Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musik adalah seni yang menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Musik barat sendiri dapat diartikan seni suara dan nada yang berasal dari budaya Eropa dan Amerika, yang aliran utamanya meliputi Pop, Rock, Jazz, Hip-Hop, dan masih banyak lagi.
Di Indonesia, kehadiran genre-genre ini tidak serta-merta berjalan mulus. Ada masa di mana ketukan drum dan raungan gitar elektrik dianggap sebagai ancaman serius bagi kedaulatan bangsa.
Pada tahun 1959, Presiden Soekarno secara resmi melarang peredaran dan pemutaran musik Barat di Indonesia. Poin ini berkaitan dengan Manifesto Politik Indonesia yang ditetapkan sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara, larangan tersebut dibuat sebagai bentuk penentangan imperialisme dan neokolonialisme Barat di Indonesia, pemerintah bahkan mengeluarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 11/1963 serta merevisi Pasal 154-157 KUHP untuk mengkriminalisasi penyebaran kebudayaan asing yang dianggap merusak.
Istilah "musik ngak ngik ngok" pun diciptakan Soekarno untuk mengejek musik Barat—khususnya demam British Invasion yang dipelopori The Beatles. yang dianggap merusak jati diri bangsa. Musik Barat seperti Rock n Roll yang mengikuti gaya The Beatles dinilai anti-revolusi oleh Soekarno, PKI, dan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).
Pemerintah khawatir, gaya hidup kebarat-baratan akan melemahkan semangat nasionalisme dan jiwa patriotik pemuda Indonesia yang saat itu sedang digelorakan untuk menghadapi konfrontasi. Akibatnya, musisi lokal yang nekat memainkan lagu Barat, seperti Koes Bersaudara, harus merasakan dinginnya jeruji besi penjara Glodok pada tahun 1965.

Namun Aksi dan reaksi masyarakat Indonesia terhadap musik barat sebetulnya menunjukkan dinamika penerimaan yang beragam jika kita menarik garis waktu lebih mundur. Jauh sebelum pelarangan tahun 1950-an, masuknya musik pop/jazz pada abad ke-20 di Batavia melalui piringan hitam (gramofon).
Peneliti musik Alfred D. Ticoalu dalam tulisannya “Irama Jazz dan peranakan Tionghoa” menyebutkan jika The American Jazz Band adalah salah satu pelopor band jazz yang yang diterima baik oleh masyarakat Urban pada masa itu.
Ketika konformitas politik era Orde Baru mulai melonggar pasca-1966, musik Rock n Roll dan Pop Barat mencoba kembali masuk ke lapisan masyarakat. Melihat adanya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap musik pop/jazz terdahulu, membuat para musisi musik Rock n Roll mengupayakan agar genre mereka bisa lebih diterima di lapisan masyarakat.
Namun demikian, Melansir dari arsip koran Berita Yudha keluaran tahun 1970-an hingga 1980-an, musik Rock lokal awal sempat kurang diminati pasar karena dinilai terlalu menjiplak alias menjadi "plagiat" total dari band-band Barat, tanpa menunjukan identitas dan potensi karya sendiri. Musisi lokal harus berjuang ekstra untuk menemukan formula yang pas agar musik modern ini bisa diterima oleh kuping masyarakat Indonesia.

Salah satu jembatan terbesar masuknya pengaruh Barat ini terjadi lewat modernisasi instrumen, khususnya drum set. Sejak era kolonial hingga memasuki tahun 1960-an, komodifikasi drum set modern mulai mendominasi seiring terkenalnya band-band beraliran pop dan rock. Pengaruh instrumen Barat ini bahkan merembes dan memperkaya musik semi-tradisional urban. Seperti musik keroncong modern dan gambang kromong kombinasi yang mulai mengadopsi ketukan drum serta gitar elektrik untuk mengiringi alat musik tradisional.
Menurut drummer ternama Indonesia, Denny Arnold, "Drum merupakan instrumen yang sangat berperan dalam membentuk karakter musik Indonesia masa kini.” Alat musik ini berhasil melintasi batas genre dan menyatukan pengaruh modern dengan estetika lokal. Perkembangan musik Rock n Roll pun semakin pesat seiring dipergunakannya drum dalam berbagai aliran musik modern saat ini.
Kini, di era digital, musik Barat telah menjadi bagian integral dari gaya hidup sehari-hari. Perkembangan teknologi yang sangat cepat memudahkan penyebaran informasi dan musik melintasi sekat ruang dan waktu. Melalui platform musik digital seperti Spotify dan Apple Music, penetrasi lagu-lagu internasional masuk ke gawai generasi muda tanpa sekat ruang dan waktu.
Menariknya, evolusi panjang musik Barat ini tidak lagi ditelan mentah-mentah. Pengaruh musik Rock dan Pop Barat telah berasimilasi dengan sempurna dan melahirkan band-band lokal generasional seperti Reality Club, Perunggu, hingga The Changcuters. Mereka tampil sebagai titik puncak daya tarik baru yang membawakan musik dengan genre rock alternatif yang kental, namun tetap memiliki penjiwaan, lirik, dan identitas yang sangat dekat dengan realitas pendengar di Indonesia saat ini. (*)
REFERENSI
- Kumparan. 2023. Pengertian Musik Barat dan Konsepnya. kumparan.com.
- Pertiwi, A. 2014. Larangan Soekarno Terhadap Musik Barat Tahun 1959-1967. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 2(3).
- Saptohutomo, A.P. 2023. Larangan Soekarno soal Lagu “Ngak Ngik Ngok” yang Buat Koes Plus Dibui. kompas.com.
- Regar, R. F., & S. Dian Andryanto. 2023. Sejumlah Larangan Rezim Orde Lama dan Orde Baru untuk Anak Muda: Musik Ngak Ngik Ngok, Celana Ketat, Rambut Gondrong. tempo.co.
- Suharyo, P. B. 2022. Industri Musik dalam Geliat Antikolonialisme dan Imperialisme Soekarno di Indonesia (1959-1967). kompasiana.com.
- Yuliana, S. 2024. Perkembangan Musik Barat di Indonesia: Melankolis Hingga Trendi. tambahpinter.com
- Curta Music. 2025. Sejarah dan Perkembangan Drum di Indonesia. curtamusic.com
- Berita Sporty. 2025. Perjalanan Alat Musik Drum di Indonesia: Dari Masa ke Masa. beritasporty.com.
- Berita Yudha. 1986. Festival Musik Rock Se-Indonesia 1986. sidak.