Ayo Netizen

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Oleh: Sultan Rafa Akmal
Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)

Seperti yang kita tahu, masa lampau tidak memiliki kemampuan untuk bersuara layaknya kita, tetapi meninggalkan jejak dan kehidupan yang dapat diidentifikasi oleh manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia masa lampau, atau sering disebut dengan manusia purba, mereka tidak hanya meninggalkan jejak berupa tulisan, tetapi juga berupa artefak (benda) dan tulang-tulang yang mereka gunakan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

Artefak dan tulang yang ditinggalkan manusia purba, dapat kita identifikasi untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial-budaya dan pola kebiasaan mereka. Para arkeolog ataupun sejarawan memanfaatkan peninggalan-peninggalan tersebut untuk mengetahui bagaimana aktivitas manusia purba yang hidup ribuan tahun silam. Jejak peninggalan ini biasa ditemukan di dalam gua-gua di seluruh Indonesia, salah satunya yaitu Situs Gua Batu yang terletak di Kawasan Pegunungan Meratus, tepatnya Desa Batang Kulur, Kecamatan Kelumpang Barat, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan

Berdasarkan ekskavasi yang dilakukan Balai Arkeologi Kalimantan Selatan pada tahun 2018, jenis tulang yang ditemukan di Gua Batu yaitu lancipan dan sudip. Tulang ini adalah hasil modifikasi dari tulang panjang yang didapat dari hewan buruan mereka. Lancipan memiliki ciri bagian ujung runcing, sedangkan sudip berupa tajaman pipih dan lebar. Dilihat dari jenis tulang yang mereka gunakan, dapat disimpulkan bagaimana aktivitas penghuni Gua Batu ribuan tahun lalu.

Manusia purba di gua ini cenderung menghabiskan harinya untuk berburu makanan, tulang lancipan mereka manfaatkan sebagai senjata untuk menyerang mangsa dan melumpuhkannya, sedangkan tulang sudip mereka gunakan untuk memotong dan menyayat daging mangsa menjadi bagian yang lebih kecil. Namun, hingga sekarang belum ditemukan rangka manusia secara utuh di Gua Batu, penemuan mengenai sisa-sisa manusia hanya berupa gigi saja.

Artefak Tulang yang ditemukan di Gua Batu (Sumber: Balai Kalsel 2018)

Selain melalui tulang, kebiasaan manusia purba di Gua Batu juga dapat dilihat dari penemuan artefak yang mereka tinggalkan. Artefak-artefak ditemukan di bagian gua yang kering dan datar, meliputi fragmen gerabah, artefak batu, kerang, dan cangkang moluska (hewan bertubuh lunak). Penemuan fragmen gerabah mengindikasikan bahwa mereka cukup melek akan teknologi dan seni, gerabah yang ditemukan beberapa memiliki hiasan garis geometri tidak beraturan.

Artefak batu digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari mereka, seperti digunakan berburu ataupun pertahanan diri, layaknya tulang. Untuk membuat alat-alat yang dapat menunjang keseharian mereka, para manusia purba di Gua Batu memanfaatkan kerang sebagai bahan utamanya. Selain itu, dengan ditemukannya cangkang moluska, tampaknya mereka juga mengonsumsi hewan bertubuh lunak seperti siput. Dari penemuan tulang dan artefak lainnya di Gua Batu, dapat disimpulkan bahwa manusia purba yang mendiami tempat ini berfokus pada usaha untuk mendapatkan makanan dan pertahanan diri.

Artefak Cangkang dan Batu yang ditemukan di Gua Batu (Sumber: Balai Kalsel 2018)

Nah, kira-kira kenapa manusia pada zaman itu memilih Gua Batu sebagai tempat hunian mereka, baik itu sementara atau menetap? Alasannya, karena Gua Batu sangat strategis bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Letaknya yang dekat dengan sumber air sekaligus banyaknya sumber makanan di area tersebut, membuat para manusia purba menjadikan gua ini sebagai tempat tinggal.

Selain itu, intensitas cahaya dan sirkulasi udara yang sangat bagus juga menjadi faktor pendukung gua ini menjadi tempat aktivitas manusia purba, kedua faktor tersebut merupakan syarat umum suatu gua yang layak huni. Lokasi gua yang berada di Kawasan Pegunungan Meratus, juga membawa keuntungan bagi mereka. Hal ini, dikarenakan pada masa Preneolitik kawasan pegunungan ini merupakan pusat aktivitas manusia purba, didukung dengan temuan jejak prasejarah di gua lain yang ditemukan di kawasan pegunungan ini. Dapat dilihat bahwa pemanfaatan gua sebagai hunian masa lampau merupakan bentuk adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya.

Letak Gua Batu dan Gua lainnya di Kawasan Pegunungan Meratus (Sumber: Balai Kalsel 2018, peta oleh Ulce Oktrivia)

Peninggalan-peninggalan di Situs Gua Batu, Kalimantan Selatan, dapat diibaratkan sebagai "kapsul waktu" yang mengajak kita melirik keseharian manusia purba masa Preneolitik. Walaupun tidak ada buku harian atau catatan tertulis yang mereka tinggalkan, kita masih bisa melihat bagaimana aktivitas mereka lewat banyak petunjuk berupa perkakas sehari-hari.

Mulai dari tulang lancip untuk berburu, hingga pemotongan daging menggunakan tulang sudip. Mereka juga dapat dikategorikan cukup melek akan teknologi dan seni, dibuktikan dengan temuan pecahan gerabah bermotif di dalam gua. Menu makanannya juga variatif, tidak hanya mengandalkan daging buruan, tetapi juga sisa cangkang membuktikan kalau mereka juga suka makan hewan lunak seperti siput.

Manusia purba ini juga sangat pintar memilih tempat yang akan mereka jadikan singgahan ataupun hunian. Gua Batu ini dipilih karena lokasinya yang strategis, dekat sumber air, stok makanannya berlimpah, sirkulasi udara bagus, dan cahayanya pas. Semua temuan ini menjadi bukti nyata betapa cerdasnya leluhur kita beradaptasi dengan alam Pegunungan Meratus untuk bertahan hidup. 

Kekayaan dan Keunikan dari peninggalan manusia purba di Gua Batu ini harus dilestarikan oleh pemerintah setempat ataupun warga sekitar. Hal ini dilakukan demi terjaganya situs berharga yang menjadi saksi mata kehidupan ribuan tahun lalu di tanah Kalimantan Selatan. Jika gua ini dirusak oleh mereka yang tidak bertanggung jawab ataupun tergerus perubahan alam, kita juga yang akan rugi karena tidak bisa lagi menikmati keindahan hunian alami dari manusia purba di Kawasan Pegunungan Meratus. (*)

  • Informasi dari penulisan ini berdasarkan Hasil Ekskavasi Balai Arkeologi Kalimantan Selatan yang dilakukan pada 2018. Data-data termuat dalam jurnal berikut:

  • Fajari, N., M., E. & Anggraeni. (2022). Karakteristik dan Pemanfaatan Gua-gua Hunian Prasejarah di Perbukitan Karst Kotabaru, Kalimantan Selatan. Purbawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 11 (1), 81-103. 

  • Fajari, N., M., E. & Wibisono, M., W. (2020). Gua Batu: Hunian Prasejarah di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Berkala Arkeologi, 40 (2), 179-194. 

Reporter Sultan Rafa Akmal
Editor Aris Abdulsalam