Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

4 menit baca
Naytasa Amelia
Ditulis oleh Naytasa Amelia diterbitkan
Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)

Pada Umumnya, sejarah seringkali dituliskan sebagai narasi yang menguntungkan ataupun memberatkan satu pihak, adanya pemenang dan pecundang yang merefleksikan bahwa sejarah hanyalah fakta masa lampau yang ‘hitam dan putih’. Namun pada kenyataannya, sejarah dapat juga sebagai pengisahan masa lampau dari berbagai sudut pandang. Upaya untuk menelusuri wajah Indonesia dari kacamata berbeda dapat ditemukan dalam dua karya monumental, Kumpulan cerpen Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu dan film dokumenter Indonesia Calling yang disutradarai Joris Ivens.

Meski menggunakan medium yang berbeda, kedua karya ini sama-sama menggambarkan keadaan Indonesia pada masa kolonial dan perjuangan kemerdekaan yang kompleks. Iksaka Banu melalui cerpen nya menuliskan sejarah pada masa-masa kolonial yang kebanyakan diambil dari sudut pandang pihak koloni, sementara Joris Ivens menangkap semangat solidaritas nasional pada masa perang kemerdekaan. Melalui kedua karya ini, kita diajak untuk melihat sejarah bukan hanya dari satu pihak saja, bukan hanya sebagai alat pertarungan politik melainkan sebagai sebuah narasi kemanusian lintas bangsa yang harus kita lihat dengan sudut pandang yang lebih luas dan objektif.

Dalam sebuah penuturannya di podcast Coming Home with Leila Chudori, Iksaka Banu menegaskan bahwa misinya adalah memberikan perspektif pembanding bagi masyarakat Indonesia melalui mata orang Eropa (Afnani, 2022) . Berbeda dengan narasi sejarah yang biasanya bersifat biner, ia ingin mengisahkan bangsa kolonial yang tidak selamanya identik dengan citra ‘jahat’ yang absolut.

Melalui cerpennya, ia lebih banyak mengambil sudut pandang kemanusiaan dari tokoh-tokoh eropa yang di penuhi dilema nurani di tengah sistem imperialisme yang kaku. Sebaliknya, ia juga menggambarkan bahwa bangsa pribumi tidak selalu berada di posisi korban, terkadang ada dinamika kekuasaan yang membuat mereka seringkali berada di posisi yang kompleks.

Dalam narasi nya, Iksaka Banu juga terletak pada kemampuannya mengambil refleksi sosial yang signifikan. Penelitian oleh Nurhidayati dkk. (2024) mengungkapkan bahwa dalam kumpulan cerpen Semua untuk Hindia, ia tidak hanya bicara soal perang, tetapi juga tentang diskriminasi dan pertentangan kelas. Dalam cerpen seperti 'Bintang Jatuh', terlihat bagaimana kelompok lemah berjuang demi kesetaraan melawan penguasa. Selain itu, Banu melakukan penataan ulang terhadap stigma negatif perempuan, khususnya janda, melalui tokoh Imah yang digambarkan tangguh dan mandiri. Hal ini membuktikan bahwa perjuangan yang ia tulis juga bertujuan untuk menghapuskan penindasan sosial dan stigma yang mengakar di masyarakat.

Di sisi lain film dokumenter Indonesia Calling, yang disutradarai Joris Ivens, memiliki latar belakang pembuatan yang sangat kompleks. Joris Ivens yang pada saat itu seorang sineas kelas dunia yang sempat dituduh komunis oleh FBI, awalnya justru ditunjuk oleh Gubernur Hindia Belanda Van der Plas, untuk menjabat sebagai Komisioner Film Hindia Belanda (Aitken, 2013). Tugas utamanya adalah menciptakan film propaganda yang mencitrakan Belanda sebagai negara heroik yang membebaskan Indonesia dari Jepang demi menjaga stabilitas kekuasaan kerajaan. Namun, realitas di lapangan mengubah niat awal Jorvis.

