Membaca Ulang Hijrah di Tengah Gaduhnya Reformasi Jilid 2

6 menit baca
zahro diniyah
Ditulis oleh zahro diniyah diterbitkan
Ilustrasi flat vector bertema keuangan. (Sumber: Pexels | Foto: Monstera Production)
Ilustrasi flat vector bertema keuangan. (Sumber: Pexels | Foto: Monstera Production)

Setiap kali Muharram tiba, ada semacam kebiasaan lama yang kembali hidup di tengah masyarakat kita. Masjid-masjid mengadakan tabligh akbar, media sosial dipenuhi ucapan tahun baru Hijriah dengan latar foto senja atau kaligrafi berwarna emas, dan di banyak majelis taklim, penceramah kembali mengulang kisah perjalanan Rasulullah dari Makkah menuju Madinah sebagai penutup rangkaian acara. Sebagian dari kita mendengarkannya sambil mengangguk pelan, sudah hafal alurnya, sudah tahu ke mana arah nasihatnya akan berlabuh. Dan barangkali di situlah persoalannya mulai nampak, ketika sebuah peristiwa sebesar hijrah, yang dahulu mengguncang tatanan sosial-politik jazirah Arab hingga ke akarnya, kini diperlakukan sebagai rutinitas tahunan yang datang dan pergi tanpa banyak menyentuh cara kita hidup bernegara.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, hijrah bukanlah sekadar catatan geografis tentang kepindahan sekelompok orang dari satu kota ke kota lain. Ia adalah peristiwa yang mengubah struktur sosial secara menyeluruh, dari komunitas yang tertekan dan tercerai-berai di Makkah, menjadi masyarakat yang memiliki sistem pemerintahan, aturan sosial, dan tatanan ekonomi yang lebih tertata di Madinah. Ada piagam yang disusun untuk mengatur hubungan antarwarga, ada pasar yang diatur agar tidak menindas pedagang kecil, ada mekanisme kepemimpinan yang mengikat kepentingan berbagai kelompok menjadi satu kesepakatan bersama. Dengan kata lain, hijrah adalah proyek pembangunan tatanan, bukan semata pemindahan alamat.

Barangkali karena itulah, Muharram tahun ini terasa berbeda dari Muharram-Muharram sebelumnya. Bukan karena kalender yang berubah, melainkan karena suasana bangsa yang sedang diliputi keresahan yang tidak biasa. Sejak awal Juni lalu, gelombang protes yang belakangan disebut sebagai Reformasi Jilid 2 mulai bergulir, dipicu oleh aksi mahasiswa yang berdiri di depan Kantor Bank Indonesia, menuntut pemerintah segera memperkuat nilai tukar rupiah yang sempat merosot tajam ke kisaran delapan belas ribu per dolar. Angka delapan belas hari yang mereka jadikan tenggat waktu bukan sekadar simbol dramatis untuk menarik perhatian media, melainkan cerminan dari kegelisahan yang sudah lama mengendap dari harga pangan yang terus merangkak naik, biaya energi yang menekan dapur rumah tangga, dan bayang-bayang pemutusan hubungan kerja yang tidak kunjung reda.

sekelompok orang sedang melakukan aksi demonstrasi (Sumber: Pexels | Foto: Rakhmat Suwandi)
sekelompok orang sedang melakukan aksi demonstrasi (Sumber: Pexels | Foto: Rakhmat Suwandi)

Yang menarik untuk direnungkan, gerakan ini sesungguhnya belum memasuki fase mobilisasi besar-besaran. Ia masih berada pada tahap konsolidasi, semacam peringatan dini, semacam suara yang sengaja dikeraskan agar didengar sebelum keadaan benar-benar memburuk. Namun justru di titik inilah kita, umat yang tengah menyambut tahun baru Hijriah, mendapati ruang untuk berpikir lebih dalam. Sebab apa yang sedang dipertanyakan oleh anak-anak muda itu, pada dasarnya, bukan hanya soal kurs mata uang atau statistik ekonomi. Yang mereka pertanyakan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar, apakah negara ini benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya, ataukah sekadar bertahan dari satu krisis ke krisis berikutnya tanpa pernah benar-benar berubah.

Namun demikian, akan menjadi tidak adil apabila kegelisahan ini dibaca seolah-olah pemerintah berpangku tangan tanpa upaya apa pun. Sepanjang gejolak ini bergulir, ada pula langkah-langkah yang diambil untuk meredam beban masyarakat, misalnya keputusan menahan tarif listrik agar tidak naik demi menjaga daya beli rakyat, serta kebijakan mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang jauh dari kendali satu negara mana pun. Pelemahan rupiah yang menjadi pemicu awal aksi mahasiswa itu sendiri tidak sepenuhnya lahir dari kelalaian domestik, melainkan juga terseret oleh gejolak ekonomi global yang sedang dihadapi hampir seluruh negara berkembang. Titik ini penting untuk terus diingat, sebab kritik yang jujur semestinya lahir dari kejernihan membaca persoalan, bukan dari amarah yang menyamaratakan semua pihak sebagai pihak yang bersalah.

Di sinilah semangat hijrah, jika kita mau tepat dalam memaknainya, menemukan relevansinya yang paling tajam. Sebab hijrah, sebagaimana telah disinggung di atas, tidak pernah berhenti pada perpindahan simbolik. Ia menuntut transformasi yang menyentuh cara berpikir dan cara bekerja sebuah tatanan. Maka jika Reformasi 1998 dahulu membuka pintu bagi kebebasan politik, barangkali yang dibutuhkan hari ini adalah sesuatu yang bisa kita sebut sebagai hijrah birokrasi, perpindahan dari cara lama menuju cara baru dalam menyelenggarakan negara, yang tidak cukup diselesaikan dengan pergantian pejabat atau revisi anggaran semata.

Hijrah birokrasi yang saya maksud setidaknya menyentuh tiga hal. Pertama, hijrah mentalitas, yaitu keberanian aparatur negara untuk meninggalkan pola pikir lama yang terbiasa dilayani, menuju budaya yang benar-benar melayani. Ini bukan perkara mudah, sebab kebiasaan yang telah mengakar bertahun-tahun tidak bisa dicabut hanya dengan slogan atau pelatihan satu hari. Kedua, hijrah dalam regulasi ekonomi, yang berarti keberpihakan yang lebih nyata kepada pelaku usaha kecil dan menengah, pencegahan praktik monopoli yang selama ini menyempitkan ruang gerak rakyat kecil, serta perluasan akses ekonomi sebagaimana diamanatkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Ketiga, hijrah digital yang inklusif, di mana teknologi benar-benar diarahkan untuk mempermudah urusan rakyat, bukan justru menciptakan lapisan birokrasi baru yang lebih rumit dari sebelumnya.

Sebagai seorang pengajar yang setiap pekan duduk bersama jamaah di majelis taklim, saya kerap menyaksikan bagaimana masyarakat kecil menanggung beban perubahan ekonomi jauh lebih dahulu daripada mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan itu sendiri. Ibu-ibu yang mengeluhkan harga beras, pedagang kecil yang kebingungan menghadapi kenaikan biaya bahan baku, para orang tua yang cemas memikirkan biaya sekolah anak-anaknya di tengah ancaman pemutusan hubungan kerja yang terus membayangi. Bagi mereka, hijrah bukan wacana abstrak yang cukup didiskusikan di ruang seminar. Hijrah adalah harapan yang sangat konkret bahwa negara akan hadir, bahwa keadilan akan dirasakan, bahwa perubahan yang selama ini dijanjikan tidak berhenti sebagai retorika belaka.

Tentu, di tengah kegelisahan ini, kita tetap perlu menjaga keseimbangan antara sikap kritis dan husnudzan kepada pemerintah. Kritik adalah instrumen penting dalam kehidupan bernegara yang sehat, namun kepercayaan sosial juga merupakan modal yang tidak kalah berharga untuk menjaga keberlanjutan pembangunan. Bangsa yang terus-menerus diliputi kecurigaan dan pesimisme akan kehilangan energi kolektifnya untuk bertahan, apalagi untuk melangkah maju. Maka barangkali, tugas kita hari ini bukan sekadar memilih antara diam atau marah, melainkan menghadirkan kritik yang membangun sekaligus doa yang tulus, agar mereka yang diberi amanah benar-benar mengingat untuk siapa amanah itu dijalankan.

Kritik yang membangun semacam ini, dalam tradisi keilmuan Islam, sesungguhnya bukan hal yang asing. Nasihat kepada pemimpin selalu ditempatkan sebagai bagian dari amal saleh, disampaikan dengan adab dan kelembutan, bukan dengan nada yang menekan atau mengesankan permusuhan. Menyampaikan aspirasi bukan berarti menuntut secara sepihak, dan menuntut perbaikan bukan berarti melupakan bahwa setiap kebijakan lahir dari pertimbangan yang rumit, melibatkan banyak kepentingan yang tidak selalu terlihat dari luar. Yang dibutuhkan bangsa ini barangkali bukan suara yang paling keras, melainkan suara yang paling jernih, yang mampu menunjukkan persoalan tanpa kehilangan rasa hormat kepada mereka yang sedang berusaha, sekalipun usaha itu belum sepenuhnya memuaskan.

Muharram tahun ini mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mudah dilupakan, bahwa hijrah sejati tidak pernah selesai hanya dengan berpindah tempat atau berganti nama program. Ia baru benar-benar bermakna ketika perpindahan itu melahirkan tatanan yang lebih adil bagi mereka yang selama ini berada di pinggir jalan perubahan. Rasulullah membangun Madinah bukan dalam semalam, dan bukan pula tanpa perlawanan dari mereka yang nyaman dengan tatanan lama. Maka jika hari ini bangsa kita sedang berada di persimpangan yang tidak nyaman, barangkali itu bukan pertanda kehancuran, melainkan pertanda bahwa rumah yang sedang kita bangun bersama ini memang belum selesai, dan masih membutuhkan tangan-tangan yang mau bekerja, bukan sekadar bersuara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

zahro diniyah
Tentang zahro diniyah
Pengajar, aktivis dan Penulis yang beberapa tulisannya telah di muat di berbagai surat kabar seperti Republika, Pikiran Rakyat, Magrib.id dan lain-lain.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:41

Pemborosan Pangan dalam Lingkungan Rumah serta Dampaknya Terhadap Lingkungan

Mengurangi food waste menjadi langkah sederhana untuk menjaga lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.

Ilustrasi sampah makanan. (Sumber: Pexels | Foto: Sarah Chai)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:08

Pengaruh AI dalam Meningkatkan Efektivitas dan Akurasi di Dunia Akuntansi

Dalam dunia akuntansi Artificial Intelligence memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan, meminimalisir kesalahan, mendeteksi adanya kecurangan, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

ilustrasi dunia akuntansi. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 17:09

Masa Depan Forensic Accounting: Optimalisasi Artificial Intelligence dan Data Analytics dalam Mengungkap Korupsi di Indonesia

Memahami bagaimana peran dari artificial intelligence dan data analysis dalam forensic accounting dalam mengungkap fraud dan korupsi di Indonesia.

