Ayo Netizen

Ekspedisi Pamalayu: Invasi Militer Atau Jabat Tangan Diplomasi?

Oleh: Rahadeni Ratih kusumawardhani
Miniatur kapal Jung Java, sebuah kapal buatan pelaut Nusantara yang kabarnya telah berkelana keliling dunia hingga Madagaskar. (Sumber: Wikimedia Commons)

*Disusun oleh Rahadeni, Taris, Kaneza, dan Feyza.

Ekspedisi Pamalayu sering kali disalahartikan sebagai upaya ekspansi wilayah yang agresif yang dilakukan oleh Kerajaan Singasari. Pandangan semacam ini kerap muncul akibat minimnya pemahaman terhadap konteks politik dan geopolitik Asia Tenggara pada abad ke-13, di mana ancaman ekspansi Mongol di bawah Kubilai Khan menjadi bayang-bayang yang menghantui hampir seluruh kerajaan di kawasan ini.

Namun, bagaimana kebenaran di balik ekspedisi ini? Apakah benar Kertanegara mengirimkan pasukannya ke tanah Melayu semata-mata demi memperluas kekuasaan Singasari, ataukah ada motif yang jauh lebih kompleks dan strategis di balik keputusan besar tersebut? Namun, bagaimana kebenaran di balik ekspedisi ini? Mari kita bedah dan mencari tau kebenaran dibalik terlaksananya Ekspedisi Pamalayu oleh raja Kertanegara.

Berdasarkan artikel di quipper.com Ekspedisi Pamalayu adalah perjalanan yang dilakukan pada tahun 1275 Masehi dan merupakan upaya raja Kertanegara untuk memperluas wilayah kekuasaan Singasari. Menurut Kitab Pararaton yang ditemukan pada 1600 M, Pamalayu berasal dari bahasa Jawa kuno yang memiliki arti perang melawan Melayu.

Tetapi untuk memahami motif sesungguhnya dari Ekspedisi Pamalayu, kita perlu mundur sejenak dan melihat peta geopolitik Asia Tenggara pada abad ke-13. Pada masa itu, Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan tengah berada di puncak kekuasaannya dan secara aktif memperluas pengaruh ke selatan.

Dilansir dari jurnal Unair “Analisis Aspek Diplomasi Kultural Dalam Ekspedisi Pamalayu 1275-1294 M”, Ekspedisi Pamalayu dilakukan dengan cara mengerahkan pasukan Singasari yang sebanyak-banyaknya ke Melayu hingga membuat situasi Istana Singasari hampir kosong. Hal itu dibuktikan dengan tulisan dari kitab Pararaton yang menyatakan bahwa pasukan Tumapel (Singasari) yang tersisa di istana tinggal sedikit, banyak yang dikirim ke Malayu. Raja Sri Kertanegara yang membawa bala tentara ke Kerajaan Malayu Dharmasraya dispektifkan sebagai ancaman penaklukan militer.

Dalam hal ini, kebijakan ekspedisi Pamalayu dikira kebijakan imperialis atau invasi militer. Namun, tidak ada bukti tulisan atau laporan yang ditemukan sejarawan yang menyatakan Ekspedisi Pamalayu dilakukan secara imperialis. Hal-hal yang terjadi dalam ekspedisi tersebut ada indikasi terjadi proses pembuatan kesepakatan antara dua pihak.

Bukti Ekspedisi Pamalayu

Artikel jurnal dengan judul "Ekspedisi Pamalayu Singasari dan Pengaruh Dalam Perluasan Wilayah" menjelaskan bahwa Ekspedisi Pamalayu tidak dapat dikategorikan secara langsung sebagai penaklukan murni maupun diplomasi damai sepenuhnya, melainkan kombinasi strategis antara diplomasi dan kekuatan militer.

Sisi diplomatiknya terlihat dari pengiriman Arca Amoghapasa sebagai hadiah simbolis, pemberian gelar kehormatan kepada penguasa Melayu, pernikahan politik antara Raden Wijaya dan Dara Petak, serta penyebaran pengaruh budaya dan agama Buddha Mahayana. Sedangkan sisi militernya ada, tapi bukan untuk menyerang Melayu, melainkan sebagai simbol supremasi Singasari dan alat pertahanan regional demi membangun blok anti-Mongol dan mengamankan jalur perdagangan Selat Malaka.

Arca Amoghapasa (Sumber: Museum Nasional Indonesia)

Website resmi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya pernah membahas tentang Ekspedisi Pamalayu. Artikel pada website resmi tersebut menjelaskan Ekspedisi Pamalayu selama ini keliru dipahami sebagai penaklukan Singasari atas Melayu/Sumatera. Bukti arkeologi justru menunjukkan sebaliknya, pengiriman arca Amoghapasa pada 22 Agustus 1286 bukan simbol penaklukan, melainkan pemberian hadiah dari Raja Kertanegara kepada Kerajaan Dharmasraya.

Hal ini terbaca jelas dari prasasti pada lapik arca yang menyebut kata "hadiah" dan "semoga membuat gembira segenap rakyat Bhumi Malayu", bukan klaim atas wilayah. Amoghapasa sendiri dalam ajaran Buddha melambangkan belas kasih, bukan dominasi militer. Arkeolog Bambang Budi Utomo yang meneliti Dharmasraya sejak 1980-an pun menegaskan bahwa data arkeologi tidak mendukung narasi penaklukan.

Hubungan Diplomasi?

Setelah membaca berbagai sumber mengenai Ekspedisi Pamalayu, kesimpulannya ialah Raja kertanegara tidak memerintahkan ekspedisi pamalayu sebagai penaklukan, melainkan untuk aliansi.

Ekspedisi Pamalayu adalah bukti bahwa kekuatan Nusantara dibangun tidak hanya lewat peperangan, tapi juga lewat diplomasi, simbol budaya, dan kepentingan bersama. Kehadiran pasukan besar bukan untuk menyerang, melainkan proyeksi kekuatan demi membangun blok anti-Mongol dan mengamankan Selat Malaka. (*)

Reporter Rahadeni Ratih kusumawardhani
Editor Aris Abdulsalam