Ayo Netizen

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Oleh: Juli Prasetya
Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri. Peran ibu sangatlah vital dan strategis dalam konteks pendidikan, dalam hal ini sebagai seorang yang mendidik, membesarkan, merawat, dan membersamai anak dari mereka kecil hingga mereka bisa berpikir sendiri. Betapa peran dan posisi ibu sangat penting dan strategis di sini, karena ibulah yang menjadi madrasatul ula sekolah pertama bagi anak. Maka di sini posisi ibu bisa menjadi katarsis untuk dapat memperkenalkan sekaligus melestarikan bahasa ibunya, dimulai dengan komunikasi sehari-hari dengan bahasa ibu sejak dini.

Sebagai madrasah atau sekolah pertama bagi anak, ibulah yang kemudian menjadi orang pertama yang akan memperkenalkan anak kepada bahasa ibunya sendiri, karena ibulah yang menjadii pendidik dan yang menemani tumbuh kembang anak. Anak memiliki fase-fase perkembangan dalam hidupnya, dan di fase pertumbuhan dan imitasi seharusnya seorang ibu sudah menyisipkan bahasa-bahasa ibu yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari kepada anak-anaknya. Bahasa ibu digunakan tidak hanya sebagai sarana komunikasi semata, tetapi juga sebagai upaya untuk merawat dan memperkenalkan jati diri seorang anak terhadap kebudayaannya sendiri.

Setiap daerah di seluruh Indonesia memiliki bahasa daerahnya sendiri. Tidak kurang dari 700-an bahasa daerah yang ada di wilayah Nusantara. Kita tidak kekurangan keanekaragaman dan kekayaan budaya dan bahasa. Kita hanya kekurangan orang yang mau menggunakannya dan menjaganya. Padahal kita bisa membiasakan diri menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari. Dan orang pertama yang bisa dan memungkinkan untuk melakukan itu adalah; ibu.

Bahasa mencerminkan jati diri dan watak masyarakat penggunanya. Dalam konteks Banyumas misalnya, bahasa Banyumas memiliki entitas tentang kesetaraan, jiwa egaliter, dan demokratis.  Banyumas adalah wilayah yang memiliki identitas sosial dan kultural yang khas. Hal ini Bisa dilihat dari watak masyaraktnya seperti cablaka, cacundan, blakasuta, egaliter, glogok soar dan semblothongan .

Bahasa Banyumas/penginyongan (tapi masih banyak orang-orang yang menggunakan isitlah ngapak) merupakan turunan dari bahasa Jawa Kuna, yang tidak memiliki tingkatan atau perjenjangan bahasa. Hal ini pula pernah dikemukakan oleh salah satu Sastrawan dan Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari. Menurutnya Bahasa Penginyongan berakar pada tradisi masyarakat Jawa Kuna yang sudah dikenal semenjak era Majapahit, bahasa tersebut tidak berkasta, sehingga dikenal sebagai bahasa yang sangat egaliter. Ini yang membedakannya dari bahasa Jawa Surakarta maupun Yogyakarta yang mengenal perjenjangan.

Bahasa adalah organisme hidup yang akan terus tumbuh, berkembang, bahkan jika perlu bertarung dari jaman ke jaman. Sebagai orang yang mengaku berbudaya setidaknya jangan sampai kita melupakan akar dan jati diri kebudayaannya sendiri, galilah, kalau bisa terus pelajari dan perdalam. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya para leluhur terdahulu. Karena jika kesadaran akan jati diri dan berbahasa ibu itu hilang, maka bersiaplah kehilangan sesuatu yang paling penting dari diri kita. Orang-orang yang tidak lagi mengenal asal-usul, akan kehilangan identitas kulturalnya, sekaligus kearifan lokalnya. Mereka akan teraleniasi dari diri mereka sendiri, lupa dari mana mereka berasal, dari mana mereka dilahirkan, dibesarkan, dan ke mana tempat mereka kelak berpulang.

Dan orang pertama yang memungkinkan untuk memperkenalkan kita dengan kebudayaan, bahasa daerah, jati diri kita sendiri sebagai seorang pribadi sekaligus sebuah bangsa adalah seorang perempuan yang bernama ibu. Ibulah orang pertama yang menanamkan di dalam kepala dan hati anak-anaknya tentang kesadaran untuk menggunakan, menjaga, merawat, dan bangga dengan bahasa ibunya.  Ibulah yang memberikan pengetahuan dan teladan pertama kepada anak-anaknya bagaimana menggunakan bahasa ibu sebagai sarana komunikasi sekaligus sebagai sarana berekspresi lahir batin dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam bahasa ibulah kita bisa menemukan ekspresi paling murni, jujur, dan kadang filosofis dari sebuah perasaan di dalam sebuah masyarakat. Dan hanya bahasa ibulah yang bisa mengajarkan kita untuk memahami sebuah adat, tradisi, jati diri, dan kebudayaan di dalam masyarakat tidak hanya secara lahir, tapi juga batinnya. Karena bahasa ibu adalah bahasa tertinggi untuk memahami batin atau jiwa masyarakat penggunanya. Dan sekali lagi, semua itu pertama-tama diajarkan oleh seorang perempuan yang kita sebut sebagai ibu. (*)

Reporter Juli Prasetya
Editor Aris Abdulsalam