Ayo Netizen

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Oleh: Muhammad Rohimmuloh
Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)

Di tengah hiruk-pikuknya, Kota Bandung selalu menjadi destinasi favorit bagi para pengunjung untuk berlibur. Suasananya yang asri membuat siapa pun yang mengunjunginya akan betah hingga berhari-hari. Tak heran jika Kota Bandung dijuluki sebagai ”Paris van Java”. Hal ini didukung dengan banyaknya bangunan kolonial yang tersebar di penjuru kota.

Kini bangunan-bangunan tersebut diklasifikasikan sebagai cagar budaya. Mengacu pada Peraturan Daerah Kota Bandung (Perda) No. 7 Tahun 2018, setidaknya terdapat 1.770 bangunan cagar budaya yang terbagi menjadi golongan a, b, dan c. Beberapa di antaranya memiliki gaya arsitektur yang beragam, salah satunya adalah Art Deco. Terkait Art Deco, Kota Bandung sendiri sudah ditetapkan sebagai salah satu kota dengan warisan arsitektur Art Deco terbanyak oleh International Coalition of Art Deco Societies (ICADS) pada tahun 2001.

Namun, status ini bukan berarti Kota Bandung cukup mampu dalam menjaga dan memelihara warisan tersebut. Maka dari itu, pembahasan utama dalam artikel ini tertuju pada arsitektur Art Deco. Kemunculan arsitektur ini dimulai pada masa Hindia Belanda dan berkembang di Kota Bandung sejak tahun 1910 hingga 1940. Pemicu utamanya adalah ketika Pemerintahan Hindia Belanda berencana untuk memindahkan ibukotanya ke Bandung.

Rencana Pemindahan Ibukota Hindia Belanda

Banyaknya bangunan bergaya Eropa di Bandung saat ini, tentu menimbulkan sebuah pertanyaan: Siapa penggerak dari semua ini? Jika ditarik ke belakang, seseorang yang memicu banyaknya bentuk bangunan ini adalah Gubernur Jenderal J.P. Graaf van Limburg Stirum (1916-1921).

Pada masa pemerintahannya, Stirum berencana untuk memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Hal ini berawal dari sebuah usulan seorang ahli kesehatan, H.F. Tillema. Mengutip buku “Jendela Bandung: Pengalaman Bersama Kompas”, oleh Her Suganda (2007) mengatakan bahwa menurut Tillema, Batavia memiliki tingkat kesehatan yang rendah, mengingat kota ini merupakan kota pantai.

Banyaknya penyakit, seperti malaria dan diare, juga udara yang panas tampak mendukung pernyataan Tillema. Mendengar usulan tersebut, Stirum menyetujuinya dan mulai melancarkan pemindahan, meskipun sempat terjadi pertentangan. Aksi ini kemudian diikuti oleh beberapa instansi lain, seperti perusahaan kereta api dan trem, layanan pos, telegraf dan telepon, dan beberapa instansi lainnya. Sebelum usulan ini muncul, Departement van Oorlog (departemen perang) dan markas tentara Belanda sudah lebih dulu pindah ke Bandung.

Kantor Departement van Oorlog di Bandung, sekitar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV) (Sumber: Digital Collections University Leiden | Foto: KITLV)

Semenjak itu, Bandung berubah secara signifikan dalam segala aspek. Perpindahan tersebut kemudian mendatangkan penduduk dari luar dengan jumlah yang banyak. Berdasarkan data volkstelling (sensus) melalui buku ”Sejarah Kota Bandung 1945-1979”, oleh Ekadjati E. S., dkk. (1985), golongan Eropa mengalami lonjakan tinggi secara jumlah penduduk sebanyak 11,8% antara tahun 1920 hingga 1930. Dengan begitu, dibangunlah gedung-gedung sebagai fasilitas penunjang bagi penduduk Eropa, dari sekolah, pertokoan, bioskop, hingga taman kota. Hal ini membuat Kota Bandung seolah-olah menjadi simbol untuk kehidupan yang lebih tenang dan sehat.

Perkembangan Art Deco di Kota Bandung

Banyaknya penduduk Eropa yang menetap, memunculkan bangunan-bangunan bergaya Eropa, salah satunya adalah Art Deco. Art Deco merupakan gaya arsitektur modern yang muncul dan berkembang pada tahun 1910 hingga 1940. Dalam periode ini, Bandung sedang gencar-gencarnya dalam pembangunan di beberapa kawasan. Untuk mendukung pembangunan tersebut, maka diperlukan ahli arsitek. Beberapa nama arsitek yang berkecakapan dalam gaya Art Deco adalah C.P. Wolff Schoemaker dan A.F. Aalbers.

Kedua nama ini cukup terkenal di Kota Bandung karena menghasilkan beberapa bangunan ikonik. Menurut Solikhah (2024), kedua arsitek berdarah Belanda ini memiliki ciri khasnya tersendiri, seperti memiliki elemen dekoratif geometris pada dinding luar bangunannya. Kemudian, gaya arsitektur dengan penampilan berpola garis lengkung dan berbentuk silider mulai berkembang di Hindia Belanda, khususnya Bandung.

Sosok di Balik Arsitektur Art Deco

Charles Prosper Wolff Schoemaker merupakan arsitek keturunan Belanda kelahiran Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah pada tanggal 25 Juli 1882. Mengutip dari majalah “Maandblad voor Beeldende Kuns", vol. 4 tahun 1927, C.P. Wolff Schoemaker adalah seorang seniman visual dan arsitek. Ia diangkat sebagai profesor di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1922.

Menurut Fadlurrahman (2024), dari tahun 1915 hingga 1923, C.P. Wolff Schoemaker bersama saudaranya, Richard L.A. Schoemaker, bersama-sama merancang dan membangun gedung-gedung di Kota Bandung. Beberapa bangunan terkenalnya dengan gaya Art Deco adalah Gedung De Majestic (1925), Hotel Preanger (1932), dan Villa Isola (1933).

Villa Isola, salah satu karya C.P. Wolff Schoemaker, sekitar tahun 1930-an. (Sumber: Digital Collections University Leiden | Foto: KITLV)

Kemudian, salah seorang lainnya adalah Albert Frederik Aalbers, arsitek asli Belanda kelahiran Rotterdam, Belanda pada tanggal 13 Desember 1897. Dilansir dari Nieuwe Instituut Collection Platform, Aalbers merupakan salah satu arsitek terkenal di Bandung. Aalbers pertama kali ke Hindia Belanda sekitar tahun 1928 dan mendapatkan pekerjaan di Sukabumi, sebelum akhirnya menjadi arsitek di Bandung pada tahun 1930. Di Bandung, Aalbers membangun beberapa gedung seperti Gedung Bank Denis (1936), Gedung De Driekleur (1938), dan Hotel Savoy Homann (1939). Selain itu, Aalbers juga membangun puluhan villa bagi penduduk Eropa.

Kedua arsitek inilah yang menghiasi Kota Bandung dengan bangunan-bangunan bergaya modern, terutama arsitektur Art Deco, mengingat gaya tersebut sedang dalam masa puncaknya, yaitu dari 1920 hingga 1930-an.

Salah satu karya dari A.F. Aalbers, Hotel Savoy Homann di Jalan Asia Afrika, pada tahun 2025. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwitt)

Kini, keberadaan bangunan-bangunan peninggalan kolonial di Kota Bandung dilindungi oleh pemerintah kota walaupun beberapa di antaranya ada yang tidak terurus dan sudah dihancurkan.

Bangunan bergaya arsitektur Art Deco kini masih terjaga dan dirawat dengan baik, mengingat Bandung merupakan salah satu kota pengoleksi Art Deco di dunia. Maka dari itu, diperlukan kesadaran untuk menjaga warisan ini karena merupakan bagian dari sejarah yang sangat panjang. (*)

Reporter Muhammad Rohimmuloh
Editor Aris Abdulsalam