*Ditulis oleh Karima Faika Supyan dan Faiza Khoirunnisa
Sebuah kepercayaan beredar di masyarakat mengenai larangan pernikahan antara kedua suku di Indonesia, yakni Jawa dengan suku Sunda. Meski sebagian besar menganggapnya hanya sebagai mitos belaka, tetapi masih ada sebagian yang mempercayainya. Larangan ini tidak muncul tanpa sebab, melainkan sudah ada sejak dulu bahkan saat Indonesia masih bercorak kerajaan tradisional.
Insiden yang terjadi antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Galuh disebut sebagai Pasunda Bubat atau Peristiwa Bubat. Walaupun kisah Pasunda Bubat semakin dikenal, tetapi belum banyak yang mengetahui apa yang terjadi setelah peristiwa ini baik dari sisi Kerajaan Majapahit ataupun Kerajaan Galuh.
Secara garis besar, kitab-kitab yang mencantumkan Pasunda Bubat memiliki cara pandang yang perbeda-beda. Kitab kuno yang berasal dari Jawa beberapa di antaranya adalah Kakawin Nagarakrtagama, Pararaton, Kidung Sunda, dan Kidung Sundayana. Sedangkan dari Sunda, yaitu Carita Parahyangan dan Bujangga Manik. Pasunda Bubat dikenal sebagai akar mula ketidakakuran antara kedua suku ini.
Kitab yang muncul paling dekat dengan peristiwa Pasunda Bubat adalah Nagarakrtagama, sedangkan kitab yang paling jauh atau tidak terlalu dapat diandalkan adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang muncul 180 tahun setelah Pasunda Bubat.
Peristiwa Pasunda Bubat
Pasunda Bubat adalah sebuah peristiwa yang terjadi di tahun 1357 M yang melibatkan antara dua kerajaan besar yakni Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Galuh. Semua berawal dari niat Hayam Huwuk, raja dari Kerajaan Majapahit yang hendak mempersunting Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Galuh. Namun, semuanya berjalan tidak lancar karena campur tangan Mahapatih Gajah Mada yang memiliki Amukti Palapa yakni sumpah untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit.
Mahapatih Gajah Mada yang menganggap datangnya Kerajaan Galuh di Bubat merupakan bentuk penyerahan diri di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit dan bukan merupakan hubungan setara sehingga Kerajaan Galuh merasa dihina dan melakukan perlawanan. Terjadilah perseteruan di lapang Bubat yang merugikan kedua belah pihak. Peristiwa ini juga mengakibatkan wafatnya Maharaja Linggabuana (ayah dari Dyah Pitaloka) beserta pasukannya, kegagalan ini karena Kerajaan Galuh tidak memiliki kesiapan yang matang untuk berperang atau bahkan sebatas mempertahankan diri.
Catatan Mengenai Kerajaan Majapahit Pasca-Pasunda Bubat
Dalam Kidung Sunda disebutkan Hayam Wuruk meninggal karena sakit dan Gajah Mada moksa menjadi Dewa lalu istrinya melakukan bela pati, sedangkan dalam Kidung Sundayana diceritakan setelah Dyah Pitaloka melakukan bela pati atau bunuh diri, Hayam Wuruk sangat terpukul, ia tidak tidur dan mogok makan sehingga jatuh sakit dan meninggal.
Di sisi lain, Patih Gajah Mada adalah penjelmaan Bhatara Wisnu. Ia memakai cawat garingsing, kain putih, lalu mengheningkan cipta dan musnah dari pandangan. Kemudian istri Gajah Mada berkelana mencari suaminya yang hilang. Pertemuan dengan seorang lelaki yang mirip dengan suaminya dan dia mengaku datang dari Majapahit yang sedang melarikan diri dari kebencian orang-orang. Istri Gajah Mada yakin bahwa itu adalah Gajah Mada lalu memeluknya, tetapi laki-laki itu tiba-tiba hilang. Merasa tugasnya telah selesai, istri Gajah Mada melakukan bela pati dengan menusuk dirinya sendiri.
