Ayo Netizen

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Oleh: Malia Nur Alifa
Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)

Minggu-minggu ini dunia sejarah kota Bandung sedang digegerkan oleh hilangnya dua artefak peninggalan bersejarah. Dua buah arca yang selama ini disimpan di Kebun Binatang Bandung telah raib. Dua buah arca tersebut adalah arca Durga dan arca Agastya, namun tidak ada data mengapa kedua arca ini bisa berada di kawasan Kebun Binatang Bandung yang beberapa waktu lalu melalui polemik panjang.

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung. Konon kedua arca Ganesha tersebut memang telah ada saat ITB masih bernama Technische Hoogeschool (THS), dan kedua arca Ganesha tersebutlah yang menjadi inspirasi lambang kampus ITB. Catatan foto lama tahun 1925 menunjukkan adanya arca Ganesha yang berdiri di atas lingga di kawasan Dago.

Berjalan agak ke utara dari ITB kita pun akan menemukan sebuah lingga dan yoni di rimbunnya pepohonan Babakan Siliwangi. Pada zaman penjajahan Belanda kawasan Babakan Siliwangi dikenal dengan kawasan Lebak Gede, sebuah sabuk hijau yang tak mungkin terpisahkan dari kota Bandung. Kawasan Babakan Siliwangi dibentuk oleh sungai Cikapundung puluhan ribu tahun yang lalu, dan kawasan Lebak Gede dianggap sebagai warisan alam bagi kota Bandung. Hingga kini kawasan Babakan Siliwangi terkenal sebagai hutan kota. Namun, sebetulnya kawasan hutan kota ini telah digagas sejak 1920-an.

Dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya sang kuncen Bandung, Haryoto Kunto dituliskan bahwa pada tahun 1950-an ada tiga orang budayawan Sunda yang bekerja sama dengan orang Swiss yang bernama W. Roth Pletz. Ketiga budayawan itu adalah Sursa yang merupakan seorang sastrawan, M.A. Salmun pun seorang sastrawan dan Suharmin yang merupakan seorang arsitek. Mereka adalah orang-orang yang melacak sejarah di kawasan perbukitan Ciumbuleuit dan Hegarmanah. Mereka menemukan keramik-keramik porselin Cina, peralatan-peralatan upacara ritual yang terbuat dari perunggu dan perhiasan manik-manik. Banyak warga lama Ciumbuleuit mengatakan, kemungkinan yang didapatkan para peneliti itu adalah sisa-sisa dari sebuah mandala yang bernama Campaka Warna. Namun, hasil penelitian mereka kini sulit sekali dilacak, seperti ada pihak yang hendak menyembunyikan sesuatu.

Masih dari buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, karya Haryoto Kunto, disebutkan bahwa kawasan Universitas Pendidikan Indonesia dahulu merupakan sebuah perkampungan tua. Maka dari itu pada saat pembangunan kembali Villa Isola menjadi Bumi Siliwangi banyak ditemukan batuan-batuan obsidian. Bahkan ketika pemilik Villa Isola yang bernama Berrety meresmikan Villa tersebut di 1933, ia memutarkan sebuah film dokumenter sejarah dari Villa Isola dan terdapat keterangan dalam film bahwa lahan yang dipakai untuk pembangunan Villa Isola adalah sebuah perkampungan tua yang telah terbengkalai.

Terus menuju ke utara kita akan menemukan kampung Cirateun yang dituliskan dalam catatan seorang Preanger Planter yang bernama Andies De Wilde yang diterbitkan tahun 1829. Dalam catatan perjalanannya tersebut disebutkan bahwa untuk mendaki hingga Tangkuban Parahu, kuda-kuda tidak dapat ikut hingga atas, namun mereka menitipkan kuda-kuda mereka di perkampungan terakhir sebelum menuju Tangkuban Parahu di kawasan Cirateun. Dan pada masa riset saya di 2022 saya menemukan banyak makam tua di sana, menurut warga sekitar perkampungan Cirateun adalah salah satu perkampungan tua di Utara Bandung.

Salah satu gedung bersejarah di Lembang yang luput dari pantauan kita selama ini pun diberi nama “Gedong Arca” karena tepat di teras depannya terdapat satu buah arca Durga yang terpajang rapih. Menurut penuturan warga sekitar, arca tersebut ada ketika rumah tersebut dibangun, dan diperkirakan dibangun pada tahun 1922. Sayangnya, halaman luas dari Gedong Arca tersebut kini disewakan dan dibangun sebuah minimaret terkenal, dan sayangnya arca Durga itu pun hilang, menurut kabar di lapangan kemungkinan diambil oleh seorang kolektor.

Di timur Lembang kita masih dapat menemukan situs Batu Lonceng yang masih lestari dan terjaga hingga kini. Situs Batu Lonceng adalah sebuah batu yang berbentuk seperti lonceng yang ditemukan pada abad ke-16. Batu tersebut diyakini terkait dengan legenda Ciungwanara (Sunan Dalem Margataka) dari kerajaan Pajajaran yang berfungsi sebagai penanda apabila akan datang sebuah bencana besar. Situs Batu Lonceng adalah sebuah prasasti atau alat peringatan dini, mengingat lokasinya yang berada di sektor timur patahan Lembang.

Satu lagi temuan adalah batu besar yang diduga juga berasal dari abad ke-16 yang berada di kawasan bukit Propelat, Lembang. Batu besar itu dipercaya sebagai tempat beribadah warga kerajaan Saunggalah. Sebuah mandala yang awalnya berdiri di kawasan Kabupaten Kuningan sekarang. Batu besar itu dipercaya sebagai simbol kerukunan umat beragama di masa mandala Saunggalah tersebut. Namun, sayangnya karena kawasan bukit Propelat ini pernah masuk ke dalam konten-konten horor, baik itu di YouTube atau di televisi swasta, yang membuat bukit Propelat ini justru lebih dikenal sebagai kawasan urban legend di Lembang.

Begitu banyak misteri masa lalu di utara Bandung yang ada di depan mata kita, namun minim sekali informasi. Sekarang kembali menggeliat sekadar mengingatkan kita semua manusia masa kini bahwa di masa lalu pernah ada peradaban yang maju dan ini sebagai pecut bagi kita semua untuk terus maju mengisi peradaban dengan nilai-nilai kemuliaan yang menjunjung kejujuran, sehingga peradaban lama ini dapat menjadi cerminan untuk segala tindakan kita sekarang. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam