Ayo Netizen

Harian Merdeka, Surat Kabar yang Mengawal Kemerdekaan

Oleh: Kin Sanubary
Kin Sanubary memperlihatkan surat kabar Merdeka edisi 3 Juni 1974, sebuah terbitan bersejarah yang kini telah berusia 52 tahun. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Di antara deretan surat kabar yang lahir pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, Harian Merdeka menempati tempat yang istimewa. Ia bukan sekadar media massa, melainkan saksi hidup perjalanan sebuah bangsa yang baru meraih kemerdekaannya. Dari lembar demi lembarnya, masyarakat mengikuti denyut politik, perkembangan ekonomi, hingga dinamika sosial yang membentuk wajah Republik Indonesia.

Harian Merdeka resmi terbit pada 1 Oktober 1945, hanya beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Surat kabar ini didirikan oleh Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah), wartawan pejuang yang juga dikenang sebagai penyelamat naskah asli Proklamasi. Naskah bersejarah itu dipungutnya dari tempat sampah di kediaman Laksamana Tadashi Maeda, sehingga kelak menjadi salah satu dokumen paling berharga dalam sejarah bangsa.

Bersama sejumlah wartawan muda, di antaranya Joesoef Isak dan Rosihan Anwar, B.M. Diah mengambil alih percetakan bekas surat kabar Jepang Djawa Shimbun. Dari mesin cetak itulah lahir edisi perdana Harian Merdeka, membawa semangat mempertahankan kemerdekaan melalui kekuatan informasi dan kata-kata.

Sejak awal, Merdeka tampil berbeda. Di saat banyak surat kabar masih mencari bentuk, Merdeka hadir sebagai koran nasional yang berani, kritis, sekaligus dekat dengan denyut kehidupan rakyat. Slogan yang terpampang di kepala surat kabarnya, "Suara Rakyat Republik Indonesia", menjadi penegasan bahwa pers harus berdiri bersama kepentingan bangsa yang baru merdeka.

Surat kabar legendaris Merdeka, yang pertama kali terbit pada 1 Oktober 1945, hanya dua bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Memasuki era Orde Lama hingga Orde Baru, Harian Merdeka menjelma menjadi salah satu surat kabar paling berpengaruh di Indonesia. Gaya pemberitaannya dikenal lugas, tajam, dan mudah dipahami, dengan tajuk utama yang kuat serta penyajian berita yang tegas. Tidak mengherankan jika banyak wartawan ternama Indonesia mengawali perjalanan profesionalnya dari ruang redaksi koran legendaris ini.

Salah satu edisi yang dikoleksi penulis yaitu terbitan Rabu, 3 Juli 1974, menjadi potret menarik mengenai wajah Indonesia pada dekade 1970-an. Tajuk utama tentang larangan impor mobil mewah menggambarkan arah kebijakan ekonomi pemerintah saat itu, sementara berita wafatnya Presiden Argentina, Juan Perón, menunjukkan bahwa Merdeka juga memberi perhatian besar terhadap perkembangan dunia internasional. Tata letaknya yang sederhana namun tegas, penggunaan huruf-huruf besar pada judul utama, serta dominasi berita politik menjadi ciri khas surat kabar Indonesia pada masa tersebut.

Kontribusi B.M. Diah terhadap dunia pers tidak berhenti pada Harian Merdeka. Bersama istrinya, Herawati Diah, ia turut membangun kelompok media yang berpengaruh, termasuk menerbitkan Indonesian Observer, surat kabar berbahasa Inggris yang selama bertahun-tahun menjadi rujukan kalangan diplomatik, pemerintahan, dan dunia usaha.

Harian Umum Rakyat Merdeka, yang lahir sebagai reinkarnasi surat kabar Merdeka setelah mengalami perubahan kepemilikan dan memasuki babak baru dalam perjalanan pers Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Warisan terbesar Harian Merdeka bukan hanya ribuan edisi yang kini menjadi arsip sejarah, melainkan semangat jurnalistik yang terus hidup. Di tengah keterbatasan pasca-kemerdekaan, B.M. Diah membuktikan bahwa surat kabar bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga instrumen perjuangan, sarana pendidikan publik, sekaligus penjaga memori kolektif bangsa.

Kini, lembaran-lembaran Harian Merdeka yang telah menguning dimakan usia menjelma menjadi artefak sejarah. Setiap judul, foto, dan kolom berita menjadi jendela yang memperlihatkan bagaimana Indonesia tumbuh, menghadapi berbagai tantangan, dan menapaki perjalanan sebagai negara yang merdeka. Tak mengherankan jika bagi kolektor surat kabar lawas maupun peneliti sejarah pers, Merdeka tetap menjadi salah satu koran paling bernilai dalam khazanah jurnalistik Indonesia.

Meski Harian Merdeka akhirnya menghentikan penerbitannya, semangatnya tidak benar-benar padam. Jejak dan warisannya berlanjut melalui Rakyat Merdeka, yang lahir sebagai penerus semangat keberanian dan independensi dalam pemberitaan. Dengan karakter dan zamannya sendiri, Rakyat Merdeka meneruskan nama besar "Merdeka" sebagai salah satu ikon penting dalam sejarah pers nasional. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam