Ayo Netizen

Masuknya Genre Musik Emo dan Mekap Bergaya Emo ke Indonesia

Oleh: Hasya Ripela Melodia
Stiker band emo masa kini oleh anak-anak muda ditempel di pintu Duff Music Studio Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Hasya Ripela Melodia)

Kumparan.com dalam tulisannya yang berjudul “Apa itu Emo dalam Musik Rock yang Sempat Jadi Tren di Indonesia?” menyatakan bahwa, di Indonesia gaya emo masuk sekitar pada tahun 2000-an dibawa oleh pengaruh globalisasi budaya barat. Gaya emo ini sendiri berasal dari band musik subkultur emotional hardcore yang berasal dari Amerika Serikat sekitar pada tahun 1980-an dari band seperti My Chemical Romance dan Panic!At The Disco.

Gaya emo yang khas ini mengundang banyak respon dari masyarakat. Gaya emo sendiri ada banyak, seperti dari musik, gaya berpakaian, mekap, bahkan pandangan hidup. Mengetahui bagaimana musik dan mekap bergaya emo yang mencolok dapat masuk ke Indonesia membuat saya tertarik membahas topik ini.

Fenomena emo berasal dari genre musik emotional hardcore yang pada dasarnya berakar dari punk rock dan hardcore punk, namun genre emo lebih menekankan emosi dan lebih personal.

Menurut buku Cultures of popular music 2001, genre-genre musik “keras” termasuk emo, juga merepresentasikan perlawanan terhadap norma masyarakat yang ada, karena ingin melawan “standar” yang diusung oleh masyarakat/orang tua karena masyarakat pada umumnya lebih menerima penampilan seseorang yang rapih, orang yang patuh dan disiplin, sedangkan gaya emo sendiri sangat nyentrik, berantakan, tidak terkekang dengan peraturan dan sangat bebas.

Masuknya genre musik emo ke Indonesia sekitar tahun 2000-an sangat melejit dan populer. Berkembang melalui skena underground yang dibawa oleh globalisasi, genre musik ini menyebar luas di kalangan anak muda. Ditambah dengan banyaknya penjualan kaset dvd, vinyl musik, penyiaran radio atau televisi menjadikan genre emo ini lebih mudah diraih oleh masyarakat.

Bandung dan Jakarta menjadi pusat penyebaran genre musik emo pada saat itu karena dua kota tersebut memiliki peran penting di industri musik. Killing Me Inside adalah salah satu contoh band emo asal Indonesia pada awal tahun 2000. Untuk masa kini, For Revenge menjadi salah satu band emo asal Indonesia yang sukses meracuni anak-anak muda dengan lagu-lagu emonya.

Konser For Revenge di SMAN 10 Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto

Musik emo yang pembawaannya ekspresif dan melodis menjadikan genre emo ini dapat dikenal mudah oleh masyarakat. Dikarenakan genre musik emo sudah banyak dikonsumsi oleh para anak muda, selanjutnya mereka juga mengikuti penampilan emo seperti mekap emo dan fashion emo lainnya.

Dari yang asalnya hanya genre musik, perlahan meluas menjadi fashion dan pandangan hidup seperti perkembangan model rambut, pakaian, mekap, cara berpikir, bahkan cara berbicara.

Dalam tampilannya, mekap bergaya emo biasanya memiliki ciri khas bedak yang berwarna putih, alis yang lurus, eyeshadow berwarna gelap atau hitam, eyeliner hitam yang besar dan panjang, kontur hidung yang tajam, dan warna bibir yang gelap. Bahkan dalam satu gaya mekap emo sebenarnya tidak perlu menggunakan banyak alat mekap, hanya butuh warna-warna yang gelap untuk aksen ”emo” nya.

Mekap emo ini dijadikan sebagai cara pengekspresian diri, representasi perasaan sedih, juga pencarian identitas. Banyak orang yang menganggap mekap bergaya emo ini unik dan menarik karena mereka berani untuk tampil berbeda. Di lain sisi, tidak sedikit juga orang yang menganggap mekap bergaya emo ini adalah suatu hal yang aneh, janggal, bahkan contoh buruk.

Contoh mekap mata bergaya emo (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Hasya Ripela Melodia)

Pada awalnya, orang-orang “emo” ini sedikit sulit untuk diterima di kalangan masyarakat karena kehadirannya yang tidak biasa, namun perlahan masyarakat menerima karena bergaya emo merupakan salah satu cara seseorang mengekspresikan diri dan menjadi dirinya sendiri seperti yang dikatakan dalam buku Subculture: The meaning of style (1979).

Bahkan, di zaman sekarang banyak sekali komunitas emo di Indonesia yang mempersatukan orang-orang yang suka bergaya emo untuk sama-sama melakukan dan mendukung hobi yang mereka sukai, seperti akun emoindonesiafest112017 di Facebook, dan Revolution Autumn #3 yang mengajak 23 band emo di Indonesia untuk membangkitkan warna dalam Emo Revival di Indonesia, seperti yang digagas oleh artikel RRI bertajuk “Kebangkitan Emo Revival Indonesia lewat Revolution Autumn #3”. (*)

Reporter Hasya Ripela Melodia
Editor Aris Abdulsalam