Alih-alih membuat Film tentang keheroikan Belanda, ia justru merekam keadaan pelabuhan Sydney pada awal perang kemerdekaan. Dengan dilatarbelakangi oleh rasa kemanusiannya, ia menyaksikan pemogokan buruh massal dari berbagai bangsa seperti India, Cina, Australia, termasuk Indonesia yang pada saat itu menolak mengangkut logistik perang Belanda (Goodall, 2008). Ia merekam solidaritas antar bangsa tersebut ke dalam film berdurasi 22 menit berjudul Indonesia Calling.

Sebagai Komisioner Film Hindia Belanda pertama yang justru memproduksi film antikolonialisme, karya Ivens memicu kemarahan besar pemerintah Belanda karena berhasil meruntuhkan alur propaganda yang telah mereka bangun (Hogenkamp, 1997). Film ini tidak hanya menggambarkan perlawanan fisik, tetapi juga menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia didukung oleh kekuatan persaudaraan buruh internasional yang berpijak pada hak setiap bangsa untuk merdeka. Ivens akhirnya mengundurkan diri dan mengecam tindakan Belanda. Hal ini membuktikan bahwa orang luar pun bisa menarasikan sejarah untuk membela kedaulatan Indonesia.

Baik Iksaka Banu maupun Joris Ivens, mereka mengisahkan sejarah dalam keberanian untuk mengungkap sebuah kebenaran universal. Jika Joris Ivens mempertaruhkan kariernya di bawah pemerintah Belanda demi menyuarakan kemerdekaan Indonesia melalui film, Iksaka Banu mempertaruhkan narasi sejarah yang mapan dengan memberikan wajah manusiawi pada sosok-sosok yang selama ini dianggap sebagai musuh belaka. Membuktikan juga bahwa perlawanan terhadap bangsa kolonial tidak hanya dari serangan fisik tetapi bisa juga dari sebuah film dan karya sastra. Mengkaji sejarah dari berbagai sudut pandang merupakan hal yang seharusnya menjadi pondasi dalam menarasikan sejarah.

Oleh sebab itu, menelusuri jejak sejarah melalui Semua untuk Hindia dan Indonesia Calling membawa kita pada satu refleksi penting, bahwa kedaulatan sebuah bangsa bukan sekedar urusan politik melainkan urusan nurani universal. Jika John ivens berani kehilangan statusnya demi sebuah kebenaran Sydney, dan Iksaka Banu bersedia ‘meminjam’ mata penjajah untuk menceritakan kepedihan di Nusantara, maka kita sebagai pewaris sejarah sudah sepatutnya berhenti memperlakukan masa lalu sebagai alat kebencian.

Memahami sejarah dari berbagai sudut pandang bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap bangsa melainkan cara paling jujur untuk menghargai martabat manusia yang sering kali tergilas oleh roda besar imperialisme. (*)

Referensi Sumber

  • Magdalene.co. (2021, 16 Agustus). Film Indonesian Calling: Narasi sejarah kemerdekaan yang terlupakan dari Digul hingga Australia. https://magdalene.co/story/film-indonesian-calling-narasi-sejarah-kemerdekaan yang-terlupakan-dari-digul-hingga-australia/
  • Syarifah, N. (2022, 6 Oktober). Ulasan kumcer Semua Untuk Hindia: Kisah heroik dramatik masa kolonial. Yoursay.suara.com. https://yoursay.suara.com/ulasan/2022/10/06/115626/ulasan-kumcer-semua-untu k-hindia-kisah-heroik-nan-dramatik-masa-kolonial
  • Muttaqin, F. (2021). Buruh dan kemerdekaan: Solidaritas buruh dalam film Indonesia Calling 1946. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/356499198_Buruh_dan_Kemerdekaan _Solidaritas_Buruh_dalam_Film_Indonesia_Calling_1946
  • Ade Nugraha (2024). Pemogokan buruh Indonesia di Australia pada masa Perang Kemerdekaan 1945-1949. https://www.researchgate.net/publication/396595394 ResearchGate.
  • Banu, I. (2014). Semua untuk Hindia. Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).
  • Ivens, J. (Director). (1946). Indonesia Calling [Film]. Australasian Film Syndicate
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Naytasa Amelia
Tentang Naytasa Amelia
A student of History at Padjajaran University

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!