Ayo Netizen

Upaya Membangun Kesadaran dan Sinergitas untuk Pengolahan Sampah

Oleh: Budi Permana
Sampah botol plastik, sisa makanan, dan bekas flare terlihat berserakan di sejumlah ruas jalan Kota Bandung selepas konvoi Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Hal ini sering terjadi, khususnya di wilayah perkotaan dan salah satunya Kota Cimahi. Sebagai kota dengan luas wilayah terbatas dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, Kota Cimahi menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas lingkungan di tengah meningkatnya volume sampah. Adapun permasalahan sampah ini tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi menyangkut kesehatan, kenyamanan, dan keberlanjutan eko sistem lingkungan perkotaan. Fenomena penumpukan sampah pun muncul mulai dari gang-gang kecil hingga jalanan besar. Penumpukan sampah ini mengakibatkan timbulnya bau busuk menyengat hingga mendatangkan ribuan lalat dan pemandangan yang makin tak sedap.

Berdasarkan data pada Februari 2026, timbunan sampah di Kota Cimahi mencapai 234 hingga 250 ton per hari (sumber : https://cimahikota.go.id/berita/detail/83675-setiap-hari-234-ton-sampah,-cimahi-tambah-tpst-di-wilayah-selatan). Dari jumlah tersebut, baru sekitar 49,6 persen yang dapat dikelola secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi Chanifah Listyarini saat itu menyampaikan bahwa tingkat pengelolaan sampah Kota Cimahi saat ini masih berada di bawah 50 persen. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Belum optimalnya pengelolaan sampah berdampak pada munculnya penumpukan sampah di berbagai lokasi di Kota Cimahi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menemukan puluhan titik tumpukan sampah liar yang mengganggu kenyamanan masyarakat dan mencemari lingkungan (sumber : https://cimahikota.go.id/berita/detail/83799-dlh-kota-cimahi-sasar-tumpukan-sampah-liar). Petugas gabungan pun harus diterjunkan untuk membersihkan sampah yang menumpuk tersebut. Fenomena ini sesungguhnya merupakan alarm bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui pengangkutan dan pembersihan semata. Dibutuhkan perubahan perilaku dan kesadaran kolektif agar masalah serupa tidak terus berulang.

Masyarakat perlu terus didorong untuk melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah. Memisahkan sampah jenis organik, anorganik, dan residu mungkin terlihat sepele, namun memiliki dampak besar terhadap keberhasilan pengelolaan sampah secara keseluruhan. Pemilahan sampah tidak hanya memudahkan proses pengolahan dan daur ulang, tetapi juga mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di tengah keterbatasan kapasitas TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan semakin kompleksnya persoalan persampahan, kebiasaan memilah sampah merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan. Pemilahan sampah diharapkan menjadi budaya sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat pada semua kalangan. Pemilahan sampah bukan hanya menjadi tugas Ibu-ibu di rumah. Pemilahan sampah harus disadari dan terus dilakukan oleh siapapun. Para karyawan di perkantoran, para siswa di sekolah, para pedagang di pasar, di jalan dan siapapun harus memiliki kesadaran dalam memilah sampah.

Jangan pernah lelah untuk memilah sampah, karena setiap sampah yang dipilah dengan benar adalah kontribusi nyata untuk menciptakan Kota Cimahi yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan oleh aparat kewilayahan, mulai dari ketua RT, RW, hingga petugas pengelola sampah. Edukasi mengenai pentingnya memilah sampah, penting untuk terus disampaikan kepada masyarakat.

Pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti semakin menegaskan bahwa pola lama "kumpul-angkut-buang" tidak lagi memadai. Kapasitas tempat pembuangan yang terbatas mengharuskan setiap daerah, termasuk Kota Cimahi, mencari solusi yang lebih inovatif. Artinya, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Pengurangan volume sampah dan pemilahan sejak awal menjadi langkah penting yang tidak dapat ditawar lagi.

Pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan. Setiap warga memiliki peran penting dalam membiasakan pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu sebelum dibuang. Kebiasaan sederhana ini akan memudahkan proses pengolahan, meningkatkan potensi daur ulang, serta mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.

Di tengah berbagai keterbatasan, kreativitas justru menjadi peluang. Bank sampah berbasis digital dapat menjadi sarana yang mendorong masyarakat memilah sampah sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan atau ecobrick yang bernilai guna.

Pemerintah bersama masyarakat juga dapat menghadirkan berbagai inovasi, seperti pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi lingkungan, menyelenggarakan kompetisi wilayah terbersih, mengapresiasi warga yang aktif memilah sampah hingga program satu rumah satu komposter. Dengan upaya tersebut, diharapkan sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Persoalan sampah bukan semata urusan Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan, Kelurahan, para Ketua RW / RT dan para petugas kebersihan. Persoalan sampah adalah tanggung jawab Bersama, tanggungjawab semua elemen di Lingkungan Pemerintah Kota Cimahi. Kota Cimahi yang bersih tidak hanya ditentukan oleh banyaknya armada pengangkut sampah, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan mengelola sampah secara bertanggung jawab. Perubahan mind set dan budaya menjadi hal paling mendasar dalam pengelolaan sampah. Masyarakat memiliki kesadaran dan semangat dari kebiasaan “membuang sampah” menuju budaya “mengelola sampah”.

Keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, namun tantangan untuk menciptakan inovasi dan kolaborasi. Sinergitas antara Pemerintah Kota Cimahi, aparat kewilayahan, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat, Kota Cimahi memiliki peluang besar untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Sudah saatnya Cimahi bertransformasi dari kota yang sibuk membuang sampah menjadi kota yang cerdas dalam mengelola sampah. (*)

Reporter Budi Permana
Editor Aris Abdulsalam