Ayo Netizen

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Oleh: Kin Sanubary
Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Semangat intelektual dan keberanian berkarya yang diwariskan Remy Sylado kembali bergema dalam forum budaya yang digelar Majelis Tangga Batu Universitas Islam Bandung (UNISBA), Minggu (12/7/2026), di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung.

Mengangkat tema "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir", kegiatan ini menghadirkan dramawan dan seniman Boy Worang sebagai narasumber, dipandu moderator Aura, dan ditutup dengan pembacaan puisi oleh komunitas Bandung Berpuisi.

Forum ini tidak sekadar mengenang Remy Sylado sebagai penyair, novelis, musikus, aktor, dan budayawan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya keberanian berpikir kritis dan kebebasan berekspresi di tengah derasnya arus informasi dan budaya instan yang dihadapi generasi muda.

Dalam pemaparannya, Boy Worang mengisahkan kedekatannya dengan Remy Sylado yang terjalin sejak dirinya menempuh pendidikan di Akademi Sinematografi AKSOSNI, tempat Remy mengajar sebagai dosen. Hubungan guru dan murid itu kemudian berkembang menjadi persahabatan yang erat. Selama bertahun-tahun Boy kerap mendampingi Remy dalam berbagai aktivitas kesenian, bahkan dipercaya menjadi juru bicara sekaligus ikut merawat warisan pemikiran dan karya-karyanya. Sejak Remy wafat pada 2022, Boy aktif memperkenalkan kembali gagasan-gagasan sang maestro melalui berbagai forum budaya.

Menurut Boy, bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi. Bahasa adalah ruang kebebasan berpikir sekaligus medium untuk mempertanyakan berbagai kemapanan. Melalui puisi mbeling, teater, musik, novel, hingga tulisan-tulisannya di media massa, Remy menunjukkan bahwa kreativitas lahir dari keberanian membaca realitas dengan sudut pandang yang berbeda.

Boy menegaskan, pembangkangan yang diwariskan Remy bukanlah sikap menolak aturan secara serampangan, melainkan keberanian intelektual yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap aturan sebelum melahirkan cara pandang yang lebih kreatif, kritis, dan merdeka.

Dramawan Boy Worang menjadi pembicara utama dalam diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA. (Foto: Kin Sanubary)

Pesan itu dinilai semakin relevan di era digital ketika banyak orang lebih sibuk mengejar popularitas dan validasi media sosial. Di tengah situasi tersebut, keberanian untuk membaca, merenung, berdialog, dan membangun pemikiran secara mandiri menjadi nilai yang semakin penting.

Remy juga membuktikan bahwa kritik tidak selalu disampaikan dengan kemarahan. Humor, satire, permainan bahasa, puisi, maupun teater dapat menjadi medium yang efektif untuk menggugah kesadaran publik. Bagi Remy, sastra adalah ruang dialog yang menghidupkan daya kritis sekaligus memperluas cara manusia memandang kehidupan.

Suasana forum semakin hangat saat sesi tanya jawab berlangsung. Menurut Boy Worang, antusiasme peserta sangat tinggi. Mahasiswa, dosen, dan anggota Studi Teater UNISBA (STUBA) aktif berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai sosok serta pemikiran Remy Sylado. Banyak di antara mereka mengaku mengagumi Remy karena keluasan wawasan, keberanian berpikir, dan kreativitasnya yang melampaui zamannya. Bagi generasi muda yang hadir, Remy merupakan figur intelektual yang mampu memadukan bahasa, sastra, musik, teater, dan kebudayaan menjadi karya-karya yang menginspirasi keberanian berpikir kritis dan berkarya secara autentik.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan puisi oleh komunitas Bandung Berpuisi yang menghadirkan kembali nuansa estetik khas karya-karya Remy Sylado. Penampilan tersebut menjadi penutup yang puitis sekaligus menegaskan bahwa sastra tetap memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Melalui Majelis Tangga Batu, UNISBA berupaya menghadirkan ruang diskusi budaya yang bukan hanya mengenang seorang seniman besar, tetapi juga menumbuhkan semangat berpikir kritis, keberanian berbahasa, dan kebebasan berkarya di kalangan generasi muda.

Warisan terbesar Remy Sylado, pada akhirnya, bukan semata-mata deretan karya yang ditinggalkannya, melainkan keberanian untuk terus mempertanyakan, mencipta, dan menjaga kebebasan berpikir sebagai fondasi masyarakat yang kritis, kreatif, dan berkeadaban. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam