Kabupaten Sukabumi sudah sejak lama dikenal sebagai wilayah di Jawa Barat yang memiliki udara sejuk dan pemandangan yang indah. Dalam buku laporan Indisch Genootschap (1895), disebutkan bahwa Sukabumi memiliki keunggulan dibandingkan wilayah lain di Priangan karena tingkat kelembapannya yang lebih rendah walaupun berada di dataran tinggi. Hal itu membuat Sukabumi menjadi tempat destinasi yang menarik wisatawan.
Tidak hanya pada masa kini, tetapi juga pada masa kolonial, Sukabumi termasuk daerah yang banyak dikunjungi oleh orang-orang Eropa sebagai tempat peristirahatan. Salah satu tempat yang terkenal adalah Hotel Selabintana. Hotel ini berada di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang didirikan sekitar awal abad ke-20 oleh seorang warga negara Belanda, AAE Lanne.
Hotel Selabintana menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan asing pada masa kolonial karena menawarkan pemandangan gunung dan taman yang luas dan asri. Dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad (1937) dikatakan sebanyak 290 orang siswa dan guru-guru Lyceum Kristen berkunjung ke Hotel Selabintana untuk ekskursi (perjalanan wisata singkat). Mereka terlihat bersenang-senang dengan mengadakan kegiatan pertandingan, hoki, sepak bola, dan berenang. Udara yang sejuk dari pegunungan juga tampaknya membuat nafsu makan mereka meningkat.
Selain menjadi daya tarik bagi masyarakat luas, hotel ini juga telah dikunjungi oleh tokoh-tokoh penting. Salah satunya, menurut laporan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad (1937), Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bersama Nyonya Van Starkenborgh Stachouwer, kedua putri mereka, sang ajudan, serta Tuan dan Nyonya s'Jacob, telah melakukan kunjungan yang tidak terduga ke hotel Selabintana. Rombongan tersebut berjalan santai dengan mengamati hotel, kolam renang, dan taman-taman. Mereka pun menyatakan senang dan kagum atas fasilitas dari hotel tersebut.

Hotel Selabintana juga menjadi tempat yang penting karena terpilih sebagai tempat konferensi Jepang dan Hindia Belanda. Hal ini dimuat dalam surat kabar Algemee Handelsblad (1940), disebutkan bahwa delegasi Jepang yang dipimpin oleh Kobayashi, didampingi Konsul Jenderal Saito dan anggota delegasi Ota, berangkat ke Sukabumi pada 15 Oktober atas undangan pihak Hindia Belanda.
Pertemuan tingkat tinggi ini dilangsungkan di Hotel Selabintana dan dihadiri oleh jajaran petinggi Belanda, yakni H. J. van Mook sebagai Ketua Delegasi Hindia Belanda, J. E. van Hoogstraten sebagai penasihat, dan Raden Loekman Djajadiningrat sebagai Kepala Urusan Umum di Departemen Pendidikan. Walaupun tidak ada informasi resmi yang dirilis mengenai apa yang dibahas, dilaporkan bahwa pertukaran ide ini berhubungan dengan isu-isu umum dalam agenda terkait dengan keadaan internasional yang ada saat itu.
Hingga kini, Hotel Selabintana masih eksis beroperasi dengan menyajikan fasilitas kamar tidur, restoran, ruang pertemuan, kolam renang, taman, dan aktivitas di luar ruangan. Pemilik hotel ini sekarang ialah Annisa Nurul Shanty Kusuma Wardhani yang akrab dipanggil Teh Shanty. Secara historis, tempat ini bukan sekadar sebagai tempat penginapan, namun juga menjadi saksi perjalanan bangsa, mulai dari era kolonial, era jepang, hingga era modern. (*)