Ilustrasi akuntan. (Sumber: Pexels | Foto: Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 15:30

Penggunaan Artificial Intelligence dan Simulasi Studi Kasus dalam Mengatasi Masalah Mahasiswa Akuntansi

AI dan simulasi studi kasus membantu mahasiswa akuntansi memahami perubahan standar, membandingkan GAAP, IFRS, dan SAK, serta melatih kemampuan menghadapi permasalahan akuntansi secara lebih realistis

Ilustrasi penggunaan AI. Simulasi studi kasus dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) menjadi solusi inovatif untuk berbagai kendala yang dialami oleh mahasiswa akuntansi.
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 14:37

KDM Minta Maaf Gara-gara 80.000 Warga Jabar Masih Gelap-gelapan

Kang Dedi Mulyadi menyoroti 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia menilai pemerintah masih memiliki pekerjaan besar untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di seluruh Jawa Barat secara merata.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat upacara hari kemerdekaan di Gedung Sate.  (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 13:48

Membaca Bahasa Kekuasaan di Balik Fenomena Pemasangan Pagar Mal Agustus 2026

Ketika mal-mal besar mendadak berpagar tinggi lalu semua pihak buru-buru membantah kaitannya dengan kerusuhan, yang tersingkap justru ketakutan itu sendiri.

Ilustrasi pagar di mal. (Sumber: Pexels | Foto: Thiago Calamita)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 10:49

Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Integritas

Mari mengisi kemerdekaan dengan ilmu yang mencerahkan, pendidikan yang memanusiakan, teknologi yang beretika, agama yang menebarkan kedamaian, dan pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan.

Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)
Wisata & Kuliner 18 Agu 2026, 10:06

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi, Wisata Perkebunan dengan Panorama Gunung Salak

Hamparan kebun teh, kabut pagi, dan udara sejuk menjadi daya tarik utama Kebun Teh Jayanegara di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi.

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi. (Sumber: Instagram @smiling.wetjava)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 08:15

81 Tahun Merdeka, Untuk Siapa Kemerdekaan Bekerja?

Mungkin persoalannya bukan apakah Indonesia telah merdeka, melainkan ke mana kemerdekaan itu dibawa dan untuk siapa ia bekerja.

Pada sebuah acara peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 07:48

Makna Hari Kemerdekaan: Wujudkan Bandung Berdikari dengan Optimasi Aset

Mewujudkan Bandung berdikari, mesti mengembangkan lebih banyak lagi ragam profesi atau jenis pekerjaan masa kini.

Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Pemkot Bandung (Sumber: bandung.go.id)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 21:22

Kedaulatan Komunikasi sebagai Wajah Baru Kemerdekaan

Di usia ke-81 RI, kemerdekaan bukan hanya soal wilayah, tetapi kedaulatan komunikasi: kemampuan berpikir jernih, memverifikasi kebenaran, dan berdialog sehat di tengah gempuran algoritma dan hoaks.

Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 19:20

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

Menelusuri hubungan sejarah dan fotografi, dari foto sebagai rekaman masa lalu hingga teknologi visual mutakhir yang membuka cara baru dalam membaca sejarah.

Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 16:20

El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 15:00

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

Mengulas sejarah fotografi di Indonesia, perannya sebagai sumber sejarah visual, serta persoalan pelestarian arsip foto dalam merekam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 13:02

Refleksi Indonesia Merdeka

Dalam refleksi Indonesia merdeka adalah Indonesia harus terus belajar menjadi Indonesia yang adil, berdaulat, beradab dan manusiawi, itulah kemerdekaan sesungguhnya.

Acara pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 11:26

Bendera Berkibar Janji Ditebar

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 10:05

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Taman Bincarung: Trek Pendakian, Lokasi, dan Harga Tiket

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung, informasi trek pendakian, lokasi gunung, dan harga tiket yang perlu diketahui sebelum melakukan pendakian.

Peta Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 09:22

Ketimpangan Terselubung di Balik Pilihan Kos Mahasiswa

Ketimpangan dalam soal pilihan tempat kos mungkin tidak selalu kentara, tetapi dampaknya nyata dan berlapis.

Mahasiswa baru salah satu PTN mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.