengan komunitas seni, sastra, pendidikan, keagamaan, atau kegiatan sosial dapat memperkuat rasa memiliki dan mengurangi keterasingan. Pengembangan dari komunitas nyata.

Ketika berbicara dengan seseorang: dengarkan tanpa terganggu notifikasi, berikan perhatian penuh, bangun dialog yang jujur dan terbuka. Konsep ini untuk membangun empati dan kehadiran secara nyata.

Fenomena alone together muncul karena teknologi memudahkan koneksi tetapi tidak selalu menghasilkan kedekatan. Kita hidup dalam paradoks: semakin mudah berkomunikasi, semakin besar pula risiko merasa kesepian jika komunikasi tersebut kehilangan kedalaman. Solusinya bukan meninggalkan teknologi, melainkan menggunakannya secara lebih manusiawi—menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat hubungan, bukan pengganti hubungan itu sendiri. Dalam pendidikan dan kehidupan sosial, tantangan abad digital bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, melainkan juga cara tetap menjadi manusia yang mampu hadir, mendengar, dan memahami sesamanya. (*)

Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam