Sebuah momen pada tanggal 14 Juli tahun 1789 adalah awal bagi negara Prancis membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama yaitu perubahan pemerintahan dari kerajaan atau monarki kepada republik. Ketika tanggal tersebut rakyat Prancis menyerbu Penjara Bastille di Paris, sebuah penjara yang menjadi simbol kekuasaan absolut Raja Louis XVI.
Revolusi tersebut tidak hanya mengubah Prancis dari sebuah kerajaan menjadi republik, tetapi juga menyebarkan Liberté, égalité, fraternité" atau Kebebasan, persamaan dan persaudaraan ke seluruh dunia, termasuk ke wilayah Nusantara yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Sejak penjara Bastille diserbu oleh rakyatnya, Prancis terus menerus mengalami perubahan besar yang populer disebut Revolusi Prancis.
Kondisi Revolusi Prancis telah merubah juga peta kolonialisme dimana Belanda yang sebelumnya menjajah Indonesia harus menerima kenyataan jatuh ke dalam kekuasaan Prancis maka otomatis wilayah Indonesia menjadi milik Prancis. Sementara itu pasukan Inggris sedang melakukan penguasaan wilayah Indonesia namun Pulau Jawa belum terambil sehingga menjadi masalah bagi negara Prancis untuk mempertahankannya dari serbuan Inggris. Akhirnya Prancis mengirim Herman Willem Daendels untuk menjaga Pulau Jawa dari serbuan Inggris. Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda selama tahun 1808-1811.
Salah satu ide besar dari Daendels adalah membuat jalan yang sangat panjang yaitu Jalan dri Anyer ke Panarukan atau dari Pulau Jawa bagian Barat sampai ke bagian Timur sepanjang 1000 km. Salah satu bagian jalan itu melewati Kota Bandung sekarang sekitar kawasan jalan Asia Afrika atau monumen nol km Bandung. Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.
Di Jawa Barat jalan tersebut yaitu melewati Jakarta – Bogor – Cianjur – Bandung – Cadas Pangeran -Majalengka – Cirebon dan Jawa Tengah. Sedangkan di Daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Asia Afrika - Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang – Cirebon dan seterusnya.
Seperti diukutip dari berbagai sumber, seusai meresmikan pembangunan jembatan sungai Cikapandung yang baru selesai dibangun pada tahun 1810, Herman Willem Daendels dan Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah II berjalan kaki ke arah timur. Sampai di suatu tempat yang saat ini adalah depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat, Herman Willem Daendels berhenti sambil menancapkan tongkat kayu dan berkata ”zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” yang artinya coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota. Di tempat itu sekarang ada sebuah tugu yang menyatakan tanda nol kilometer Bandung.
Tidak lama kemudian, Bupati Wiranatakusumah II menerima surat keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan kota kabupaten ke tempat Daendels menancapkan tongkat kayu tersebut. Tanggal surat tersebut dikirim yaitu 25 September 1810 sekaligus menjadi tanggal lahirnya Kota Bandung. Sementara tempat tongkat kayu itu ditancapkan kemudian dikenal sebagai titik nol km Bandung. Bangunan tugu tak terlalu besar. tingginya sekitar 50 sentimeter dan berdiri berdekatan dengan monumen mobil setum kuno atau stoomwals.
Tugu nol kilometer Bandung merupakan salah satu ikon bersejarah yang berada di pusat Kota Bandung. Lokasinya terletak di Jalan Asia Afrika, dekat dari Alun-Alun Bandung dan Gedung Merdeka. Tugu ini menjadi tanda penting bagi pusat Kota Bandung sekaligus saksi perkembangan kota dari zaman ke zaman. Karena letaknya yang strategis dan penuh histori, tempat ini sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Ketika berada di Tugu nol kilometer Bandung, pengunjung dapat menikmati suasana kawasan bersejarah yang penuh dengan nilai budaya. Di sekitar tugu terdapat berbagai bangunan peninggalan masa kolonial Belanda atau Art Deco yang masih terawat dengan baik seperti Hotel Savoy Homann, Gedung CKC atau Central Kantoor voor de Comptabiliteit dan Gedung Merdeka KAA. Arsitektur bangunan yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta sejarah dan fotografi. Banyak wisatawan yang mengabadikan momen dengan berfoto di depan tugu dan juga di sepanjang Jalan Asia Afrika.
Selain menikmati keindahan kawasan bersejarah, pengunjung juga dapat berjalan kaki menyusuri trotoar yang nyaman sambil menikmati suasana kota. Pada akhir pekan, kawasan ini sering ramai oleh masyarakat yang berolahraga, berkumpul bersama keluarga, atau mengikuti berbagai kegiatan seni dan budaya seperti yang baru saja digelar Festival Asia Afrika 2026 berlangsung pada 10–12 Juli lalu. Kehadiran pedagang makanan khas Bandung juga menambah daya tarik wisata di lokasi tersebut.
Tugu nol kilometer Bandung tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarana edukasi. Pengunjung dapat mempelajari sejarah Kota Bandung, terutama peran kawasan Asia Afrika yang pernah menjadi lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Informasi mengenai sejarah tersebut dapat ditemukan melalui berbagai papan informasi dan bangunan bersejarah di sekitarnya.

Dengan suasana yang asri, nilai sejarah yang tinggi, serta akses yang mudah dijangkau bahkan bus Bandros pun selalu berhenti dulu di sini, Tugu nol kilometer Bandung menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Tempat ini cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan kota sekaligus menambah wawasan tentang sejarah dan budaya Bandung. Berkunjung ke Tugu nol kilometer Bandung bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, berkesan, dan bermanfaat.
Revolusi Prancis telah mempengaruhi dunia termasuk Kota Bandung khususnya ketika Daendels berkuasa, namun nasib berkata beda. Maksud hati ingin mempertahankan Pulau Jawa dari serbuan Inggris tetapi gagal maka secara auto tahun 1811 wilayah Indonesia menjadi milik Inggris. Dengan demikian berakhir pula penguasaan Indonesia oleh Prancis setelah Revolusi Perancis yang menghebohkan dunia dan berpengaruh. (*)