Dalam Nagarakrtagama, Gajah Mada meninggal karena sakit pada 1364 M lalu Sri Hayam Wuruk memiliki permaisuri dan dikaruniai putri mahkota bernama Kusumawardhani yang menjabat sebagai Rani Kabalan. Anak laki-laki Sri Hayam Wuruk yang menjabat Bhre Wirabhumi tidak disebutkan, ini kemungkinan karena ibunya bukan dari Dinasti Rajasa sehingga namanya tidak ditulis Mpu Prapanca. Pemberitaan Nagarakrtagama lebih valid karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365 M.

Dalam Pararaton disebutkan Sri Hayam Wuruk meninggal pada 1389 M. Setelah gagal menikahi putri Sunda, Sri Hayam Wuruk menikah dengan putri Bhre Parameswara (Bhre Wengker Sri Wijayarasa) bernama Padukasori. Bhre Wengker adalah tokoh yang mendukung Gajah Mada memerangi orang-orang Sunda.
Padukasori sebenarnya bukan nama asli, melainkan sebutan umum untuk permaisuri dalam sastra Jawa Pertengahan. Sri Hayam Wuruk memiliki dua anak. Anak pertama dari Padukasori dikenal sebagai Bhre Lasem dan anak kedua dari istri lain, yaitu anak laki-laki menjabat sebagai Bhre Wirabhumi. Majapahit tidak memiliki Patih selama tiga tahun setelah Gajah Mada wafat pada 1368 M, baru pada 1371 M Patih Kerajaan Majapahit diisi oleh Gajah Enggon.
Catatan Mengenai Kerajaan Galuh Pasca-Pasunda Bubat
Menurut Carita Parahyangan, pasca Pasunda Bubat terjadi kekosongan kepemimpinan di dalam pemerintahan Kerajaan Galuh. Kedudukan raja untuk sementara yang dipegang oleh Patih Mangkubumi Suradipati, adik Prabu Linggabuana karena putra mahkota Niskalawastu Kancana belum cukup umur naik takhta (Herlina, 2020). Saat Patih Mangkubumi Suradipati memerintah, ia tidak melakukan upaya untuk membalas dendam terhadap perbuatan Majapahit, tetapi lebih mementingkan urusan-urusan di kerajaannya.
Pada saat Niskalawastu Kancana menjadi raja, ia memindahkan pusat kekuasaan dari Galuh ke Kawali. Putra Niskalawastu Kancana, Dewa Niskala menggantikan takhta ayahnya pada 1474 M dan berkuasa selama kurang lebih tujuh tahun. Ia diturunkan dari takhta karena melakukan pelanggaran dengan menikahi “Perempuan larangan” seperti yang tertulis di Carita Parahyangan. Arti dari perempuan larangan itu masih menjadi perdebatan. Ada yang berpendapat bahwa perempuan larangan itu adalah perempuan dari Majapahit.
Keturunannya, Pangeran Jayadewata bergelar Prebu Guru Dewataprana naik takhta pada 1482 M. Ia menikah dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Sang Susuk Tunggal Raja dari Kerajaan Sunda. Melalui pernikahan antar kerajaan di Tatar Sunda ini, Prebu Guru Dewataprana juga mewarisi takhta Kerajaan Sunda dan dengannya menyatukan seluruh Tatar Sunda sebagai penguasa tunggal. Ia kembali dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Ratu Dewata (Herlina, 2020). (*)
Sumber referensi:
- Azmi, S. (2017). Bubat: Sisi Gelap Hubungan Kerajaan Majapahit Hindu Dengan Kerajan Sunda. Ushuluna, 3(1).
- Herlina, Nina. (2020). Galuh Dari Masa ke Masa. Pemerintah Kabupaten Ciamis
- Herlina, Nina. (2025). Analisis Historis Tentang Pasunda Bubat. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora. 7. 200-208.
- Padmawijaya, R & Khodijah, S. (2019). Kearifan Budaya Sunda dalam Peralihan Kepemimpinan Kerajaan Sunda di Kawali Setelah Perang Bubat. Jurnal Artefak, 2(2).
- Purwanto, Heri. (2023). Pararaton. Javanica
- Riana, I Ketut. (2009). Nagarakrtagama Masa Keemasan Majapahit. Buku Kompas