Ayo Netizen

Momentum Makan Ikan untuk Generasi Emas Indonesia

Oleh: Muh Husen Arifin
Ilustrasi makan ikan untuk generasi emas Indonesia. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)

Konsumsi ikan menjadi salah satu kebutuhan pokok untuk anak. Hal krusial ini patut diberi perhatian serius dan lebih intens. Mengingat kecerdasan pada anak sebagai investasi jangka panjang. Anggapan bahwa konsumsi ikan tidak bisa dianggap remeh sangat benar dan perlu konsekuensi logis. 

Kekhawatiran kita bukan sekadar pola makan melainkan harapan pada generasi Indonesia emas sungguh diperhatikan dan wajib diperhitungkan dalam bentuk kebijakan. Sebab negeri kita bukan sekadar menjadi wilayah yang lautnya luas melainkan negeri kita melimpah hasil lautnya. 

Kebijakan dari pemerintah menerapkan makan bergizi gratis mengandung makna yang tersirat. Tak menampik dalam pengelolaan yang belum baik. Tetapi makan bergizi gratis jika dimaksimalkan dengan pola makan terbaik, utamanya makan ikan sangat berpotensi meningkatkan kecerdasan pada anak.

Anak yang rutin makan ikan dibuktikan oleh penelitian yang menyebutkan IQ-nya meningkat lebih tinggi, minimal makan ikan seminggu sekali. Dari hal itu, tidak bisa disangkal lagi, anak mesti diarahkan makan ikan dengan baik. 

Jika ditelusuri melalui data ⁠Kementerian Kelautan dan Perikanan, konsumsi ikan nasional menunjukkan kenaikan yang tinggi, dimulai tahun 2023 yaitu 57,91 kg, tahun 2024 yaitu 58,91 kg, tahun 2025 menunjukkan konsumsi ikan untuk kategori rumah tangga menembus 26,08 kg. Maka rutin makan ikan sangat penting, salah satunya mencegah stunting pada anak.

Di rumah tangga perlu diketahui bahwa porsi makan ikan untuk anak, pada usia 1 sampai 3 tahun hanya sekitar 1 ons atau 28 gram, pada usia 4 sampai 7 tahun sekitar 2 ons atau 56 gram, dan pada usia anak 8 tahun ke atas dengan porsi seperempat orang dewasa minimal 2 sampai 3 kali dalam seminggu.

Memaksimalkan konsumsi ikan seiring dengan penyelenggaraan hari laut di tahun 2026. 

Kampanye Makan Ikan 

Kampanye makan ikan pada anak sebagai investasi bagi bangsa Indonesia. Jika kebijakan searah dengan kebutuhan maka tidak ada komentar lagi untuk meningkatkan kebijakan menjadi teknis yang tepat guna. Prinsipnya menyalakan semangat kepada masyarakat untuk mengedepankan kepentingan konsumsi pada anak. 

Meskipun terlihat biasa dan tidak bisa disepelekan begitu saja. Nampak masih terdapat wilayah yang mengalami ketimpangan. 

Konsumsi ikan yang rendah mengindikasikan bahwa wilayah tersebut belum memiliki kebijakan yang terbaik. Sehingga masyarakat masih belum terlalu paham dan tidak segera bertindak. 

Jika ditelisik berdasarkan wilayah, maka wilayah yang mendominasi makan ikan pada Provinsi Maluku Utara dan Papua. Sementara wilayah Jawa Barat dan DI Yogyakarta kecenderungannya rendah dalam mengonsumsi ikan.

Maka sudah sepantasnya kebijakan pemerintah pusat dan daerah menyeragamkan kebijakannya sehingga makan ikan pada anak bukan salah satu pilihan. Melainkan diwajibkan bahkan mendapatnya dengan gratis. Demi anak Indonesia di masa mendatang. 

Kalau kebijakan tersebut berlaku tentu ini menjadi berita gembira. Dan dapat dipastikan kecerdasan anak Indonesia meningkat. 

Kemudian tujuan pendidikan berkualitas bukan sebatas jargon. Pelaksanaan pendidikan semakin banyak dijumpai anak-anak hebat. Aktif berprestasi.

Dari sekian banyaknya olahan yang belum tentu menyehatkan, maka adanya ikan yang memiliki protein tingi patut menjadi pilihannya. 

Sebenarnya laut Indonesia bukan milik personal. Hadirnya laut di negeri kita untuk kesejahteraan masyarakatnya. Sekalipun demikian banyaknya ilegal fishing sampai melakukan penambangan ikan membabi buta, tetapi hak dasar masyarakat untuk mengingat bahwa Indonesia adalah negeri yang memberikan sejuta kebermanfaatan, dan ikanlah yang dapat dinikmati oleh masyarakatnya. Bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut.

Oleh karenanya, memakan ikan sebagai pemaknaan terhadap kemerdekaan laut Indonesia, sejujurnya kita masih berjuang untuk mendapatkan daulat atas laut dan seisinya. Merdekanya kelautan kita harus diimplementasikan menjadi kemakmuran masyarakat untuk mengonsumsi ikan di seluruh wilayah Indonesia tak terkecuali. 

Hebatnya, kita akan melihat bahwa laut Indonesia bukan sekadar luasnya, tetapi hak dasar dan hak asasi masyarakat dikelola seefisien mungkin pada isi laut yang ada. 

Kita tidak boleh melakukan penambangan ilegal tetapi kita diperintahkan untuk mendapatkan hasil laut untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan, sebagaimana kita mengerti bahwa wilayah Indonesia dikelilingi oleh lautan yang luas.

Nampaknya kita perlu merefleksi bersama. Sejauh ini siapakah yang bertanggung jawab atas kesadaran jika masyarakat belum makan ikan rutin? Sedangkan untuk mengelola ikan, pemerintah mendapatkan hak prerogatif. 

Marilah mengetik diri dan mengetuk hati. Kelak, kemerdekaan laut akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat dan pemimpinnya.

Desak lagi, hari laut bukan program semata-mata menunaikannya tetapi hajat makan ikan akan membuat pemerintah menyadari bahwa bangsa cerdas adalah kemampuan masyarakat untuk mengedepankan kualitas anak-anak Indonesia. (*)


Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam